Tag

, , ,


coverdearnathan

     “Mama udah nggak ada, dan lo bukan pacar gue lagi. Jadi untuk siapa gue siapin masa depan?”

     Kerapuhan seorang anak laki-laki seringkali terjadi saat ia kehilangan wanita yang berarti dalam hidupnya. Nathan, seorang remaja SMA harus merelakan kepergian ibunya karena sakit. Penyebab sakitnya adalah karena Daniel, adik kembarnya Nathan meninggal dunia 2 tahun sebelumnya. Selama itu, ibunya Nathan sering menganggap Nathan sebagai Daniel. Di saat rapuh seperti inilah, ayah Nathan justru pergi dan menikahi perempuan lain. Dear Nathan, sungguh dirimu berada dalam situasi yang sulit.

     Itulah sekilas gambaran tokoh Nathan dalam film terbaru Rapi Films berjudul Dear Nathan. Film yang diangkat dari novel bestseller karya Erisca Febriani ini memang sudah tayang di bioskop sejak tanggal 23 Maret 2017 lalu. Angkat tangan yang sudah nonton?


     Back to Nathan. Situasi yang dialami Nathan, membawa pengaruh pada perangainya di sekolah. Remaja SMA ini sering berantem, jail dan nyebelin murid-murid lain. Hingga tiba datanglah seorang cewek bernama Salma yang membawa Nathan pada dua arti kehidupan, Maaf dan Terimakasih. Namun secara tak langsung, Salma lah yang sebetulnya terbawa pada kehidupan Nathan.

     Salma yang diperankan oleh Amanda Rawles saya kira memberikan suguhan terbaiknya dibanding film-film sebelumnya. Begitupun Jefri Nichol yang didaulat sebagai Nathan. Debut pertama sebagai pemeran utama, Jefri potensial untuk menjadi aktor besar ke depannya. Sebelumnya, Jefri bermain dalam film Pertaruhan bersama Adipati Dolken dan Tyo Pakusadewo. Sayangnya potensinya di film Pertaruhan, tak dimaksimalkan, terkesan hanya tempelan saja. Kesamaan kedua peran Jefri adalah ia berperan sebagai bad boy dan good boy dalam waktu yang bersamaan dengan background kurang kasih sayang orang tua. Untuk peran jenis ini, menurut hemat saya belum ada aktor yang paling pas memainkannya selain Vino G. Bastian. Oleh karenanya saya yakin Jefri adalah the next Vino G. Bastian.

Sekeras-kerasnya niat orang, dia juga bisa capek nunggu jawaban.

     Dear Nathan mengalir kedua arah yakni romansa Nathan dan Salma serta drama keluarga Nathan. Saya menikmati romansa keduanya, juga menikmati drama keluarganya. But, dengan editing dan pembangunan emosi yang kadang cepat dan tak terarah membuat keduanya terasa terpisah. Salah satunya terlihat saat ketika Nathan ingin ibunya mengenali Nathan sebagai dirinya bukan sebagai Daniel. Perubahan yang instan, lalu memaksakan diri kepada ibunya untuk mengakui dirinya adalah Nathan, terlalu cepat. Inilah yang akhirnya menyebabkan ibunya meninggal.

     Kisah romansa Nathan dan Salma tidak terlalu kentara di sini. Kisah mereka yang naik turun akibat salah paham, ada orang ketiga adalah kisah klise dalam film-film remaja Indonesia pada umumnya. Kelebihannya Dear Nathan, ia tidak terjebak pada romantisme lebay yang dipenuhi mimpi dan angan-angan kosong. Romansa mereka tampil apa adanya.

     Hal yang menonjol dan berpotensi menguras emosi justru terletak pada drama keluarganya. Berkali-kali Dear Nathan menunjukkan scene terbaiknya. Saat ibunya meninggal di rumah sakit, saat bertengkar dengan ayahnya ketika rumahnya hendak dijual, pun saat ayahnya menghampiri Nathan ke tempat pelariannya.

     Sebetulnya tak ada yang baru dari Dear Nathan, namun pengarahan Indra Gunawan yang sukses mengarahkan Hijrah Cinta, sama kualitasnya dalam film ini. Indra terlihat lihai menjalin scene demi scene untuk menjawab pertanyaan yang sudah dibangun sebelumnya. Contohnya adalah bagaimana Salma mengetahui namanya Nathan pun bagaimana Indra memasukkan tokoh Aldo berada di antara Salma dan Nathan. Masih ingat adegan Revalina dan Alfie Affandy di jembatan dalam Hijrah Cinta?. Begitulah Indra piawai mengatur lalu lintas emosi dramatik filmnya.

     Dear Nathan dipenuhi kalimat-kalimat slengean khas Nathan. Sejak kemunculan teasernya, “di saat orang lain menganggap gue sebagai sampah, lo anggap gue sebagai manusia“. Kalimat inilah yang membuat saya ringan kaki melangkah ke bioskop, setelah cukup trauma dengan banyaknya film remaja yang bikin mual. Rupanya kalimat-kalimat sejenis itu, banyak dijumpai namun sama sekali tak terkesan “apaan sih?”, semuanya pas-pas saja.

     Ya, Nathan adalah tokoh sentral yang akhirnya mampu menyelesaikan semua masalah dalam hidupnya. Berdamai dengan masa lalu memang lebih baik daripada menyimpan dendam.

     Setelah melalui serangkaian peristiwa, sebuah surat didedikasikan Salma sebagai bentuk kekagumannya. Dear Nathan, inilah perasaan kaku yang bermetamorfosa seperti kupu-kupu. ….. Kalimat selanjutnya? Tonton sendiri di bioskop ya! Yang jelas surat tersebut diakhiri dengan Aku Mencintaimu. *Yeaaah baper yess*.

Dear Nathan pasti akan membuat menyesal mereka-mereka yang saat SMA tak pernah hujan-hujanan bersama pacarnya.

 

Iklan