Tag

, , , ,


“Mencoba merangkum perjalanan populer seorang Onggy Hianata, film Terbang: Menembus Langit hadir dengan sesekali tawa sesekali haru, namun tanpa benar-benar ada ikatan rasa antar bagiannya”

poster film terbang

     Memiliki impian dan cita-cita adalah hak setiap orang. Setelah itu ada kewajiban yang harus dilakukan yakni mewujudkannya. Achun, seorang bocah Tarakan keturunan Tionhoa, ingin bisa sekolah agar kelak menjadi kaya dan banyak uang. Dipicu oleh keadaan orangtuanya yang hidup serba kekurangan, ia bertekad untuk menjadi pintar. Menjalani masa kanak-kanak hingga remaja di sebuah daerah kecil membuatnya ingin melihat dunia luar.. Selanjutnya bagaimana nasib Achun?

     Achun besar yang terlahir dengan nama Onggy Hianata (Dion Wiyoko) bermaksud pindah ke Surabaya selepas lulus SMA agar bisa kuliah demi impian dan cita-citanya. Keteguhan, keyakinan dan perjuangan seorang Achun tergambar dalam film terbaru Fajar Nugros, TERBANG: MENEMBUS LANGIT.

     Pada periodik pertama yakni masa kecil Achun di Tarakan, kita sudah diberikan gambaran keluarga yang memiliki filosopi yang kuat. Mereka tak memiliki apa-apa tapi mereka saling memiliki satu sama lain. Tidak sulit untuk jatuh cinta pada apa yang tersaji di awal periodik pertama. Setiap kali mereka berkumpul meski hanya untuk sekedar makan bersama, rasa haru dan kangen keluarga mendadak menyelimuti batinku. Sungguh begitu hangat terasa.

     Setiap ada kemauan disitu ada jalan. Terbanglah Achun ke Surabaya atas restu orangtuanya. Achun pun dibantu tinggal sementara di rumah temannya sembari menemukan tempat kost untuk tempatnya tinggal. Tak lama kemudian, Achun menemukan tempat kost yang satu kamar dihuni oleh empat orang. Berkenalan dengan rekan-rekannya yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia seperti Tasikmalaya, Medan hingga Fak-fak (Papua), sebagai awal persahabatannya.

     Kehidupan Achun dan teman-temannya tentu tak berjalan mulus. Dengan berbekal nasihat dari ayahnya (Chew Kin Wah), Achun memulai usaha agar bisa mencukupi biaya kuliahnya. Mulai dari jadi distributor buah apel hingga jualan jagung bakar. Namun bukan film motivasi namanya, jika semua usaha berhasil begitu saja. Nyatanya kegagalan dan kegagalan terus menghampiri Achun.

     “Pada periodik kedua yakni masa hijrahnya Achun ke Surabaya, banyak moment-moment lucu yang dihadirkan. Persahabatan dengan teman sekost-nya hingga interaksi dengan ibu kost (Dayu Wijanto) adalah moment-moment yang membahagiakan”

     Singkat cerita, Achun lulus kuliah dan mulailah Achun pada periodik ketiga di film ini. Dimulai dengan berjualan kerupuk hingga akhirnya datanglah seorang Candra Dewi (Laura Basuki), pegawai salon yang kemudian menjadi istrinya.

     Pada periodik ketiga inilah penceritaan Terbang Menembus Langit mulai goyah. Naskah buatan Fajar Nugros seakan betul-betul terbang bebas menembus langit. Lupa harus kapan dan bagaimana untuk turun kembali. Seketika mereka ditimpa masalah denga raut muka marah lalu pindah ke bagian yang mesra seolah tak terjadi apa-apa dan persoalan selesai begitu saja.

     Fajar Nugros pun melupakan point utama di periodik ketiga ini. Saya tak pernah betul-betul tahu apa yang dilakukan oleh Onggy Hianata. Motivator kah, inspirator, public speaker atau pelaku MLM seperti yang diceletukkan oleh penonton ibu-ibu sebelah saya? Bagaimana ia bekerja, siapa yang menggaji ditambah surat-surat misterius yang hanya selesai dengan raut muka kecewa, tak pernah dengan jelas apa tujuan dan motivasinya.

     Beruntung Terbang Menembus Langit memiliki Dion Wiyoko dan Laura Basuki yang tampil mengesankan. Lihat adegan Achun makan kerupuk, saat Achun bahagia pun saat Achun pasrah terhadap Tuhannya. Begitu pula Laura Basuki. Peran yang mungkin tak asing baginya. Luapan-luapan emosi dan kasih sayang sebagai seorang istri yang mendukung suaminya (chinese family) berhasil menjadi nyawa sebagaimana yang ia pernah suguhkan di Love & Faith.

“Jelas, Terbang Menembus Langit adalah kesempatan emas melihat performa Dion Wiyoko dalam karir aktingnya sebagai pemeran utama setelah sebelumnya bermain apik di Sundul Gan”

     Patut diapresiasi dari film ini adalah set dan desain produksi yang betul-betul menarik. Pemilihan tone warna nya pun sedap dipandang. Ditambah dengan banyaknya detail yang menjadi nyawa utama film ini seperti kerupuk, kompor dan wajan. Jelas, penata artistik betul-betul memperhatikan dengan baik kebutuhan filmnya.

     Sebagai film yang disusun atas cerita nyata seseorang tentu memilik tantangan tersendiri. Bagaimana mengadaptasi kisah puluhan tahun menjadi durasi dua jam adalah hal yang perlu ditaklukkan oleh sutradara dan penulis naskah. Fajar Nugros sudah berusaha keras menyajikan dan memilih cuplikan-cuplikan kisah Onggy Hianata yang mana yang hendak dimasukkan ke dalam film. Hanya tinggal bagaimana kisah tersebut dirangkai dengan rasa bukan sekedar memberitahu apa yang terjadi lalu pindah ke informasi lainnya.

     Yang tak kalah menarik dari penyutradaraan Fajar Nugros adalah menyisipkan karakter orang gila di film-filmnya sebagai penguat maksud. Pernah dilakukan di Moammar Emka’s Jakarta Undercover, hal ini dilakukan kembali di film Terbang. Sayangnya, narasi – narasi yang dilontarkan kali ini cenderung hanya pemanis dan lewat begitu saja. Bahkan, narasi-narasi kebhinekaan yang disusun sebagian besar tak pernah tersampaikan sebagaimana mestinya.

     Maka serupa Merry Riana: Mimpi Sejuta Dollar, setelah melewati berbagai perjuangan film produksi Demi Istri Production ini menutupnya dengan mudah yakni menampilkan sosok nyatanya dengan berbagai narasi pelengkapnya. Bukan suatu akhir yang mengesankan.

 

Iklan