Tag


Tayang berbarengan dengan Aquaman dan Spider-Man: Into the Spider-Verse, bisa dibilang film Indonesia yang satu ini cukup berani. Di saat film Indonesia lain banyak yang dimundurkan jadwalnya ke Januari 2019, ia tetap percaya diri untuk tayang di minggu kedua Desember dan sendirian pula.

Ya, Silam judulnya. Film horor terbaru yang diproduksi oleh Pichouse Films, anak perusahaan dari MD Pictures.

Lalu bagaimana Silam berkisah?

Menggunakan sudut pandang anak-anak

Teman-teman Baskara yang bedebah. Kayaknya mereka harus diberi mata pelajaran PMP!/via youtube.com

Serupa Kuntilanak (2018), Silam menjadikan anak-anak sebagai protagonis utama dalam filmnya. Adalah Baskara (Zidane Khalid) yang menanggung peran protagonis dari Silam. Jika kamu bertanya bocah seperti apa Baskara itu, ia adalah anak yang selalu dimarahi ibunya, Fina (Nova Eliza), tanpa sebab yang jelas.

Jadi kalau Hachi si Lebah adalah anak yang selalu mencari ibunya, Baskara adalah anak yang selalu dimarahi ibunya. Tanpa alasan yang jelas pula. Kasihan…

Anyway, karena ibunya itu suka marah-marah, Baskara hanya memiliki ayahnya yang sudah almarhum sebagai teman bercerita. Apa pun yang kejadian yang dialami Baskara, ia selalu menceritakannya di depan kuburan sang ayah, termasuk peristiwa perisakan pemukulan di sekolahnya.

Saat sekolahnya mengadakan studi tur ke Museum Maritim, ia dikurung oleh teman-temannya di sebuah ruangan di museum tersebut. Konon katanya ruangan itu pernah digunakan sebagai tempat gantung diri. Kenapa mereka mengurung Baskara di ruangan tempat orang gantung diri? Itu karena mereka kesal terhadap Baskara yang nggak percaya hantu. Huff… dasar anak-anak.

Namun sejak saat itu, semuanya berubah bagi Baskara. Ia jadi bisa melihat hantu!

Drama keluarga yang menyentuh namun dilupakan begitu saja

Aktingnya keren anak ini, serius!/via youtube.com

Saya jadi teringat bagaimana A Quiet Place menyuguhkan teror keseraman bukan dari penampakan hantu, melainkan lewat ikatan keluarga yang dihadirkan. Silam sesungguhnya punya potensi melakukan hal yang sama. Itu terlihat dari adegan pembukanya yang memperlihatkan Baskara bicara di kuburan ayahnya. Rasanya saya sendiri hampir mengeluarkan air mata karena adegan tersebut mampu menyentuh siapa pun yang merasa kehilangan sosok orangtua.

Dari adegan pembuka tersebut, Silam bisa saja lebih menggali cerita tentang sisi keluarga dan psikologis karakter utama yang seorang anak kecil. Sayang, Silam seperti setengah hati untuk bergerak ke arah sana.

Kehangatan keluarga Anton yang bikin Baskara iri sekaligus aneh. Lho kok?/via youtube.com

Di tengah film, Silam memang memperkuat drama keluarga dengan menghadirkan keluarga Anton (Surya Saputra) yang hidup harmonis dengan istri dan kedua anak kembarnya. Baskara yang merasa tak disayang lagi oleh ibunya, memutuskan kabur ke rumah Anton yang merupakan saudara kembar ayahnya.

Setelah itu akan ada satu adegan yang patut kamu perhatikan, yakni ketika Baskara curhat pada bibinya, Ami (Wulan Guritno). Curhatannya sendiri berkisar mengenai ibunya dan rasa iri yang ia lihat pada keluarga pamannya. Tapi Zidane, yang baru melakoni debut perdananya, memerankan adegan itu dengan sepenuh hati.

Sayangnya, drama keluarga ini harus terlupakan begitu saja menjelang akhir durasi. Silam malah membelokkan haluan ke film horor kebanyakan yang lagi demen janjian sama setan. Alhasil, drama keluarga yang sudah dibangun runtuh seketika, menjadikan Silam tak bisa lagi menyentuh hati mereka yang menontonnya.

Parade hantu dengan artistik yang maksimal

“Clap your hand, come on!”/via youtube.com

Kehangatan yang dirasakan Baskara di rumah Anton pada akhirnya nggak berlangsung lama. Pasalnya, ia sering diganggu oleh setan yang menghuni rumah Anton.

Bicara hantu-hantu yang dilihat Baskara, Frans Dede V selaku penata artistik sukses menciptakan hantu dengan penampakan yang menyeramkan. Cukuplah untuk membuat bulu kuduk saya berdiri ketika mereka muncul di layar. Meskipun, trik menakut-nakutinya masih sehati dan sejiwa dengan film horor mayoritas: penampakan closeup dan musik yang mengagetkan.

Menarik tapi bukan sesuatu yang baru

Nangis sih pas adegan ini / via Pichouse Films

Cerita tentang anak kecil yang bisa melihat dan atau berteman dengan hantu menjadi ruh utama dalam novel horor yang ditulis Risa Saraswati, termasuk Silam. Meski nggak termasuk dalam Danur Universe, Silam nyatanya tetap memiliki materi yang menarik. Tapi, ketika menonton Silam, materi tersebut jadi nggak terasa original lagi. Dalam pendekatannya, Silam seperti banyak memadukan elemen dari film horor lain semisal The Doll, Mata Batin, hingga Mirror.

Salah satunya terlihat di adegan memasukkan arwah iblis ke sebuah boneka. Padahal sejak awal, boneka tersebut nggak pernah dieksplorasi. Jadi kenapa arwah iblis itu harus dimasukkan ke boneka?

Atau ada lagi adegan kesurupan Nova Eliza yang mirip dengan apa yang juga dilakukan Jose Poernomo pada Celine Evangelista di Ruqyah: The Exorcism. Padahal nih ya, adegan-adegan tersebut justru mereduksi kekuatan horor yang sudah dibangun dengan baik sepanjang film.

Ini bukan cicak-cicak di dinding lho/via youtube.com

Pada akhirnya, Silam nggak terlahir sebagai karya horor yang istimewa. Tapi jika dibandingkan dengan film horor lainnya semisal Tusuk Jelangkung di Lubang Buaya, Arwah Tumbal Nyai, Bayi Gaib, atau Alas Pati; Silam termasuk film horor yang masih dibuat dengan memakai akal sehat.

 

Iklan