Tag

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


coverrekor

     Mungkin agak telat untuk berbagi film-film Indonesia yang saya tonton pada triwulan III (Juli, Agustus dan September 2016). Namun daripada hanya menjadi draft, maka dengan segala daya saya mencoba selesaikan pula tulisan ini. Di periode ini, beberapa sejarah dan atau peristiwa penting seperti rekor baru jumlah penonton Film Indonesia hingga perhelatan 29 Tahun Festival Film Bandung sangat sayang jika tidak diabadikan.

Film Lebaran dan Rekor Baru Jumlah Penonton

     Musim lebaran masih diyakini oleh sebagian besar produser untuk menggaet jumlah penonton. Meski mungkin harus berbagi layar dengan film-film lainnya. Total bisa dikatakan ada 5 film Indonesia yang menghiasi lebaran kali ini yang jatuh pada awal Juli 2016. Film Jilbab Traveler Love Sparks in Korea (religi, romance), Koala Kumal (komedi), Sabtu Bersama Bapak (drama keluarga), I Love You From 38000ft (drama remaja) dan Rudy Habibie (drama biografi).

Baca Juga: Analisa Persaingan Film Lebaran 2016

     Berbicara penonton, Rudy Habibie yang tayang lebih awal dari empat film lainnya mendapat angka tertinggi di angka 2 juta lebih sedikit. Di susul oleh Koala Kumal di angka 1,8 juta lalu I Love You From 38000 ft 1,5 juta. Sementara 2 film lainnya justru di bawah 1 juta penonton, Sabtu Bersama Bapak di angka 600rb an, sementara Jilbab Traveler LSIK yang secara tema lebih relate dengan moment lebaran justru mendapat penonton paling rendah di kisaran 300rb an. Why?

Koala Kumal adalah rekor baru bagi Raditya Dika sebagai film terlaris dirinya. Pun I Love You from 38000ft berhasil mengalahkan 2 pencapaian film Screenplay sebelumnya.”

     Jika 5 film tersebut bersaing di lebaran, lain lagi dengan Warkop DKI Reborn Jangkrik Boss Part 1 yang diusung oleh Falcon Pictures. Tayang pada awal September sejarah baru tercipta. Warkop DKI Reborn JB Part 1 berhasil mengalahkan AADC2 sebagai film terlaris tahun ini sekaligus FILM TERLARIS SEPANJANG MASA karena berhasil melampaui pencapaian Laskar Pelangi dengan angka jauh di atasnya yakni hampir 7 juta penonton. Wow. Congratulation!

     Selain itu ada pula film yang kental dengan budaya lokal Makasaar, Uang Panai = Maha(r)l yang dengan sangat terbatas layarnya mampu menembus box office dan sampai sekarang masih bertengger di 15 Film Indonesia Terlaris 2016 di angka 500rb-an. Ini lebih mantap!

Mencoba Laga

     Generasi orang tua saya mungkin sering menonton film-film laga kolosal. Nama-nama seperti Advent Bangun dan Barry Prima pasti tak akan hilang dari ingatannya. Seiring perkembangan, film laga Indonesia memang hampir tidak ada. Di periode ini setidaknya ada 4 film laga yang tayang.

     Algojo: Perang Santet mencoba memadukan konsep laga dengan penataan efek visual di bawah arahan Rudy Soedjarwo. Ada pula 2 film yang memadukan laga dengan romance. Mereka adalah Triangle: The Dark Side yang mengandalkan chemistry Deddy Corbuzer dan Chicca Jessica lalu ada pula Spy in Love yang mengandalkan aktor Hamish Daud yang berkolaborasi dengan negara tetangga. Satu yang terakhir adalah film sang jagoan yang ironi. Berjudul DPO (Detachment Police Operation), AA Gatot Brajamusti justru menjadi DPO di kehidupan nyata, padahal di filmnya ia bak pahlawan. Sayangnya keempat film tersebut baru pada tataran (mencoba) laga, belum memuaskan.

Agustus berlalu dan September pun datang. 9 Film yg berhasil ditonton selama bulan Agustus di tengah2 bbrp aktivitas yg cukup menguras waktu. Seperti biasa inilah urutannya.. . 1/2. 3 SRIKANDI / UANG PANAI 3. MIMPI ANAK PULAU 4. SURAT UNTUKMU 5. TRIANGLE: THE DARK SIDE dan 4 film impor yakni SKIPTRACE, LIGHTS OUT, MECHANIC RESURRECTION dan SUICIDE SQUAD (diurutkan dr yg paling bisa saya nikmati). . . Baru bulan ini saya kesulitan memeringkat posisi 1 & 2, 3 Srikandi dan Uang Panai sama2 memiliki kelebihan & kekurangan sendiri, dan berada di ruang yg berbeda. Jadinya juara bersama saja, heheh! . . #filmindonesia #banggafilmindonesia #hollywoodstars #lightsout #suicidesquad #actionmovie #behindthescene #comedy #makassar #cinemaxxi #tiketnonton #filmindoags #suratuntukmu #batam #instamovies #instafilm #greatmovies #socialmedia #digitalmarketing #followme #ffb2016 #filmfestival #movieofthemonth

A post shared by Raja LUBIS (LUcu aBIS) (@rajalubis_) on

Wanita dan Bingkainya

     Mengangkat wanita sebagai sosok utama dalam film bukan hal baru meski judul filmnya tidak harus tentang nama seseorang wanita tersebut. Potret wanita tangguh Ibunda Jusuf Kalla dilukiskan cukup baik oleh Riri Riza. Lewat Athirah, Riri mencoba bertutur melawan arus dengan konsekuensi filmnya tidak akan terlalu disukai oleh sebagian besar penonton. Hasilnya meski minim penonton, Athirah berhasil menyabet penghargaan tertinggi di Festival Film Indonesia 2016 sebagai Film Terbaik.

     Jika Athirah menjadi solois, ada dua film yang mengusung kolaborasi 3 wanita. Bunga Citra Lestari, Chelsea Islan dan Tara Basro bersatu dalam 3 Srikandi. Film ini mengisahkan tentang perjuangan 3 atlet panahan dalam meraih olimpiade pertama bagi Indonesia. Sayangnya, adegan-adegan latihan atau perjuangan 3 Srikandi kurang tergambar dengan baik, sisipan komedinya terlalu kentara. Untungnya 20 menit terakhir film ini cukup menyelematkan 3 Srikandi untuk terjun bebas.

      3 Srikandi hampir terjun bebas, Ini Kisah Tiga Dara justru terjun dengan sebebas-bebasnya. Mengusung konsep drama musikal dengan mengandalkan performa Shanty, Tatjana Akman dan satu dari 3 Srikandi yang hijrah, Tara Basro, film ini tidak terlalu mengena drama musikalnya. Lagu-lagunya terdengar geli di telinga, bahkan tak ada satupun yang saya ingat sampai akhir ini. Bukankah salah satu keberhasilan film drama musikal adalah lagu-lagu yang terus memorable?

Varian Baru

     Sangat penting untuk diapreasi bagi sineas yang memberi warna baru dalam sejarah perfilman Indonesia terlepas nanti bagaimana hasilnya. Secara umum 3 Srikandi bisa juga dikatakan rasa baru karena film pertama yang mengusung atlet olimpiade. Namun sebagai film olah raga, sudah ada pendahulunya terutama di sepak bola seperti Garuda di Dadaku, Tendangan Dari Langit dan Cahaya Dari Timur: Beta Maluku.

      Ada satu warna baru yang mengusung tema natural disaster. Adalah Rako Prijanto sang sutradara yang mengkolaborasikan Vino G. Bastian, Acha Septriasa, Deva Mahenra dan Putri Ayudya dengan bencana banjir Jakarta dalam BANGKIT!. Hasilnya memang tidak sempurna, terutama dari riset tentang bencana itu sendiri. Namun, usaha dan idenya tetap perlu kita hargai. Semoga film ini memicu sineas untuk berkreasi dengan tema-tema baru lainnya .

Anak dan Cita-citanya.

     Seorang anak adalah amanah bagi orangtuanya. Pepatah mengatakan tidak ada satu orangtua pun yang tidak menyayangi anaknya. Namun seperti dalam survey yang tingkat akurasinya tidak mencapai 100% selalu saja ada anomali, maka dunia anak pun berlaku demikian. Masih inget dengan tragedi Angeline? Seorang anak perempuan yang ditemukan tewas di tangan ibu angkatnya?

      Sejujurnya saya kurang mengikuti perkembangan berita di Televisi. Untungnya kasus Angeline ini diadaptasi ke dalam audio visual lewat Untuk Angeline. Miris memang begitu saya melihat filmnya, cita-cita dan harapan seorang anak mendapat kebahagiaan justru harus terhapus begitu saja. Film ini sekaligus memberikan pelajaran bagi orang tua untuk tetap bersama anak-anaknya apapun yang terjadi, apalagi hanya karena faktor ekonomi. Untuk Angeline unggul lewat performa Naomi Ivo dan Kinaryosih selebihnya seperti terkesan hanya untuk eksploitasi tangis penonton saja.

      Jika Angeline bernasib kurang beruntung, lain dengan Daffa Permana dalam Mimpi Anak Pulau. Tidak berusaha menghadirkan kisah tragis anak kampung yang pada akhirnya bisa lulus sarjana dengan terlebay-lebay (aduh bahasa apa ini), film ini justru hadir dengan perjuangan dan kehidupan yang apa adanya. Mengambil latar di pulau terpencil di sekitar Batam, Mimpi Anak Pulau sukses mengalirkan air mata saya jatuh dan untungnya lagi saat itu saya hanya nonton sendirian. Sumpah, nggak ada penonton lain hanya saya sendiri.

Festival Film Bandung 2016

      Salah satu ajang apreasiasi terhadap perfilman adalah Festival Film Bandung. Diselenggarakan di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Bandung pada 24 September 2016, #FFB2016 memberikan penghargaan Pemeran Utama Wanita Terpuji pada Chelsea Islan (Rudy Habibie) dan Sha Ine Febriyanti (Nay); Pemeran Utama Pria Terpuji pada Reza Rahadian (My Stupid Boss); Film Terpuji pada Rudy Habibie (MD Pictures). Daftar lengkap silakan di cek laman resminya.

      Finally, menonton film terlebih film Indonesia sudah menjadi kebutuhan. Siapa lagi yang akan menjadikan film Indonesia tuan rumah di negaranya sendiri kalau bukan kita? So, film Indonesia apa yang kamu tonton di Triwulan III 2016? Komentar di bawah ya!

Baca Juga: Catatan Film Indonesia Triwulan Pertama dan Kedua

Iklan