Tag

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


cover-catat-iv

     Seharusnya tulisan ini diselesaikan sebelum saya menyusun 16 Film Indonesia Paling Keren 2016. Namun, tak apa. Untuk melengkap 3 seri sebelumnya, maka tulisan ini pun tetap harus publish. Sebelumnya silakan baca dulu ya 3 seri tersebut.

Catatan Film Indonesia Triwulan I, II dan III 2016.

Ibu

     Berbicara sosok ibu, tentu dia adalah sosok manusia yang paling kita cintai. Ade Firman Hakim dan Meriza Febriani menunjukkan cinta pada ibunya dengan rajin sekolah dan terus berupaya menggapai cita-citanya. Sedikit over dramatic, kisah mereka berhasil menjadi tontonan audio visual yang memikat dalam Ibu Maafkan Aku. Tentunya dibantu pula oleh penampilan keren Christine Hakim.

     Jika Christine Hakim memiliki anak yang pintar dan sudah besar pula, lain dengan Atiqah Hasiholan. Meski memiliki karir yang bagus, ia harus menghadapi kenyataan putra kecilnya menderita disleksia. Wonderful Life berhasil menyajikan tontonan yang juga dramatik, lebih menarik karena dikemas secara road movie.

     Konsep road movie, diadopsi pula oleh seorang ibu bernama Cut Mini dalam Me vs Mami. Meski begitu, film ini lebih mengedepankan sisi komedinya. Ditemani anaknya, Irish Bella, petualangan Cut Mini di Minangkabau cukup menarik untuk diikuti.

     Dari Minangkabau pindah ke Garut. Aurelie Moeremans sejak kecil harus hidup di yayasan karena kedua orangtuanya meninggal saat kecelakaan. Dengan kasih sayang Nia Daniaty sebagai ibu yayasan, Aurelie pun berhasil meraih cita-citanya menjadi dokter dalam Gelas-Gelas Kaca.

Horror/Thriller/Action

     Pernah melintasi Jalan Siliwangi Bandung? Konon katanya tempatnya angker ya? Ada sebuah boneka yang pada akhirnya membuat kehidupan Denny Sumargo dan Shandy Aulia diteror. Semua terlukis cukup baik dalam horror mixed thriller, The Doll. Selain The Doll, ada pula petualangan Mentari de Marelle dalam Rumah Malaikat. 2 film horror ini tentu kualitasnya lebih baik daripada horor satu lagi yang saya tonton, Missing You.

     Jika pada triwulan III, kita disuguhkan oleh film laga yang mengecewakan, Headshot hadir untuk mengobati itu semua. Namun Headshot tak sendiri, ada #66 yang menemaninya. Meski tak sebagus Headshot (jauh malah), #66 memiliki suguhan laga di akhir film yang keren juga, meski di paruh awal memusingkan.

Acha Septriasa, Marathon

     Menjadi artis bomb sex asal Sukabumi, Acha sukses memainkan perannya dalam Shy Shy Cat. Namun begitu, Acha sangat sulit menemukan peran karena sudah dicap sebagai artis esek-esek. Acha pun mulai menjajal pilihan lain. Akhirnya ia memutuskan menjadi tour guide seorang Fedi Nuril di pulau Buton dalam Barakati. Bersamanya menemukan misteri apakah Gajah Mada berasal dari Buton.  Acha pun melakoni perannya sangat baik. Mendapat harta karun yang begitu banyak, membuat Acha berhasil keliling Amerika. Tak tanggung-tanggung Acha mengajak Abimana Aryasatya, Nino Fernandez, Hannah Al-Rashid hingga Boy William untuk melihat Bulan Terbelah di Langit Amerika. Di sisi lain, penyanyi kenamaan Raisa pun tengah berada di Amerika. Apakah Acha Septriasa akan bertemu Raisa dan Terjebak Nostalgia? Hm, tapi kan Acha belum pernah jadi model video klip Raisa ya.

Ernest Prakasa dan Raditya Dika

     Ada banyak perpecahan di triwulan IV ini. Penyebabnya adalah dua komika yang sama-sama menarik, Raditya Dika dan Ernest Prakasa. Mereka melakukan audisi bersama, Raditya menawarkan Hangout ke pulau antah-berantah sementara Ernest Prakasa menawarkan pengalaman di toko kelontong.

     Audisi pertama, mereka menemui para pemain Ada Apa Dengan Cinta? 2. Setelah berusaha sekuat tenaga, hasilnya adalah Titi Kamal memilih ikut Raditya Dika sementara Adinia Wirasti memilih Ernest karena ia punya cita-cita membuat toko kue sendiri. AADC2 pecah!

     Audisi kedua, mereka mendatangi kediaman pasangan selebritis Gading Martin dan Gisel. Sehabis dipecat dari acara musik, Gading lebih memilih Raditya Dika agar pikirannya tenang. Sementara Giselle, diminta ikut Ernest untuk belajar wirausaha, agar suatu saat jika karirnya sudah menurun di industri entertain, mereka ada aktivitas lain. Pecah? Tapi lebih ke arah kolaborasi

     Audisi ketiga, menghubungi para pemain senior. Surya Saputra dan Mathias Muchus yang menjadi prioritas. Merasa sudah banyak memberikan sumbangsih bagi perfilman nasional, kedua aktor senior ini berpikir lebih baik ikut Raditya Dika untuk bersenang-senang. Ernest kecewa. Mereka pun akhirnya melakukan audisi terpisah.

     Sebetulnya Ernest masih membutuhkan satu aktor lagi. Tidak terlalu senior tapi bukan pendatang baru. Ernest pun nge-Cek Toko Sebelah, dan mulai me-list siapa kira-kira yang bakal di ajak. Ada nama Adipati Dolken, Chicco Jericho, Rio Dewanto dan Dion Wiyoko.

     Adipati Dolken sedang menjalani koas bersama Tika Bravani. Cita-citanya ingin menjadi dokter, meski motivasi awalnya hanya ikut-ikutan Tika Bravani saja, teman dekatnya sekaligus gadis yang ia cintai. Kebersamaan mereka terusik oleh kehadiran dokter Aurelie Moeremans (Gelas-Gelas Kaca). Nah, kisah-kisah mereka diabadikan dalam Catatan Dodol Calon Dokter, meski saya sendiri nggak tahunya dodolnya di mana. Mungkin di Garut!

     Chicco Jerikho dan Rio Dewanto sedang berada di luar negeri. Chicco menemani Raisa pergi ke Amerika sementara Rio Dewanto memutuskan bergabung dengan Pasukan Garuda pergi ke Lebanon untuk menjaga misi perdamaian dunia. Di sana, rupanya Rio Dewanto jatuh cinta sama seorang anak lokal. Namun perlahan tapi pasti, ia harus kembali ke tanah air menemui kekasihnya yang sudah lama menunggunya, Revalina S. Temat. “I Leave my Heart in Lebanon“. Namun apa yang ia dapat ketika pulang ke Indonesia?

     Akhirnya yang tersisa hanyalah Dion Wiyoko. Sebagai seorang freelancer fotografer maka waktu selalu ada. Akhirnya ia pun memutuskan untuk ikut dengan Ernest Prakasa. Kisah Ernest tuntas, bagaimana dengan Raditya Dika?

     Di tempat terpisah, Deva Mahenra merasa kecewa karena tidak diajak oleh Acha untuk jalan-jalan melihat bulan terbelah di langit Amerika. Padahal di Triwulan III, mereka sama-sama mengikat janji setia meski setelah melalui bencana banjir dahsyat Jakarta. Kekecewaan Deva semakin menjadi, tatkala ia mendengar bahwa Acha pergi pula bersama Nino Fernandez. Untuk balas dendam, Deva pun membuat sebuah rencana.

     Deva pun akhirnya merayu Velove Vexia pasangan Nino Fernandez di triwulan pertama agar menjadi pasangannya. Tujuannya agar Acha atau Nino sama-sama cemburu. Berhasilkah? Melenceng dari tujuan, tak disangka romantisme Deva dan Velove menjadi sebuah keseriusan yang mendalam. Deva dan Velove pun akhirnya menjalani rumah tangga yang sakinah dalam Cinta Laki-laki Biasa.

     Jika para dewasa memiliki cinta, remaja pun sama. Iqbal CJR dan Caitlin Halderman menyajikan kisah cinta yang sangat menarik dan segala pernak-perniknya. Orang tua sibuk, nge-band, pertarungan ketua Osis menjadikan kisah mereka real untuk diikuti. Ditambah dengan nyanyian dan musik-musik yang easy listening, Ada Cinta di SMA bikin saya terjebak nostalgia.

     Nah, satu yang terakhir adalah satu yang berani baru. Bukan cinta, komedi, horor, atau jalan-jalan, yang ini lebih berbeda dari yang lainnya. The Professionals hadir dengan kisah kriminal dipadu dengan IT. Suguhan yang cukup menarik. Kerja keras Arifin Putra, Fachri Albar, Lukman Sardi, Melayu Nicole, Imelda Therinne, Richard Kyle, Cornelio Sunny dkk layak apresiasi.

     Udah dulu ah. Selamat tahun baru 2017! Tetap menonton Film Indonesia. – maaf tulisannya ngaco


Boleh kalau mau baca review Cinta Laki-Laki Biasa, The Professionals atau yang lainnya.

Iklan