Tag

, , , , , , , , , , , , , , ,


coverrudy

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437H ya, Minal Aidzin Wal Faidzin.

     Setiap moment lebaran yang dirayakan oleh seluruh umat Muslim di dunia selalu memiliki cerita tersendiri. Saya contohnya. Tiap tahun, mudik menjadi agenda wajib. Yach, meski mudiknya hanya ke kota kecil Sukabumi, yang jaraknya kurang lebih 80km dari kota Bandung, tetap memiliki makna tersendiri. Namun sebelum mudik, ada target khusus yang harus saya capai yakni nonton Film Indonesia lebaran dikarenakan Sukabumi nggak ada bioskop.

     Film lebaran kali ini diramaikan oleh 5 film yakni Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea, Koala Kumal, Sabtu Bersama Bapak, I Love You From 38000ft yang tayang pada tanggal 5 Juli 2016 dan satu lagi Rudy Habibie yang tayang lebih awal beberapa hari yakni 30 Juni 2016.

     Tanggal 30 Juni, alhamdulillah saya diterpa sakit, nampaknya sih kelelahan. Ce i le, sok sibuk banget ya saya. Hahahah. Alhasil, saya nonton Rudy Habibie pada esoknya hari Jumat tanggal 1 Juli 2016 di XXI Festival Citylink show pertama pukul 13.00 WIB. Nah, dikarenakan hari Jumat, dan sebagai lelaki harus Jumatan, maka saya sudah antre di bioskop sejak pukul 10.30 WIB bahkan pintu bioskop pun belum dibuka. Alhasil begitu pintu dibuka sekitar pukul 11.00 WIB oleh pak satpam saya adalah orang pertama yang beli tiket Rudy Habibie. Jadinya bebas memilih tempat duduk.

     Ekspektasi saya terhadap film ini, sumpah biasa saja. Saya udah kapok sama kelebayan MD Pictures dalam bikin film Surga Yang Tak Dirindukan. Namun nama Hanung Bramantyo adalah jaminan mutu. Dia salah satu sutradara yang nggak bisa bikin film (jelek). Lalu seperti apa filmnya?

     Mungkin saat review ini ditulis sebagian besar dari kamu tentu sudah nonton film ini. Masih inget dengan rumus Fakta-Masalah-Solusi di film ini? Kalau masih inget tentunya saya akan mencoba mengulas Rudy Habibie dari sudut pandang ini.

FAKTA – ILMU

     Apa hubungan fakta dan ilmu? Tuhan sudah berfirman bahwa Ia akan meninggikan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.

     Kita tentu tahu, seorang Rudy Habibie adalah seorang yang pintar dan jenius terutama di bidang dirgantara. Sosok Rudy betul-betul seorang yang berilmu. Bahkan ketika ia ditantang oleh teman-temannya (yang gak suka) untuk membuatkan pesanan “Nasi Goreng, pake telur setengah matang, kecapnya sedikit, pedas nya level 5, jangan lupa nasinya harus beras Cianjur, digoreng di atas api dengan suhu 40 derajat, wajannya harus baru, diaduk bersama bumbu berbarengan, pake mentimun dan acar 30 buah, oia, piringnya harus warna putih motif bunga, sendok nya 2 garpunya 1, jangan pake garam, tambah lagi telurnya satu yang diaduk bareng nasi, minumnya jus alpuket, jangan pake gula, es nya diblender terlebih dahulu, jangan terlalu cair“. Bisa mengingat nya? Jenius Rudy Habibie bisa mengingat dan membuatkannya dengan tepat. So briliant. Jelas dengan ilmu, Rudy mampu menyelamatkan perut laparnya selama 3 hari. Kok Bisa? Nonton ya.

MASALAH – AMAL

     Setiap orang berilmu, tidak akan ada manfaatnya apabila ia tidak mengamalkannya minimal untuk diri sendiri dan lebih bagus untuk orang lain. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain?

     Lalu kenapa AMAL ini saya sandingkan dengan MASALAH? Jelas!!! Dalam setiap kita melakukan perbuatan, akan selalu ada orang yang tidak sejalan dengan kita. Rudy yang memiliki kemampuan dirgantara dan ingin mewujudkan cita-citanya membangun industri dirgantara di Indonesia justru mendapat masalah bahkan juga dari salah satu teman dekatnya.

     Cek trailer. “Jaminannya apa?“, “Saya Jaminannya!“, “Tidak bisa, karena tidak semua orang suka sama kamu

     Begitu Ayu (Indah Permatasari) menyatakan ketidaksukaannya terhadap Rudy Habibie. Namun jangan salah, adegan dalam trailer ini tidak langsung tek-tok, melainkan diawali dan disela oleh beberapa adegan lain. Ini yang membuat saya salut sama MD Pictures selalu bisa buat trailer yang keren dan bikin saya penasaran untuk nonton. Lalu kenapa Ayu bisa tidak suka dengan Rudy? Temukan masalahnya di bioskop terdekat ya.

SOLUSI – IMAN

     Faktanya Rudy (Reza Rahadian) adalah seorang yang jenius dan memiliki mimpi besar untuk Indonesia. Masalahnya, dalam mewujudkan cita-citanya ia kerap kali mendapat masalah. Ayu hanya masalah kecil kok. Masalah besar lainnya ada di filmnya tentunya. Lalu solusinya bagaimana?

     IMAN. Secara sederhana artinya percaya. Rudy harus percaya pada Tuhan dan kemampuannya sendiri. Rudy pun seorang manusia biasa yang tentu tidak bisa selamanya kuat. Saat ia merasa rapuh, ia pun menelpon ibunya (Dian Nitami) bahwa ia ingin pulang. Sedih saya rasanya lihat scene ini. Namun apa jawaban ibunya?

      Masih ingat adegan saat Rudy kecil (Bima Azriel) menggantikan ayahnya (Donny Damara) menjadi imam sholat? Disitulah Rudy Habibie terlihat kuat. Oleh karenanya ibunya hanya menyemangati dan harus percaya bahwa Rudy bisa menyelesaikannya sendiri.

     Tidak hanya itu, Rudy pun mampu memelihara iman meski di negeri Jerman. Dalam bagian ini Hanung memang berperan besar memunculkan isu pluralisme menjadi bagian tak terpisahkan dari film ini. Salah? Tentu tidak! Tapi bagian ini nampaknya akan menjadi senjata andalan bagi mereka yang sedari awal sudah “benci” terhadap karya-karyanya Hanung.


     Fakta, masalah dan solusi serta ilmu, iman dan amal menjadi bagian penting dari film Rudy Habibie. Durasi 142 jam begitu tidak terasa mengalir indah sejernih mata air memukau saya yang duduk di kursi bioskop. Perlu terimakasih yang tinggi kepada Gina S. Noer yang juga berduet bersama sang sutradara dalam penulisan naskah. Awalnya saya merasa skeptis, kira-kira film ini akan menyajikan apa. Rupanya, ciamik, keren dan spektakuler.

     Rasa haru melihat perjuangan Rudy Habibie tidak serta merta membuat film ini berada pada level banjir air mata seperti treatment MD dalam Surga Yang Tak Dirindukan, perjuangannya hadir diselingi dengan gelak tawa persahabatan penuh inspirasi bersama Boris Bokir, Ernest Prakasa dan Pandji Pragiwaksono. Eh, tapi kamu bakalan kaget, meski mereka komedian dan tugasnya memang melucu, tapi di film ini mereka betul-betul berakting. Lain dari biasanya. Nggak percaya?

     Satu lagi yang memukau, adalah Illona (Chelsea Islan) cinta pertama Rudy sebelum ketemu Ainun. Cie, cie, cie Rudy. Menyayat hati pas scene di kereta api ketika Rudy lebih memilih Indonesia daripada Ilonaesia (maksudnya Ilona). Lalu Tya Subiakto dan Krisna Purna bekerja dengan sangat baik menempatkan lagu Cakra Khan di scene ini. Gimana nggak baper? “kau dan aku tak bisa bersama, bagai syair lagu tak berirama, selamat tinggal kenangan denganmu, senyumku melepaskan kau pergi“. Edaannn…Terimakasih juga untuk Melly Goeslaw yang menciptakan lagu sekeren ini.

Sebetulnya banyak banget yang ingin saya ceritakan dari film ini. Tapi nggak seru ah, tonton aja ya di bioskop masih tayang kok. Saya hanya bisa berkata,

Selamat Datang Film Indonesia Paling Keren & Spektakuler Tahun 2016

Satu lagi, jangan dulu keluar bioskop karena ada post-credit scene yang sayang untuk dilewatkan ya.

 

Iklan