cover-jelajah-green-industry

     Sebagai seorang marketer dan aktif di berbagai komunitas, bertemu orang baru bukanlah sesuatu yang baru bagi saya. Hampir setiap hari, saya selalu berhadapan dengan orang-orang baru yang pada akhirnya juga melahirkan cerita baru. Di blogpost kali ini saya akan cerita keseruan saya menjelajah Kamojang tentunya dengan teman-teman baru.

     Selama 2 hari yakni pada tanggal 11 dan 12 November 2016 penjelajahan ini dilakukan. Cerita bermula dari Komunitas WEGI (We Green Industry) yang melaksanakan kegiatan Jelajah Green Industry dan sudah merupakan hajatan yang ke-6 bagi komunitas ini yang kali ini bekerjasama dengan Pertamina. Tujuan utamanya adalah Pertamina Geothermal Energy (PGE) Kamojang dan Konservasi Elang Jawa.

Jumat, 11 November 2016

     Jelajah Green Industry ini diikuti oleh pegiat lingkungan juga beberapa blogger dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogjakarta dan Jawa Timur. Pada hari pertama acara memang dimulai di Jakarta yang diikuti oleh seluruh peserta, kecuali blogger Bandung (termasuk saya) yang menunggu kedatangan peserta dari Jakarta.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

     Sekitar pukul 10.15 WIB saya berangkat dari kost-an daerah Moh. Toha menggunakan salah satu transportasi online dengan tujuan Bebek Kaleyo Pasteur sebagai meeting point yang telah ditentukan sebelumnya. Rupanya jalanan Bandung yang saat itu cukup padat, membuat perkiraan saya meleset. Diperkirakan akan tiba di meeting point pada pukul sebelas tepat, menjadi hampir setengah dua belas.

     Begitu mobil akan masuk parkiran depan Bebek Kaleyo, sudah terlihat dua blogger Bandung (Dedew dan Sandra) yang akan pergi shalat Jumat terlebih dahulu. Kemudian, saya pun menyusulnya. Kita bertiga akhirnya Shalat Jumat tepat di seberang Bebek Kaleyo Pasteur sejajar hotel Ibis Pasteur. Ada sebuah mesjid kecil 2 lantai dan trotoar sekitarnya disulap menjadi tempat Shalat Jumat agar bisa menampung jamaah lebih banyak. Jadilah ini pengalaman pertama saya shalat Jumat di trotoar ditemani dengan suara lalu lintas kendaraan di perempatan Pasteur.

Trio Soleh, Alhamdulillah

Shalat Jumat, saya (sepotong), Dedew (yang melihat kamera), Sandra (sebelah Dedew yang sudah mulai live tweet)

     Pukul setengah satu rombongan dari Jakarta sudah tiba pula di Bebek Kaleyo dan akhirnya kita pun santap siap bersama. Alhamdulillah, Bebek Muda Bakar dan Es Teh Manis menemani denyut demi denyut aliran nadi. Nikmat TuhanMu manakah yang kamu dustakan?

Setelah makan siang, segera siap-siap, jangan lupa ganti kaosnya, semua peserta naik ke mobil sana ya, jam 2 tepat kita berangkat

     Suara indah seorang perempuan yang mendamaikan hati ini mengomandoi seluruh peserta. Suaranya sudah tak asing lagi di telinga saya. Maka selanjutnya kita semua akan sami’na waatho’na (baca: mengikuti) pada suara itu hingga akhirnya acara selesai.

     Detik demi detik berlalu, seluruh peserta telah siap berangkat. Bukan blogger namanya, jika tidak foto-foto dahulu. Alaah…tapi semoga semuanya tidak lupa berdoa juga, hehhhe.

     Pukul dua siang mini bus yang kita tumpangi melaju ke arah Kamojang melalui pintu tol Pasteur. Lagu-lagu dari radio menemani perjalanan indah seluruh peserta, mulai dari Isyana Sarasvati, RAN, Afgan hingga Duo Anggrek. Lha siapa tuh Duo Anggrek? Coba tanyakan pada sesosok laki-laki yang duduk di sebelah kiri teh Nchie saat di perjalanan.

     Live Tweet! Ya live tweet. Awalnya saya tidak pernah terbiasa menggunakan handphone saat di perjalanan. Biasanya selalu pasang headphone, lalu putar lagu-lagu kesayangan dan tiba-tiba terbawa pada mimpi. Sejak berkenalan dengan para blogger setahun yang lalu, mulailah saya terbiasa melatih jari dan tangan dengan cepat merangkai kata demi kata menjadi kalimat yang informatif. Uhhh, lelah tapi cukup bermanfaat mengalihkan latihan jari dan tangan yang mungkin biasa dilakukan pada aktivitas lain. #eh.

     Aktivitas jari dan tangan para peserta hampir selalu menghasilkan Trending Topic Indonesia (TTI). Mengusung hastag #PertaminaKamojang dan #EnergiBersih beberapa kali menguasai puncak TTI. Kesibukan permainan jari hampir tidak menyadarkan kita semua kalau kita masih berada di tempat yang sama dan bergerak cukup lamban. Sudah 2 jam pinggiran kanan dan kiri jalan masih tertulis Rancaekek. Ya Tuhan, rupanya kita terjebak macet dan banjir terutama di depan sebuah perusahaan tekstil di Rancaekek. Keadaan ini memang membuat kita harus tetap sabar meski akan berpengaruh pada jadwal yang sudah ditetapkan.

     Badai Pasti Berlalu. Salah satu judul Film Indonesia tersebut memang cukup menggambarkan keadaaan di Rancaekek. Kita pun mampu menembus dan perjalanan berlanjut ke Kamojang melalui Garut. Hari semakin gelap dan biru langit pun mulai memudar diganti hitam pekat. Rasa lelah yang hinggap membuat saya ingin segera sampai. Membuka aplikasi maps di handphone, rupanya lokasi yang dituju masih menyisakan sekitar 13 km lagi dari pertigaan Jalan Samarang – Kamojang.

     Pukul setengah tujuh lepas magrib, akhirnya kita sampai juga. Dengan cuaca yang sedikit dingin, kita mulai mengemas barang-barang dari mobil untuk segera check in di Mess Pertamina. Satu rumah diisi oleh 6 orang. Mess nya ini cukup besar terdapat 3 kamar dengan warna-warna yang ceria.

Silakan semuanya istirahat, jam setengah delapan makan malam, terus jam delapannya kita kumpul di aula

     Suara itu muncul kembali setelah selama perjalanan sama sekali hilang tak terdengar. Saya pun segera menyimpan tas dan sejenak melepas penat sebelum akhirnya makan malam bersama yang disajikan secara prasmanan. Pukul delapan pun tiba. Seluruh peserta digiring menuju aula yang lokasinya tidak jauh dari mess.

    Seperti yang sudah saya sebutkan, bahwa acara ini diikuti oleh pegiat lingkungan dan juga blogger dari berbagai daerah, maka malam itu adalah waktu yang tepat untuk berkenalan. Dipandu oleh suara yang sama, perkenalan berlangsung dengan cara yang unik dan lucu. Setiap peserta memperkenalkan diri dengan menjawab tiga saja pertanyaan atau permintaan dari peserta lainnya. Maka ajang tersebut juga menjadi wadah untuk memperkenalkan tentang PGE Kamojang dan Komunitas WEGI.

Baca Juga: Mengenal PGE Kamojang

     Tanpa harus menghadirkan artis nasional, kita semua sudah terhibur berkat kerjasama peserta yang solid dengan celetukan-celetukannya, dengan tingkah-tingkahnya juga dengan  permintaan-permintaan anehnya. Acara perkenalan semakin mantap dengan hadirnya seorang Bastian yg ahli dalam bidang hipnotis. Ayo…siapa yang mau? Saya sih langsung kebelet pipis, heheheh.

     Tak terasa waktu pun sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam dan acara hari pertama pun diakhiri. Seluruh peserta diharapkan beristirahat karena acara besok sudah menunggu. Saya pun terlelap di balik selimut ungu.

Sabtu, 12 November 2016

     Pagi-pagi sekali, suara itu sudah terdengar. Agenda pertama adalah senam pagi yang dipimpin oleh kang Ali Muakhir. Dengan gerakan dan lagu yang kadang tidak sinkron, kita semua tetap menikmati pagi yang dingin dengan ceria. Selesai senam pagi, kita pun iseng-iseng membuat #ManiquenChallenge yang belakangan ini sedang ngetren, tentunya masih di bawah arahan kang Ali.

     Puas membuat beberapa video, nasi goreng dan telur mata sapi sudah siap untuk disantap. Kebersamaan yang erat sangat tampak sekali meski sebagian besar baru pertama kali kenal.

     Hari ini, kita akan mengunjungi Geothermal Information System (GIS). Usaha Pertamina membangun GIS salah satunya sebagai wahana edukasi bagi pengunjung dan masyarakat mengenai panas bumi, pengelolaan dan manfaatnya. Dikatakan bu Dila perwakilan dari GIS, bahwa anak-anak sekolah sekitar area GIS sudah diperkenalkan panas bumi sejak dini. Memang seberapa pentingkah panas bumi bagi masyarakat?

GIS

Berfoto bersama di depan area GIS

     Panas Bumi adalah salah satu energi yang bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik yang tentunya sangat ramah lingkungan. Itulah alasannya mengapa Komunitas WEGI dengan Jelajah Green Industry-nya bekerjasama dengan PGE Kamojang. Sekitar 2 jam kita mendapat pengarahan dan ilmu yang bermanfaat tentang panas bumi lalu dilanjutkan dengan explore area GIS itu sendiri.

     Dalam rangka upaya meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar, maka wilayah Kamojang pun dikembangkan sebagai tujuan wisata, salah satunya adalah kawah Kamojang. Perjalanan pun berlanjut ke sini. Kawah-kawah yang cantik, membuat saya terpana betapa agungnya Tuhan menciptakan alam semesta ini. Selanjutnya biarlah foto-foto sederhana saya ini yang berbicara tentang keindahannya, karena terkadang gambar tak perlu kata-kata sama seperti cinta yang tidak butuh lidah untuk berkata, tapi langsung action saja, hahahah.

     Tidak hanya menjadikan Kamojang sebagai desa wisata, Pertamina pun sangat peduli terhadap lingkungan. Melalui program CSRnya, Pertamina melakukan konservasi Elang Jawa dengan biaya 100% sepenuhnya dari Pertamina. Catat! Lalu kenapa harus Elang Jawa? Dikatakan bapaknya Elang (maksudnya bapak penjaga konservasi) bahwa Elang Jawa termasuk salah satu satwa langka yang keberadaannya akan punah jika tidak dilakukan konservasi. Cerita pun berlanjut dengan melihat-lihat para Elang yang ada di sana. Mayoritas Elang yang dikonservasi berasal dari Bandung, Ciamis juga Sukabumi. Aiiihhh, saya Elang juga dong ah. Elang Sukabumi yang mencari cinta ke Bandung, ahaahay. Lebayisme!

     Perjalanan pun akan segera berakhir dan para Elang menjadi saksi bisu penutupan Jelajah Green Industry. Kita pun mengucap syukur karena acara ini berlangsung lancar dan Insya Allah bermanfaat. Sebelum benar-benar meninggalkan para Elang, kita pun melakukan penanaman pohon secara simbolis sebagai bentuk kepedulian peserta jelajah terhadap lingkungan. Nah, jangan lupa ya Ipan cs a.k.a boyband Garut, wakili kita untuk jenguk pohon yang kita tanam juga sampaikan salam kita ke para Elang.

     Untuk memudahkan perjalanan pulang, maka mobil dibagi 2 grup, tujuan Jakarta dan non Jakarta. Saya tentunya masih bersama blogger Bandung masuk ke dalam grup non Jakarta yang kali ini ditambah oleh pasukan Garut yang sedari awal memang terpisah. Tak lengkap rasanya jika pulang tidak membawa oleh-oleh. Garut? Seketika pikiran menuju pada dodol dan domba. Tapi mana mungkin, kita bawa domba heheheh. Jadinya kita melipir dulu ke sebuah toko oleh-oleh di kawasan bunderan Suci. Perjalanan memang melelahkan membuat sebagian peserta pelor (baca: nempel molor, lebih jelasnya langsung tertidur)

     Ada awal ada pula akhir. Perjalanan yang telah berlangsung akan menjadi cerita di masa depan. Perjalanan yang melelahkan namun bermanfaat. Selamat berjumpa kembali kawan. Terimakasih atas kepingan – kepingan cerita yang kita susun menjadi sebuah puzzle yang utuh.

Siapa Kita? Indonesia!
NKRI? Harga Mati!

Lho kok???

Iklan