Tag

, ,


salawaku
Mendapat penghargaan sebagai Film Panjang Bioskop Terbaik di ajang Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2016 juga merajai nomine Festival Film Indonesia (FFI) 2016, tentu membuat saya penasaran akan film ini. SALAWAKU yang akhirnya meraih beberapa piala citra seperti Pemeran Pendukung Wanita Terbaik dan Penata Sinematografi Terbaik tayang reguler di bioskop sejak 23 Pebruari lalu. Di Cinema 21 Bandung hanya diputar di Cihampelas Walk dan bertahan kurang dari seminggu.

     Salawaku mengambil genre road movie dengan latar Pulau Seram Bagian Barat. Banyak alam-alam indah yang tertangkap kamera Faozan Rizal dengan baik. Mulai dari pantai, laut, pasir, sungai dan yang paling menarik perhatian saya adalah air terjun Lumoli. Menonton Salawaku menyadarkan saya bahwa banyak lokasi-lokasi di Indonesia yang cocok untuk dijadikan lokasi shooting, pula menambah rasa cinta saya terhadap alam negeri ini.

     Salawaku adalah nama seorang tokoh anak dalam film tersebut. Diperankan dengan baik oleh Elko Kastanya, Salawaku berusaha mencari kakaknya, Binaiyya (Raihanuun) yang pergi dari kampungnya. Dalam perjalananannya Salawaku bertemu Saras (Karina Salim). Saras pun memiliki kisahnya sendiri. Dengan masing-masing kisah tersebut, perjalanan Salawaku dan Saras pun dimulai.

     Berangkat dari premis pencarian Binaiyya, sesungguhnya film ini pun adalah film tentang mencari kepastian. Subjek yang diangkat adalah wanita. Dua wanita dalam film ini sama-sama mencari kepastian. Dalam salah satu adegan digambarkan bahwa Saras pun menanti kepastian pacarnya untuk segera menikahinya. Kepastian ini selalu ia bawa dan simpan selama perjalanannya bersama Salawaku. Di sisi lain, Binaiyya yang pergi pun sedang berharap kepastian. Kepastian apakah yang ia tunggu?

     Tokoh lain pun hadir menyemarakkan konflik. Ia adalah Kawanua (J-Flow) kakak angkat Salawaku. Ia pun memegang peranan penting dalam kisah wanita dan kepastian dalam film Salawaku. Siapakah sebenarnya Kawanua dan mengapa ia pun ikut dalam perjalanan Saras dan Salawaku.

     Sutradara Pragita Arianegara sangat mampu menjaga tempo dan alur penceritaan dengan baik. Di awal diajak bersenang-senang dengan alam Maluku sembari mengenalkan karakter lalu kemudian mengupas konflik. Cerita yang bergulir memang bisa dibilang biasa saja alias hal-hal yang umum saja. Namun cerita Salawaku mampu mengikat emosi berkat penampilan apik dari hampir seluruh pemainnya.

      Hal yang harus diapresiasi pula adalah benturan perbedaan bahasa/istilah seperti “gokil banget”, “gagal paham”, “balas budi” menambah rasa dari Salawaku. Culture Shock yang ada menyadarkan pula bahwa di saat teknologi berkembang, masih banyak daerah yang belum tersentuh teknologi. Di saat generasi milenial familiar dengan “post, like and comment“, Salawaku untuk difoto saja harus berusaha keras menampilkan senyum terindahnya.

     Jika film diartikan sebagai media promosi wisata, Salawaku bisa dikatakan berhasil. Namun detail-detail kecil masih belum terperhatikan dengan baik. Salah satunya, adalah handphone Saras. Tidak ada adegan nge-charge namun HP nya bisa bertahan selama seharian penuh. Terlebih sebelumnya sudah sempat terendam air.

      Finally, Salawaku adalah film penting untuk ditonton dan diapresiasi. Bahwasanya dalam alam indah yang Tuhan ciptakan, masih ada makhluk lain berada dalam ketidakpastian, terutama wanita!

Iklan