Tag

, , , ,


Poster-Film-MARS
Lihat judul di atas, jurang antara angan-angan dan kenyataan yang terlampau mendalam. Xixixixi. Eh, Hari Pendidikan Nasional yang diperingati pada tanggal 2 Mei setiap tahunnya juga diramaikan oleh film Indonesia yg mengusung tema pendidikan lho. Mengambil bintang utama dengan duet maut Acha Septriasa & Kinaryosih, film ini hadir untuk para penonton film Indonesia. Seperti apa filmnya?


Jujur saja, sejak awal promonya saya tidak terlalu tertarik dengan judul film ini MARS, yang belakangan ada kepanjangannya yakni Mimpi Ananda Raih Semesta, kenapa nggak Pluto, Venus atau Merkurius gitu ya? Hm..coba dech iseng-iseng dicari kepanjangan yang sesuai dari nama-nama planet yang lain.

     MARS bercerita tentang perjuangan seorang ibu bernama Tupon (Kinaryosih) untuk menyekolahkan anaknya Sekar Palupi (Chelsea Riansy, Acha Septriasa) hingga akhirnya bisa wisuda di Oxford University. Wuih mantap kan? Pingin tahu juga kan gimana tips & trik Tupon dan Sekar yang notabene warga jauh dari Gunung Kidul mampu melanglang buana hingga ke luar negeri?

 Saya bagi dua fragmen film ini berdasarkan pemeran Sekar, fragmen pertama saat Sekar kecil diperankan oleh pendatang baru Chelsea Riansy dan fragmen kedua saat Sekar besar oleh Acha Septriasa, tenang kok, ibunya masih tetap Kinaryosih.

     Sekar kecil diterima di sebuah sekolah dasar negeri di Gunung Kidul, namun ia harus dikeluarkan oleh pihak sekolah. Bermula dari Sekar yang sering bolos karena diejek teman-temannya hingga ia melakukan hal yang tidak bisa ditolerir. Apa yang dilakukan Sekar? Jangan harap MARS memberikan jawabannya, saya pun tidak tahu. Akhirnya Sekar pindah sekolah yang ternyata lebih tidak jelas, tidak ada papan nama, tiba-tiba saja juga ia diterima. Entah kapan lulus SDnya, namun yang jelas Tupon berdoa di luar kelas agar Sekar lulus ujian, dan di dalam Sekar sedang mengeja “Ini Budi, Ini Bapak Budi, Ini Ibu Budi”. Ini kelulusan SD kelas 6? Atau kelulusan apa? Lagi-lagi MARS tidak cukup memberikan penjelasan.

     10 Tahun kemudian, Sekar yang telah berubah menjadi Acha Septriasa, ternyata  ia dipinang oleh salah seorang duda beranak, namun Sekar memilih kuliah. Owh, berarti Sekar udah lulus SMA. Ok, nggak penting kok Sekar SMP dan SMA nya dimana yang penting dah lulus. Singkatnya, mereka hijrah ke Jogjakarta untuk kuliah di salah satu universitas di sana. Tragedi dompet yang jatuh di depan mesjid mengantarkan mereka bertemu kembali dengan Ustadz Ngali (Cholidi Asadil Alam) hingga akhirnya Sekar tinggal di rumah pak Ustadz selama ia kuliah. Terus, belum juga saya tahu dia kuliah di mana, tiba-tiba Sekar sudah bertemu dengan pakar astronomi dan diminta untuk menggantikannya sebagai keynote speaker dalam sebuah seminar karena menganggap Sekar mahasiswa yang brilian. Lho dari mana? Apa hanya karena ia mendapat beasiswa? Sama sekali track record Sekar selama menjadi mahasiswa tidak dijelaskan.

     Masih berkutat di kebingungan terebut, Sekar yang sudah berhijab (entah kapan dapet hidayahnya) tiba-tiba saja sudah ada di Oxford. Woalah, ini film membingungkan sekali. Mana perjuangannya? Mana mimpinya? Mana cara-caranya? Semua adegan dalam film tidak mendapat penjelasan yang cukup.

Tapi penonton nangis kok?

     Tenang saja, saya pun mengakui, satu-satunya adegan yang juga bikin saya nangis adalah saat Tupon hendak membelikan pensil Sekar yang hilang padahal saat itu sudah larut malam dan hujan besar. Lagu Ungu, Doa untuk Ibu, sukses membuat air mata saya mengalir, meski harus pake drama Tupon jatuh dari sepeda.

     Penampilan Kinaryosih masih terbilang layak apresiasi dipadu dengan chemistry Chelsea Riansy. Akting mereka cukup mengena di tengah bobroknya struktur penceritaan. Sayangnya, begitu Sekar dewasa, feel film ini hilang. Memasang Acha Septriasa, nampaknya terlalu dipaksakan, bukan karena aktingnya tidak bagus, tapi cerita yang terlalu cepat ingin selesai ini sama sekali tidak membangun spirit film itu sendiri. Untungnya, Acha bukanlah aktor abal-abal, scene saat ia di wisuda hingga akhirnya ia harus merelakan kepergian Tupon, juara!!!. Bicara mewek, Acha memang masih juara.

     Bicara tentang pendidikan, yang sangat relate dengan kehidupan masyarakat Indonesia, juga moment tayang yang tepat tidak dimanfaatkan oleh sutradara dengan baik. Upz, ternyata om Sahrul Gibran, adalah sutradara perdana, dan ini pertama kalinya menyutradarai film panjang. Ok, dimaklumi. Namun sayang cerita pun tidak digarap dengan baik padahal ditulis oleh penulis skenario film Denias, Senandung di Atas Awan lho.. Ah ya sudahlah, toh view cantik Gunung Kidul mampu menyelamatkan film ini.

Mars sebetulnya punya potensi yang kuat dari segi cerita, aktor juga lokasi. Sayang potensi itu jatuh ke sutradara yang kurang tepat.

Iklan