Tag

,


Cover TAJD

     Setelah melakukan voting di Twitter dan Grup WA Sahabat FFBComm, akhirnya terpilihlah satu film yang akan saya tonton. Sebagian besar merekomendasikan The Autopsy of Jane Doe (selanjutnya TAJD) dibanding The Disappointments Room dan King Arthur. Berangkatlah saya menuju TSM (Trans Studio Mall) untuk menonton TAJD show ke-2 pukul 15.00.

     Dengan durasi 87 menit, TAJD bercerita tentang sesosok mayat gadis muda tanpa identitas diberi sebutan Jane Doe (Olwen Catherine Kelly), ditemukan di sebuah TKP dalam keadaan telanjang bulat dan setengah terkubur di ruang bawah tanah. Sheriff Sheldon (Michael McElhatton) yang saat itu sedang bertugas membawa jenazah tersebut pasangan  ayah dan anak ahli otopsi, Tommy (Brian Cox) dan Austin Tilden (Emile Hirsch). Dalam pemeriksaannya, keduanya menemukan kejanggalan demi kejanggalan yang tak masuk akal hingga menyebabkan mereka terjebak pada kengerian kematian Jane Doe.

     Misteri-misteri kematian Jane Doe diungkap secara intens dan perlahan melalui proses otopsi yang detail. Bagaimana otak dibelah, jantung dikeluarkan, kulit disayat dan sejumlah proses lainnya yang cukup menambah aura menyeramkan. Saya memang tidak pernah melihat proses otopsi secara langsung, sejauh ini hanya mendengar kata “otopsi” dari pemberitaan media terutama terkait kasus kematian/pembunuhan.

     Tommy dan Austin Tilden tampil apik meyakinkan saya untuk tetap menunggu apa penyebab kematian Jane Doe. Hingga mereka menemukan sesuatu di luar akal sehat mereka. Seakan kebingungan menjawab hasil proses otopsi oleh Tommy dan Austin, sang sutradara menjawabnya dengan mistis. Separuh awal yang diisi misteri tiba-tiba pindah ke horor. Perpindahan ini memang mencengangkan (baca: cukup mengecewakan) karena terbilang mainstream.

      Horor yang ada di TAJD adalah perbuatan Jane Doe yang ingin balas dendam. Bagaimana sesosok mayat mampu melakukan ini semua? Apakah ada hubungannya dengan kejanggalan yang mereka temukan? Lalu siapakah Jane Doe sebenarnya?

     Film yang dilabeli 21+ ini tampil  seru nan menegangkan. Dibalut dengan lagu yang membuat bulu kuduk berdiri, penulis tetap tak melupakan sebab-akibat dalam film ini. Banyak momen yang mengejutkan dan saya cukup puas dengan jumpscare-nya.

     Sebagai pecinta film horor/thriller, TAJD masuk dalam list film horor yang layak apresiasi. Masih banyaknya misteri yang tak terungkap dalam TAJD menjadi bahan diskusi tersendiri dan membuka ruang untuk film selanjutnya, entah itu sekuel atau prekuel.

Bukalah Hatimu, Biarkan Matahari Bersinar

Iklan