Tag

, , , , ,


IMG_20160416_140845

     Tanggal 21 April yang diperingati sebagai hari Kartini dimanfaatkan oleh rumah produksi MNC Pictures untuk memfilmkan pahlawan tersebut yang dikemas dalam SURAT CINTA UNTUK KARTINI (SCUK). Disclaimer! Film ini murni fiksi dengan latar belakang sejarah, itu yang akan penonton dapatkan di akhir film ini. Lantas apa yang ditawarkan SCUK?


Setiap kali saya melihat trailernya di bioskop, saya selalu jatuh cinta sama trailer SCUK ini. Sudah terlihat banget bagaimana film ini dibuat dengan “niat” yang besar. SCUK mencoba memotret kisah cinta Kartini (Rania Putrisari) dengan tokoh fiktif, Sarwadi (Chico Jericco), seorang tukang pos yang secara kebetulan mengantarkan surat ke kediaman Kartini.

     Sebagai rakyat jelata, Sarwadi memang terlampau berani menyatakan cintanya pada putri ningrat dari golongan bangsawan. SCUK terus menerus menggali perasaan cinta Sarwadi terhadap Kartini, bahkan anaknya sendiri, Ningrum (Christabelle), menjadi “korban” agar ia bisa terus berdekatan dengan Kartini. Ningrum dibawa ayahnya agar bisa menjadi perempuan pandai seperti Kartini. Ia pun meminta Kartini untuk mengajari Ningrum “sesuatu”. Cintanya yang besar terhadap Kartini, membuat salah satu tokoh wanita yang mencintai Sarwadi terbakar cemburu dan perlahan mundur dari scene film.

     Mimpi Sarwadi yang menambahkan namanya menjadi Sarwadi Putra RajaLangit ini menjadi bahan tertawaan sahabatnya Mujur (Ence Bagus). Ya iya, mana bisa seorang jelata menjalin relasi spesial dengan seorang bangsawan. Ibarat Lagu Project Pop, “apakah mungkin seorang biasa menjadi pacar seorang superstar?’. Yach harusnya mungkin aja sich (sekedar menghibur diri, karena saya berharap sama Acha Septriasa, LOL).

     Ambisi kisah cinta fiksi yang menarik ini, dibumbui oleh ambisi lain yakni perjuangan Kartini itu sendiri. Perjuangan Kartini tentang emansipasi wanita terutama perempuan Jawa untuk memperoleh pendidikan yang setara dengan kaum laki-laki. Faktanya, dalam film perjuangan Kartini hanya diselipkan melalui narasi-narasi dangkal di beberapa scene. Perjuangan Kartini akan ide dan pemikirannya justru tidak didukung oleh visual dan penggambaran yang baik. Kurangnya “rakyat jelata” yang memperkuat adat yang berlaku di sana, kurangnya “perempuan” yang hanya sebagai ibu rumah tangga. Jadinya, film ini terlihat seperti potret Kartini yang berjuang melawan batinnya sendiri. Bagaimana ia harus menerima pinangan lelaki yang sudah beristri, karena usia Kartini yang sudah tidak muda lagi. Itu sebabnya, perempuan Jawa kala itu, tidak ingin pandai karena tidak ingin seperti Kartini yang “susah laku”.

      Romansa perasaan Sarwadi dan perjuangan Kartini nampaknya dua ambisi yang ingin dipotret oleh film ini. Sayangnya keduanya jadi serba nanggung, sosok Sarwadi pun hanya menggambarkan prajurit yang mencintai ratunya, perjuangan Kartini pun hanya numpang lewat, begitu juga MNC nampaknya hanya memanfaatkan moment saja.

     Meski terjebak pada 2 ambisi yang masih setengah matang itu, tidak serta merta membuat film SCUK jatuh ke lubang yang teramat dalam. Pemeranan Mujur dan Ningrum cukup mengangkat SCUK sedikit ke level yang lebih baik, ditambah pula kostum dan tata musik yang mengalun indah sepanjang durasi film. Namun ya, sekali lagi, amat disayangkan, hal ini kurang dimanfaatkan oleh Azhar Kinoi Lubis untuk dijadikan kelebihan-kelebihan SCUK yang utuh dan terpadu. Padahal di film sebelumnya yang baru tayang sebulan lalu, Blusukan Jakarta, saya begitu menikmatinya.

Kapan kelar?

     Itu pertanyaan saya selama menonton film SCUK. Jangankan larut pada cerita, untuk peduli pada tokohnya pun saya sulit. Untungnya, kebosanan saya selama 117menit30 detik, dibayar lunas oleh 30 detik di akhir lewat penampilan singkat Acha Septriasa, subjektif ini mah. Meski, saya masih bingung peran apa yang Acha mainkan.

Iklan