Tag

, , ,


Poster Cinta 2 Kodi

     Sejauh yang saya tahu, Asma Nadia (penulis buku) mengawali karirnya di layar lebar lewat film Emak Ingin Naik Haji (2009). Film pertamanya ini bisa dibilang sebagai pembuka karir terlebih Emak Ingin Naik Haji dinobatkan sebagai Film Terpuji Festival Film Bandung 2010. Dua tahun berselang, ceritanya kembali difilmkan dalam Rumah Tanpa Jendela (2011). Kedua film ini, membuat saya tertarik mengikuti perjalanan seorang Asma Nadia. Hingga akhirnya saya jatuh cinta pada Assalamualaikum Beijing (2014) dan selalu menantikan karya-karya selanjutnya.

     Tak bisa dipungkiri, sukses ratusan ribu penonton Assalamualaikum Beijing kian melambungkan nama Asma Nadia di industri perfilman nasional. Film-film selanjutnya meski secara umum kualitasnya bagus, namun ceritanya cenderung stagnan. Februari 2018 akhirnya tayang juga film Bunda Kisah Cinta 2 Kodi (selanjutnya Film Bunda) yang diadaptasi dari novel karya Asma Nadia. Bagaimana filmnya?


Film Bunda bercerita perjuangan Tika (Acha Septriasa) dalam mempertahankan keutuhan rumah tangganya selepas suaminya, Farid (Ario Bayu), memutuskan untuk pulang ke rumah orangtuanya dan mengikuti keinginan ibunya untuk menikahi wanita lain. Saat itu Tika tengah mengandung anak keduanya. Ia bekerja sendirian, melahirkan sendirian dan mulai memikirkan bisnis untuk menghidupi diri dan anak-anaknya. Belum ditambah dengan ibu-ibu tetangga yang minta kerjaan padanya. Bikin ruwet aja tuh ibu-ibu kompleks. Heheh

     Usaha yang dirintis Bunda Tika bermula dari 2 kodi. Ia memesan baju muslim kepada orang lain namun hasilnya mengecewakan. Akhirnya setelah perbincangan santai dengan Ncuss (Inggrid Widjanarko) Tika memutuskan untuk membuat produk sendiri. Namanya usaha tentu tidak selamanya berjalan mulus, pasti ada lika-likunya. Film Bunda memang tidak terlalu fokus pada perjalanan bagaimana Tika membangun bisnisnya, tetapi dialihkan pada potret keluarga dalam menghadapi keadaan tersebut. Hal ini yang menjadi salah satu keunggulan Film Bunda karena memiliki konflik yang real dan relate lebih dekat dengan kebanyakan keluarga di Indonesia.

     Film Bunda membawa banyak simbol yang menjadikan film ini berbeda. Pertemuan pertama Tika dan Farid di kereta yang disatukan dengan seekor keong menjadi penanda yang terus dipertahankan oleh penulis skenario hingga akhir film. Entah kenapa meski sudah berkali-kali melihat scene kereta dalam film, tapi kereta tetap memberikan rasa dan warna tersendiri untuk film tersebut.

     Film Bunda juga membuat saya terhenyak, untuk siapakah kita bekerja siang malam, dapat uang banyak jika pada akhirnya kita terancam kehilangan keluarga kita? Bukankah tujuan awalnya untuk kebahagiaan orang-orang yang kita sayangi?

     Digambarkan usaha Tika kian menuai sukses, namun ia seakan lupa di mana ia berpijak seharusnya. Rumah dan kerjaan sudah tak bisa dibedakan. Tika lebih khawatir akan produknya yang dibawa kabur reseller daripada khawatir kehilangan kepercayaan dari anak-anaknya karena tidak bisa lagi bermain bersama. Tika pun lebih peduli akan 2 buah kain yang jatuh di jalan agar bisa kembali daripada menghormati suaminya di depan umum.

     Namun, sikap Tika ini bisa jadi karena ia masih kecewa dengan keputusan Farid yang meninggalkannya saat ia tengah hamil. Meski Farid sudah meminta maaf dan Tika pun memaafkan namun nampaknya bagi Tika (mungkin juga bagi cewek lainnya) memaafkan bukan berarti melupakan. Terbukti Tika mengungkit masalah ini ketika nilai rapor anaknya jelek. Tika pun menyalahkan Farid. Bisa kebayang kan bagaimana jadi cowok yang selalu disalahkan? Selalu diungkit-ungkit kesalahannya padahal udah sujud meminta maaf? Nyesek tahu…

     Pertengkaran demi pertengkaran antara Tika dan Farid justru menjadikan layar bioskop begitu hidup. Kolaborasi mereka berdua sangat apik dan membuat saya yakin mereka adalah SAH suami istri. Saya sangat menikmati sekali setiap mereka berdua muncul di layar. Jika mengambil filosopi, akting adalah mengolah jiwa dan raga bukan semata-mata berpura-pura, maka Film Bunda adalah kesempatan emas melihat Acha Septriasa dan Ario Bayu sedang tidak berpura-pura.

     Kredit lebih juga perlu disematkan pada 2 bocah yang berperan sebagai anak-anak mereka. Ade dan Kakak begitu mereka disebut. Pengkarakteran mereka berdua cukup berhasil meski masih banyak hal yang bisa dieksplorasi lagi. Puncaknya adalah ketika mereka melarikan diri dari Bunda saat naik kereta. Bunda pasti pusing dong, nyari mereka kesana – kemari. Bunda pun lunglai, kurus kering dan pucat pasi. Inilah seorang ibu, secerewet apa pun pada anak-anaknya, ia tetaplah memiliki kasih yang tak tergantikan. Beruntung lho, Tika punya suaminya seperti Farid yang baginya tak sempurna tapi terlihat sempurna karena sikapnya dalam menghadapi berbagai persoalan. Sampai di sini, tidak perlu Fahri untuk menjadi role model seorang suami, cukup Farid saja. Eeeaaa.

     Pada akhirnya melihat Film Bunda memberikan inspirasi bahwa saling memahami antar anggota di keluarga itu penting. Sebagaimana pun badai menghadang, masing-masing anggota semaksimalkan mungkin mempertahankan rumah tangganya. Bunda yang pada akhirnya sadar bahwa ia salah, mencoba mencari tahu apa yang ada di kolong kasur tempat Kakak tidur. Lalu datang Ade dan Kakak didampingi Farid. Saya nggak bisa bohong, adegan menjelang ending di kolong kasur ini bikin saya terharu. Sweet dan “dapet banget” emosinya.

     Harta yang paling berharga adalah keluarga dan rumah adalah sebaik-baik tempat pulang. Jangan sekali-kali membawa kerjaan ke dalam rumah, jika tak ingin kehilangan rumah itu sendiri.


Baca juga Review Film :

Cinta Laki-laki Biasa | Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea | Surga yang Tak Dirindukan 2