Tag

, , , , , , , , , , , , , , , ,


Cover

     Triwulan kedua 2016, cukup menjadi sejarah bagi Film Indonesia. Bagaimana tidak, ada tiga film yang berhasil menembus 1 juta penonton dan ketiganya bukanlah film yang digarap dengan asal jadi. Mereka adalah Ada Apa Dengan Cinta 2 yang tayang perdana 28 April 2016 dengan perolehan 3,6 juta penonton dan masih bertasbih sebagai film terlaris Indonesia 2016 hingga saat ini. Belum genap satu bulan demam AADC2, film bagus lainnya menyusul. My Stupid Boss. Ya film yang disutradarai oleh Upi ini berhasil mengumpulkan angka di atas 3 juta juga dan menempati posisi kedua. Selain kedua film tersebut, Rudy Habibie yang tayang pada akhir Juni (dan masih tayang) juga telah mengumpulkan penonton sebanyak 1,7 juta. 3 film ini jadinya melengkapi London Love Story dan Comic 8 Casino Kings Part 2 di deretan film 2016 di atas satu juta penonton.

Lalu bagaimana ragam yang dihadirkan oleh film di periode April – Mei – Juni 2016 ini?

Baca Juga : Catatan Film Indonesia Triwulan Pertama 2016

     Tren memfilmkan tokoh nyata ke dunia film, masih juga menjadi kesukaan para sineas. Azhar Kinoi Lubis yang periode lalu memukau lewat Blusukan Jakarta, kali ini membuat kisah biopik Kartini yang dibalut kisah cinta fiksi dalam Surat Cinta untuk Kartini. Sayangnya, gagasan utama film ini masih setengah matang.

     Tidak hanya sosok pahlawan yang difilmkan, Naya Anindita, sutradara pendatang baru menawarkan variasi baru. Dengan mendapuk Dion Wiyoko dan Albert Halim sebagai pemeran utama, Naya cukup berhasil mengadaptasi tokoh pendiri Kaskus, Andre Darwis dan Ken Dean Lawadinata dalam Sundul Gan: The Story of Kaskus.

      Tren yang kedua adalah religi. Hanya satu film religi yang saya tonton di periode ini yakni Kalam-Kalam Langit. Ya meski tidak terlalu sempurna, setidaknya Kalam-kalam Langit tidak terlalu menyebalkan seperti film religi yang saya tonton di periode pertama. Kalam-kalam Langit jelas memiliki visi dan misi yaitu MTQ.

     Semenjak film biopik dan religi mulai mendominasi perfilman nasional sekitar tahun 2008, kita kehilangan genre love story remaja semisal Heart, Eiffel I’m in Love, Apa Artinya Cinta? juga Ada Apa Dengan Cinta. Namun salah satu dari film yang saya sebut is back. AADC2 mengobati kerinduan dahaga fans yang menunggu akhir kisah mereka sejak 14 tahun lalu. Sayangnya baik Cinta dan Rangga atau pun penontonnya sudah tak lagi remaja. Ya AADC2, ada di genre drama dewasa. Untungnya, rumah produksi Starvision Plus cukup cekatan menghadirkan The Fabulous Udin, sebagai alternatif genre remaja dengan kisah dan penceritaannya yang mulus. Sayangnya, memang kurang direspons dengan baik oleh penonton.

     Pada periode ini pula, drama keluarga mulai muncul sebagai tontonan alternatif di antara kisah cinta sepasang kekasih. Adalah Juara The Movie yang berhasil menyuguhkan ikatan emosional antara seorang ibu, Cut Mini dengan Bisma sang anak yang begitu kangen terhadap ayahnya Tora Sudiro. Dibalut dengan aksi laga, menjadikan Juara The Movie menjadi suguhan drama yang apik tak hanya cerita juga visual sekaligus lompatan jauh seorang Bisma, personal SM*SH kedua yang hijrah.

     Selain Juara The Movie, perjuangan seorang ibu miskin dari Gunung Kidul yang diperankan oleh Kinaryosih juga menjadi suguhan inspiratif periode ini. Sayangnya, cerita yang dibalut dalam MARS: Mimpi Ananda Raih Semesta ini sangat lalai dari logika – logika dan penceritaan yang lompat kesana kemari padahal dibintangi pula oleh aktor hebat Acha Septriasa.

     Lain Juara dan Mars, lain pula Superdidi. JIka Juara dan Mars lebih bercerita dari sudut pandang seorang ibu, Superdidi bercerita dari sudut pandang ayah. Bergenre komedi, justru Superdidi berhasil menerjemahkan pesan filmnya berkat akting gemilang dari Vino G. Bastian.

     Bicara film takkan lepas pula dari genre horror. Setidaknya 2 horror yang saya tonton periode ini Jangan Dengerin Sendiri dan Indera Keenam, lebih baik secara premis dari horror di periode pertama. Meski begitu masalahnya masih sama, frekuensi hantu yang muncul berkali-kali juga jumpscare yang mengagetkan namun sama sekali tak penting dengan cerita dan tak ada kaitannya.

     Sebetulnya, pada periode ini dibuka oleh film yang tadinya omnibus namun menjadi tidak omnibus. Yach Gila Jiwa. Film yang disutradarai oleh sutradara berbeda di tiap part nya ini hadir dengan penceritaan yang kuat. Berbalut berbagai genre mulai action, drama, hingga musikal, part Julia Perez lah yang tampil paling baik. Selebihnya biasa saja, bahkan di genre musikal yang disutradarai Afgan cenderung menurun. Ya kali Afgan masih cocok untuk nyanyi belum untuk menjadi sutradara.

     Dari deretan film di atas, meski beberapa tampil tidak sempurna namun belum pada tahap menyebalkan. Satu-satunya yang bikin saya kesel adalah film karya Sys NS – Pacarku Anak Koruptor. Rasanya sulit mengungkapkan bagaimananya kesalnya saya saat nonton film ini. Ada yang udah nonton? Silakan comment ya, barangkali perasaan saya bisa terwakili.

     Hukum alam memang berlaku. Ada yang mengecewakan ada pula yang memuaskan. Aisyah Biarkan Kami Bersaudara karya Herwin Novianto ini salah satunya. Ditulis oleh Jujur Prananto menjadikan Aisyah BKB menjadi film dengan sajian yang komplit mulai dari toleransi beragama, keluarga, anak, pendidikan, juga isu sosial dengan tidak tumpang tindih, justru masing-masing isu saling menopang cerita film. Nampaknya Laudya Cinthya Bella akan mencuri perhatian juri FFI lewat film ini.

Jika pada periode pertama ada 6 film yang mencuri perhatian saya, periode ini memang menurun hanya 4 film saja. Dua di posisi atas adalah Rudy Habibie dan Aisyah Biarkan Kami Bersaudara disusul di bawahnya Juara The Movie lalu The Fabulous Udin.

Lalu pada periode ini kamu sudah nonton Film Indonesia apa saja? Share yuk…

Iklan