Tag


“Yang kamu lakukan ke saya itu, JAHIT!”

“Jahit? Jahat kali, Kak! Tolong ya, itu ada saltik. Masa situs sekelas Selipan bisa publish artikel yang salah ketik”

Begitulah kiranya komentar yang muncul ketika pembaca pertama kali membaca kalimat di atas, sebuah kalimat fenomenal yang diucapkan Cinta pada Rangga di Ada Apa Dengan Cinta 2 (2016). Tapi, pendapat kamu akan berubah setelah menonton film Indonesia terbaru, Milly & Mamet.

Berangkat dari dunia AADC

Kehadiran geng Cinta di Milly & Mamet / via youtube.com

Rangga dan Cinta bisa saja idola penonton AADC. Tapi, AADC nggak hanya diisi oleh Rangga dan Cinta. Masih ada karakter lain yang, jika mendapat jatah eksplorasi lebih, mungkin lebih menarik daripada Rangga dan Cinta. Karakter tersebut adalah Milly dan Mamet, yang akhirnya dibuatkan film spinoff-nya oleh Miles Film dan Starvision.

Dan untuk mengarahkan film ini, tongkat penyutradaraan jatuh pada Ernest Prakasa yang tiga tahun berturut-turut berkolaborasi dengan Starvision dalam Ngenest (2015), Cek Toko Sebelah (2016), dan Susah Sinyal (2017). Menariknya, Ernest mampu melanjutkan cerita AADC dengan menghadirkan semesta mereka lewat hadirnya tokoh Maura (Titi Kamal) dan Karmen (Adinia Wirasti).

Konektivitas nyawa AADC dengan film-film yang pernah digarap Ernest pun terasa begitu menyatu. Milly & Mamet tak berusaha terlalu keras untuk membuat penonton tertawa, pun tak mendayu-dayu untuk menjadi drama. Film ini berjalan natural dan apa adanya.

Cerita sederhana namun memikat

via Miles Film

Ide cerita Milly & Mamet sungguhlah sederhana. Kisah pribadi Milly dan Mamet dieksplorasi lebih jauh, mulai dari mereka berpacaran hingga akhirnya menikah dan memiliki satu anak.

Alkisah Mamet yang hobi masak-memasak memiliki impian membangun restoran sendiri, akhirnya harus mengubur impiannya dalam-dalam. Mimpinya terkubur karena ia harus membantu mertuanya (Roy Marten) menjalankan bisnis pabrik konveksi. Begitupun juga dengan Milly yang harus mundur dari pekerjaannya di bank demi fokus mengurus bayi kecilnya, Sakti.

via youtube.com

Lika-liku pasangan muda inilah yang hendak diceritakan Milly & Mamet. Sederhana bukan? Tapi kesederhanaan ini justru menjadi kekuatan utama Milly & Mamet dalam mengantarkan pesannya kepada penonton.

Di film ini, Ernest Prakasa yang juga menulis skenario bersama istrinya, Meira Anastasia, lebih rapi dalam menyusun struktur cerita dibanding ketiga film garapannya dulu. Fokus cerita terhadap kehidupan pasangan muda mampu dieksplorasi oleh Ernest dengan lebih dalam dan hangat.

[infobox title=’Editor’s Pick’]

[/infobox]

Drama dan komedi berjalan saling beriringan, tapi nggak tumpang tindih

Jadi salah aku ya di sini / via youtube.com

Sama seperti film Ernest sebelumnya, Milly & Mamet masih mengusung genre drama komedi keluarga. Istilahnya kalau kamu nonton film genre seperti ini, kamu harus bisa terharu dan juga tertawa.

Untuk urusan membuat tangis, Sissy Prescilla (Milly) dan Dennis Adhiswara (Mamet) diberi tantangan khusus menangani adegan drama. Mulai dari adegan salah paham, kecemburuan, hingga kejadian sehari-hari yang biasanya terjadi di kehidupan rumah tangga.

Tak disangka, Sissy dan Dennis berhasil menaklukkan segala tantangan yang diberikan dan mampu menambah rasa dari karakter Milly dan Mamet sebagaimana di dua film Ada Apa Dengan Cinta.

Mereka juga bisa beradegan mesra nan romantis / via youtube.com

Sementara untuk komedi, Ernest masih melakukan formula yang sama: menghadirkan komika sebagai pemancing tawa. Sama seperti di film lainnya, banyolan yang dilontarkan ada yang berhasil dan ada pula yang terkesan dipaksakan.

Tapi yang patut dipuji dari komika di Milly & Mamet adalah penempatannya memiliki konteks yang jelas. Kehadirannya dijadikan sebagai penguat karakter sang tokoh utama. Ini merupakan kemajuan yang perlu diapresiasi jika dibandingkan dengan Susah Sinyal, yang menempatkan komika minim konteks dan terlalu berlebihan.

Selain komika, Ernest pun mengajak bintang-bintang terkenal untuk menjadi bagian dari komedinya. Hasilnya, dua nama penyanyi Isyana Sarasvati dan Melly Goeslaw bisa dibilang yang paling berhasil menyajikan suguhan komedi dengan tepat.

Bicara juga tentang passion

“Mimpi itu bagi yang bujang, Lex”, ucap Mamet kepada teman kuliahnya, Alexandra (Julie Estelle), yang mengajak Mamet untuk kembali menghidupkan mimpinya membangun restoran.

Kalimat tersebut serasa sindiran sekaligus kenyataan. Mungkin banyak yang menganggap momen pasca-pernikahan akan mengorbankan banyak ego diri, termasuk juga urusan mengejar mimpi. Milly & Mamet pun berusaha memasukkan elemen ini terhadap cerita filmnya.

Diceritakan Mamet menerima tawaran Alex untuk membangun restoran impiannya. Untuk urusan dana, Mamet tak perlu memusingkannya. Pacar Alex, James (Yoshi Sudarso), bersedia menjadi investornya. Wah kok mau-maunya ya dia jadi investor. Ada apaaaaa ya sebenarnya?

Ada apa dengan mereka? / via youtube.com

Satu hal lain yang patut dipuji dari Milly & Mamet adalah ia tak menjadikan passion menjadi raja dalam kehidupan manusia, sebagaimana yang sering didengungkan oleh para motivator. Milly & Mamet cukup mengajak penontonnya untuk berpikir bahwa konsep penerimaan diri jauh lebih perlu diusahakan daripada sekedar mimpi tanpa perencanaan.

Last but not least, Milly & Mamet mengajak kita kembali merenungkan apa arti kebersamaan, kepercayaan, dan hubungan baik. Tak sekedar menghibur, ia juga penuh dengan makna kehidupan. Milly & Mamet bisa disebut sebagai bukti kedewasaan Ernest Prakasa dalam memilih dan memilah unsur drama dan komedi dengan porsi yang seimbang lagi nyaman untuk ditonton.

Nggak percaya? Buktikan sendiri di bioskop!

[infobox title=’Editor’s Pick’]

 

[/infobox]

Iklan