Tag

, , ,


coverpancasila

     Akhir-akhir ini Indonesia diguncang dengan isu-isu yang mengarah pada perpecahan bangsa. Mulai dari isu makar, hate speech (ujaran kebencian) di sosial media yang semakin riuh hingga isu pembubaran salah satu ormas (organisasi masyarakat) yang ditengarai ingin mengubah ideologi Pancasila dengan ideologi yang mereka kehendaki. Pancasila sebagai ideologi bangsa tentunya menjadi dasar bagi siapapun yang berada dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Menyikapi hal ini penting sekali sosialisasi dan edukasi mengenai Pancasila.

     MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) RI adalah salah satu lembaga tinggi negara yang memiliki peranan penting dalam sosialisasi Pancasila. Mungkin mudah jika kita hanya menghafal 5 kalimat yang terdapat dalam Pancasila namun yang menjadi tantangan adalah bagaimana mempraktekkan nilai-nilai Pancasila tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

     Banyak medium yang dapat digunakan untuk sosialiasi dan edukasi mengenai nilai-nilai Pancasila. Film adalah salah satunya. Di era kemajuan teknologi sekarang ini, film merupakan salah satu media paling efektif dalam melakukan edukasi, terlebih saat ini Film Indonesia sedang mengalami kemajuan yang cukup pesat. Beberapa sineas pun sudah banyak yang memproduksi film yang di dalamnya terdapat nilai-nilai Pancasila. Berikut beberapa nilai yang bisa dipelajari melalui film Indonesia.

Toleransi

     Jika secara sederhana toleransi diartikan saling menghargai dan saling menghormati, maka toleransi ini dapat diaplikasikan dalam semua aspek kehidupan. Namun demikian, toleransi seringkali erat kaitannya dengan kehidupan beragama.

     Dalam kehidupan beragama toleransi dibagi menjadi dua bagian yakni toleransi antar umat beragama dan toleransi antar umat seagama. Sila pertama Pancasila mengatakan “Ketuhanan Yang Maha Esa“. Artinya setiap warga negara berhak menjalankan ajaran agamanya masing-masing tanpa tekanan dan tanpa paksaan. Hal ini pun dijamin oleh negara.

     Dalam keberagaman beragama ini, sebagai warga negara tentu perlu menghormatinya. Film Tanda Tanya (2011) karya Hanung Bramantyo adalah salah satu masterpiece Film Indonesia yang memotret toleransi antar umat beragama. Konsep yang dihadirkan dalam film ini adalah bagaimana kita menghargai keyakinan yang dipeluk oleh seseorang.

     Sebuah keyakinan tidak untuk diperdebatkan, namun dalam hubungan muamalah (baca: kemanusiaan) kita wajib bekerjasama. Masih dalam film Tanda Tanya, terlihat sekali bagaimana seorang Menuk (Revalina S. Temat) yang bekerja di sebuah restoran yang menyediakan babi milik Koh (Henky Soelaeman) atau bagaimana barisan banser NU (Nahdilatul Ulama) menjaga malam saat Misa Natal.

     Dalam Islam sendiri kerap terjadi perbedaan pendapat terutama terkait urusan fiqih (ibadah). Misal Qunut atau tidak Qunut, Maulid atau tidak Maulid hingga persoalan menentukan awal Ramadhan dan jumlah rakaat salat Tarawih. Dalam Mencari Hilal (2015), dikisahkan perbedaan pendapat antara ayah (Deddy Sutomo) dan anaknya (Oka Antara) dalam memandang suatu persoalan. Perjalanannya memberikan pelajaran bagaimana kita harus saling toleransi antar umat seagama selama masalah yang diperdebatkan bukanlah pada masalah tauhid (keesaan Allah).

     Bid’ah Cinta (2017) pula turut memotret kehidupan suatu kampung yang orang-orang didalamnya terdapat perbedaan fiqih. Film ini akhirnya memberikan solusi untuk tetap saling menghargai.

Inilah nilai-nilai toleransi yang harus dikedepankan warga negara Indonesia yakni menghargai dan menghormati keyakinan masing-masing bukan saling meleburkan akidah.

Bela Negara

     Cinta tanah air juga salah satu wujud dari Pancasila. Bela negara adalah menjadi hal yang utama. Sesungguhnya bela negara tidak harus dilakukan dengan perang. Hal terkecil adalah dengan kita berprestasi untuk mengharumkan bangsa. Sering kita mendengar anak-anak Indonesia juara olimpiade dunia. Hal ini juga salah satu wujud bela negara.

     Garuda di Dadaku (2009), Cahaya Dari Timur: Beta Maluku (2014) dan 3 Srikandi (2016) adalah contoh film Indonesia yang mengajarkan bela negara di bidang Olahraga. Yang terbaru adalah Seteru (2017) sebuah film yang menceritakan pelajar SMA yang sering tawuran hingga pada akhirnya berprestasi. Dalam film ini juga diajarkan bagaimana pentingnya persatuan dan kesatuan sesuai sila ke-3 Pancasila, “Persatuan Indonesia“.

    Bela negara juga tentu dilakukan oleh pahlawan-pahlawan kita yang berjuang secara fisik. Tanpa adanya mereka, saat ini tentu kita tak akan hidup serba mudah seperti sekarang ini. Perjuangan para pahlawan sudah banyak dilukiskan dalam film Indonesia baik secara pemikirannya, perjuangannya ataupun riwayat hidupnya. Film – film jenis ini pun kerap merajai nominasi di penghargaan film tanah air. Sebut saja Sang Kiai (2013) yang berhasil meraih Film Terbaik FFI (Festival Film Indonesia) 2013 atau Soekarno (2013) peraih Film Terpuji FFB (Festival Film Bandung) 2014.

    Era saat ini, profesi TNI (Tentara Negara Indonesia) bisa dibilang garda terdepan dalam hal bela negara. Benni Setiawan pernah memotret psikologis seorang tentara di negeri orang dalam film Pasukan Garuda: I Leave  My Heart in Lebanon (2016).

     Pada prinspinya setiap warga negara Indonesia berkewajiban membela negaranya tentunya dengan cara dan kapasitasnya masing-masing.

Keadilan Sosial

     Indonesia terbentang dari Sabang hingga Merauke dengan beragam adat dan budaya. Pemerataan bukanlah lagi menjadi isu baru di negara kepulauan ini. Terutama daerah perbatasan terluar Indonesia yang mungkin rentan terhadap pengaruh dari luar. Di titik inilah peranan negara sangat penting.

     Terhadap isu ini, film Tanah Surga Katanya (2012) cukup gamblang melalukan kritik sosial. Menceritakan perbatasan Kalimantan dan Malaysia, penduduk di sana lebih senang melakukan aktivitas di negeri Malaysia bahkan penduduk lebih terbiasa menggunakan ringgit dibanding rupiah.

     Bicara sila ke-5, “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia“, maka sudah selayaknya seluruh penduduk negeri ini merasakan keadilan dalam berbagai bidang seperti ekonomi, pendidikan dan infrastruktur. Sokola Rimba, Laskar Pelangi, Alangkah Lucunya Negeri Ini hingga Batas adalah beberapa film Indonesia yang memotret isu keadilan sosial di negeri ini.

     Dalam kesempatan diskusi bersama Ma’ruf Cahyono (Sekjen MPR RI) pada tanggal 20 Mei 2017 di Hotel Novotel Bandung, saya mendapatkan banyak ilmu mengenai Pancasila sebagai salah satu pilar kebangsaan. Ma’ruf juga menyampaikan 4 Pilar Kebangsaan yang terdiri dari Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

     Jangan terjebak pada istilah dan pengertian “pilar“nya. Setiap pilar jelas dan tegas memiliki kedudukan tersendiri yakni:

Pancasila sebagai ideologi bangsa
UUD 1945 sebagai dasar negara
NKRI sebagai bentuk negara
Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan bangsa

     Secara pribadi saya mendukung upaya MPR RI untuk terus memberikan edukasi 4 pilar kebangsaan terhadap warga negara Indonesia. Akan sangat bahagia apabila MPR RI juga bersedia mencoba edukasi 4 pilar melalui media film baik berupa video edukasi atau film layar lebar.

     Mengakhiri tulisan ini, saya menghimbau kepada seluruh warga negara untuk tetap menjaga nilai-nilai Pancasila dan sedikit demi sedikit mempratekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Indonesia adalah bangsa yang mandiri dan berdaulat.

Iklan