Tag

, , , , , , , , ,


Cover Jilbab Traveler

     Kemarin siang, Alhamdulillah saya berkesempatan bertemu langsung dengan seorang penulis hebat yang memiliki pembaca setia karya-karyanya. Nama ini biasanya saya hanya dengar saja dalam ruang karya fiksi Islami. Namanya semakin populer saat karya-karyanya diangkat ke layar lebar menjadi sebuah karya audio visual dan saya pun dibuat jatuh cinta oleh salah satu filmnya, Assalamualaikum Beijing pada akhir tahun 2014 lalu, dan saya berani bilang, film tersebut adalah standar terbaik film religi Indonesia yang mengusung love story.

     Asma Nadia. Siapa yang tak kenal beliau? Kemarin saya menyempatkan hadir di acara special show film terbarunya JILBAB TRAVELER: Love Sparks in Korea (selanjutnya JTLSIK) di XXI Empire BIP Bandung. Lalu bagaimana filmnya?

JILBAB

     Abaikan pemahaman awam saya tentang Jilbab. Sebelum film diputar, Asma Nadia speech di depan saya dan penonton lainnya bahwa film JTLSIK mengusung spirit jilbab(ers) untuk tetap bermimpi dan bercita-cita. Dikatakannya masih banyak perusahaan yang menerapkan larangan berjilbab bagi para pekerja di perusahannya. Sampai detik itu, saya masih manggut-manggut dari kursi paling depan, (kursi yang paling saya hindari, uh) seraya berkata, awas saja kalau filmnya melenceng dari spirit promonya, xixixi, saya orang pertama yang bakal angkat bicara. hehhe.

     2 Jam berlalu. Spirit Asma Nadia nyata di film ini. JTLSIK memotivasi para wanita (muslimah) berjilbab untuk tetap bermimpi. Saya pun sepakat bahwa jilbab bukanlah penghalang tapi merupakan sebuah identitas. Ini yang membuat beda dengan Assalamualaikum Beijing (AsBej). Jika pada AsBej spirit yang diusung murni kesetiaan cinta, inspirasi Jilbab cukup kental menghiasi film. Lalu inspirasi apa yang ditawarkan JTLSIK?

TRAVELER

     Setiap wanita muslimah bebas juga bercita-cita dan bermimpi. JTLSIK melalui Rania (Bunga Citra Lestari) menggambarkan bahwa wanita berjilbab (meski tidak meraih sarjana) bisa keliling dunia. Ini yang selalu ditanamkan ayahnya (Wawan Wanisar) terhadap Rania. Scene pembuka kereta api cukup membuat saya tertarik untuk tetap mengikuti perjalanan traveling Rania yang dilukiskan film secara syahdu dan perlahan. Memang tidak banyak muslimah yang melakukan traveler, itulah premis yang membedakan JTLSIK dari film-film religi lainnya yang masih berkutat pada poligami, perselingkuhan dan cinta segitiga.

     Sebagai seorang traveler, wanita pula, tentu ada kekhawatiran dari sang Ibunda (Dewi Yull) akan Rania jika ia sedang di luar negeri. Tak baik katanya seorang perempuan bepergian sendiri tanpa didampingi. Di sini lah perjalanan yang semula menjelajah dunia mulai pada jelajah hati. Hehehhe, ciee ciee, jelajah hati.

LOVE SPARKS

     Setelah menjelajahi dunia, mulailah Rania terkena percikan-percikan api cinta. Uhuuuy. Adalah Ilhan (Giring Nidji) cowok lokal tulen yang mencintai Rania dan sangat didukung oleh kedua kakaknya (Indra Bekti & Tasya Nur Medina) Rania. Namun, tentunya hati tak bisa ditebak, apalagi wanita, terkadang antara IYA dan TIDAK memiliki batas yang tidak jelas. Hehehhe, jadi curcol.

    Kawah Ijen menjadi saksi bahwa ada cowok lain yang akan menjadi kebimbangan Rania selanjutnya. Siapa lagi kalau bukan Hyun Goen (Morgan Oey) yang dengan gampangnya “meledek” dengan kata-kata “Pemandangan disini tidak lebih baik dengan di Korea“. Rania tersinggung dan menjadi awal perjalanannya ke Korea.

      Setiap langit akan mencari bintangnya. Jika Hyun Goen dan Ilhan adalah langit dan Rania bintangnya, bintang dan langit manakah yang akan bersatu? Karena tak mungkin satu bintang di dua langit, tapi kalau satu langit dengan beberapa bintang mungkin. Ah jadi poligami lagi dong.

in KOREA

     Akhirnya Rania pergi ke Korea. Apa alasannya Rania pergi ke Korea? Apa menyusul cinta Hyun Goen, oh NO, itu mah FTV banget. Lalu kenapa? Jawaban ada di bioskop pada tanggal 5 Juli 2016 ya.

     Perjalanan Rania di Korea banyak mengalami lika-liku JILBAB, TRAVELER dan LOVE SPARKS. Di Korea ini semua terjawab tuntas. Ah, pasti kamu berujar paling juga ceritanya ketebak. Ending yang tertebak tapi melalui proses perjalanan yang baik, beda juga rasanya. Sekali lagi, 5 Juli 2016 ya Hhahaha.

     Meski berkutat di Jilbab, Traveler, Love Sparks dan in Korea. Islam masih cermat tercermin dalam skenario masing-masing bagian, dan kali-kali ini benar-benar halus. Contohnya? 5 Juli ya.


     Alasan utama saya menonton film JTLSIK pada special show adalah, karena film yang tayang tanggal 5 Juli ini insya Allah bertepatan dengan hari H-1 Lebaran, dipastikan saya sudah berada di Sukabumi, kota tercinta. Khawatir saya lama di rumah, makanya saya sempatkan ketika ada special show. Kaitannya dengan reputasi saya dong, sebagai penikmat film Indonesia, malu rasanya jika melewatkan film ini, wkwkkwk.

     Selain itu, pemilihan Bunga Citra Lestari sebagai pemeran utama wanita juga cukup bikin saya penasaran. Hasilnya, saya terkagum-kagum dengan akting BCL. JIka memang harus dibandingkan dengan Revalina S. Temat di Assalamualaikum Beijing, saya amat mengakui BCL belum sebagus Revalina, tapi BCL berhasil mengalahkan pencapaian terbaiknya selama ini. Rania berhasil memukau di atas Ainun (Habibie & Ainun) bahkan Kerani (My Stupid Boss). Penampilannya layak diperhitungkan!

     Morgan Oey. Pertama kali bermain dalam film Assalamualaikum Beijing, sebagai cowok China, saya yakin wajah orientalnya yang pertama kali dilihat daripada aktingnya. But, di penampilan perdananya tersebut Morgan langsung melesat bagus, bagus dan bagus. Duet dengan Revalina sangat klop. Kali ini di bawah arahan sutradara yang sama, Morgan masih menyajikan akting yang mumpuni dan menjalin chemistry yang pas dengan BCL (meski memang stereotype dengan film-film sebelumnya)

     BCL dan Morgan sudah apik. Maka, untuk menguatkan cerita cinta segitiga dan menambah kebaperan BCL, maka Giring haruslah sepadan. Jangan sampai BCL gampang memilih salah satu diantara mereka. Sayangnya memang Morgan dan Giring tak sepadan. Beberapa scene ending harusnya menjadi puncak LOVE SPARKS in KOREA namun sayang suara dan intonasi Giring yang terdengar seperti dubbing pada filmnya Paddle Pop seakan berdiri sendiri tidak menyatu dengan chemistry Morgan dan BCL dan hasil tangkapan kamera yang ciamik dari Enggar Budiono. Namun, karena background beliau adalah seorang vokalis, ya saya maklumi lah untuk penampilan perdana.

     Tidak hanya deretan 3 main cast, Guntur Soeharjanto selaku sutradara tetap melakukan formula yang sama dengan Assalamualaikum Beijing yakni memunculkan tokoh komedi. Jika di Assalamualaikum Beijing, sang sutradara bekerja ekstra karena harus merubah sosok Laudya Cinthya Bella menjadi seorang yang gendut, humoris dan penggila drama Korea untuk cukup mewakili sosok Sekar, di JTLSIK, cukup menghadirkan Ringgo Agus Rahman yang memang sudah kita kenal sebagai pemain komedi. Rasanya tidak seekstra Assalamualaikum Beijing.

     Meski begitu, perlu diakui Ringgo yang berperan sebagai Alvin ini memang mencuri perhatian dengan jokes-jokes dan tingkahnya yang lucu dan membuat mood saya kembali naik ketika film berada di titik menjemukan. Namun bukan itu yang saya amati, Ringgo di sini lebih tepat difungsikan sebagai pembawa pesan sponsor. Tak kurang dari 4 kali, produk C (salah satu stick cokelat yang juga muncul di film Habibie & Ainun) dan produk G (obat lambung dengan bintang iklan cetar membahana) muncul di JTLSIK. – lha kok saya jadi promosi – awalnya memang tak mengganggu. Tapi ketika Ringgo dipaksakan memakai produk W (kosmetik yang belakangan sering muncul di film-film sejenis) di salah satu scene, sumpah tidak penting. Wajar jika saya katakan, Ringgo pembawa pesan sponsor yang “berhasil”.

     Pada akhirnya saya tidak bisa membandingkan Assalamualaikum Beijing dan Jilbab Traveler karena semangat yang diusungnya berbeda. Namun yang sama adalah kolaborasi Asma Nadia (cerita) + Alim Sudio (Penulis Skenario) + Guntur Soeharjanto (sutradara) masih mampu menjaga alur tidak keluar dari gagasan utama JTLSIK dan masih menampilkan ruh Islam yang kental tanpa harus ceramah

    Tautan ceritanya JTLSIK masih saja asyik untuk diikuti. Boleh dibaca dulu review saya tentang Assalamualaikum Beijing agar ngeh apa yang saya maksud dengan tautan ceritanya, kalau JTLSIK diceritakan kan jadi nggak seru ya.- Review Asbej

     Finally, jika pada akhirnya saya lebih menyukai Assalamualaikum Beijing bukan karena JTLSIK tidak bagus, melainkan hanya karena saya susah larut pada film JTLSIK dibanding Asbej. Maklum saya belum memutuskan untuk berjilbab. #eh

Iklan