Tag

, , , , ,


blusuka jakarta

Hanya 18 Film Indonesia yang saya tonton selama masa tayang Januari – Maret 2016.

     Maret telah berlalu. Comic 8 Casino Kings Part II sudah turun layar di sebagian besar bioskop di tanah air. Menarik memang, baru 3 bulan, di 2016 ini sudah ada 2 film yang mendapat penonton lebih dari satu juta yakni London Love Story dan Comic 8 Casino Kings Part II. Bahkan, jumlahnya melebihi ekspektasi saya yang memprediksi London hanya akan mampu meraup 800rb an, tak jauh beda dengan pendahulunya Magic Hour, dan Comic 8 CK II yang saya prediksi hanya meraup 1,5 juta penonton rupanya 300rb di atas prediksi saya penontonnya. Nampaknya kedua film ini sudah siap bersaing di IBOMA (Indonesian Box Office Movie Award) 2017 di gelaran yang kedua.

     Lalu bagaimana dengan nasib 16 Film Indonesia lainnya yang saya tonton selama triwulan pertama 2016?

     Latar luar negeri masih dijadikan pesona para sineas untuk melakukan pengambilan gambar sebagai bahan filmnya. Sebut saja, Praha yang dilirik oleh sutradara Angga Dwimas Sasongko lewat Surat Dari Praha, Turki yang diambil oleh Bambang Drias lewat Romansa, juga ada Paris yang disunting oleh Benni Setiawan lewat Waalaikumussalam Paris.

Tiket Januari 2016

Tiket Film Indonesia bulan Januari 2016

     Romansa masih mengambil formula “jalan-jalan”. Memperkenalkan sudut-sudut Turki pada penontonnya, sayangnya saya yang sudah nonton film sejenis seperti 99 Cahaya di Langit Eropa, Turki dalam Romansa biasa saja. Cerita dan konfliknya pun tidak kuat. Ada sedikit keinginan dari Romansa menyisipkan budaya nasional lewat tarian Gending Sriwijaya, sayangnya semuanya tidak diolah menjadi kesatuan cerita yang utuh.

     Beda dengan Surat Dari Praha, ia bukan film “jalan-jalan”. Angga masih mengandalkan cerita dan konflik yang kuat untuk filmnya. Duet maut Julie Estelle dan Tio Pakusadewo cukup mampu menghidupkan karakternya yang menjadi inti dari kekuatan film ditambah tata musik yang membaur dengan adegan demi adegan. Sayangnya, menurut saya, pengenalan tokohnya terlalu lama, lebih dari satu jam durasi film dihabiskan untuk itu dan saya pun berusaha sekuat tenaga menahan kantuk.

     Sudut pandang lain dihadirkan oleh Benni Setiawan. Di saat Romansa dan Surat Dari Praha senang dengan visual-visual kemewahan, justru Waalaikumussalam Paris hadir berbeda. Jangan harap nonton film ini mendapat Paris yang lengkap dengan Menara Eiffelnya, anda akan terkejut dengan sebuah rumah di pedesaan yang dikelilingi kebun anggur.

Tiket Februari 2016

Tiket Film Indonesia bulan Februari 2016

     Yach, jika latar luar negeri menarik para sineas, latar lokal dan kehidupannya pun juga sama menariknya. Eddie Cahyono memotret Jogjakarta dan salah satu tokoh perempuannya dalam film SITI. Latar budaya dan kearifan lokal sangat kuat menonjol dalam film ini. Sayangnya, layar 4:3 serta warna hitam putih justru menjadi “bisu” tak mampu bicara apa-apa, itu semua hanya gimmick saja. Tanpa itu, SITI akan biasa saja.

     Pindah ke ibu kota negera, Jakarta. 3 Film memotretnya dengan apik. Kisah cinta seorang wanita pegawai salon dan sang lekaki seorang penerjemah subtitle DVD bajakan yang harus hidup di tengah kekacauan politik bangsa dibalut oleh Joko Anwar dalam A Copy of Mind.

     Keisengan orang-orang Jakarta dengan beragam profesi mulai dari seorang bos yang iseng genit terhadap sekretarisnya, seorang perempuan desa yang iseng mencari kerja dengan menjadi pekerja seks komersial, juga ada seorang lesbi yang iseng bercinta dengan pasangan yang baru dikenalnya, membawa mereka ke dalam sebuah petaka. Jalinan cerita yang runut atas keisengan mereka digambarkan dengan cukup baik oleh Adrian Tang dalam ISENG.

     Lain dengan A Copy of Mind dan Iseng yang menghadirkan tokoh lokal, Blusukan Jakarta mencoba berbeda dengan menampilkan tokoh utama seorang jurnalis bule yang terjebak di sebuah perkampungan karena seorang anak kecil mencuri kameranya. Tragedi kamera ini membawa sang jurnalis bersentuhan dengan kaum marginal (baca: pinggiran) yang hidup dengan konfliknya sendiri, mulai dari kaum pekerja seks komersial, anak jalanan hingga para preman. Semua kaum marginal ini pada akhirnya bersinggungan menjadi satu jalinan cerita yang “menampar” penontonnya. Azhar Kinoi Lubis sukses menjadikan Blusukan Jakarta sebaga sebuah tontonan yang inspiratif dan terasa real.

Tiket Film Maret 2016

Tiket Nonton Film Indonesia bulan Maret 2016

     Dari latar kita beralih ke genre. Religi masih menjadi daya tarik untuk menggaet penonton “sekali lepas. Maksudnya yang cuma sekali nonton ke bioskop, udahnya balik lagi ke majlis taklim dan nggak nonton lagi, bakalan nonton lagi kalau ada film yang serupa. Ketika Mas Gagah Pergi, Talak 3 dan Pesantren Impian. Waalaikumussalam Paris pun boleh dimasukkan dalam genre ini dan akan dijadikan perbandingan untuk ketiga film tersebut.

    Ketika Mas Gagah Pergi. Drama religi ini terlampau kentara dalam hal ceramah. Lebay dan berkepanjangan. Begitu juga dengan Talak 3, religi di sini hanya sebagai pemancing penonton sekali lepas untuk keluar dari kandangnya. Sama halnya juga dengan Pesantren Impian yang menyandingkan genrenya dengan thriller. Jika bicara konten religi, ketiga film ini masih tidak terlalu sempurna, justru Waalaikumussalam Paris yang mungkin tidak diniatkan sebagai film religi malah lebih berhasil “menceramahi” penonton tanpa perlu ceramah ala Mamah Dedeh.

Film religi tidak dilihat dari aktornya berkerudung atau tidak, tapi bagaimana ia mampu menyisipkan muatan agama dengan cermat ke dalam skenario dan mengubahnya dalam adegan perilaku

     Sebagai pecinta horror dan thriller, tentu bagian ini akan saya bahas pula. Di genre ini ada pertarungan MidNightShow vs Wanita Berdarah juga Pesantren Impian. Lupakan Wanita Berdarah! Begitu juga dengan Pesantren Impian. Sebagai sebuah film thriller sama sekali tidak ngethrill. Mari kita lihat MidNight Show. Film yang dibintangi aktor favorit saya Acha Septriasa ini berhasil dari segi rasa. Meski di tengah film tensi sempat menurun dan ada beberapa penempatan musik yang saya rasa tidak sesuai dengan keadaan, MidNight Show berhasil memberikan suguhan cerita yang apik. Oia, selain ketiga thriller di atas, ada satu film horror Dilarang Masuk karya Nayato, ah tapi sama lupakan saja!

iseng

       Mengakhiri tulisan saya ini, 6 film Indonesia mendapat tempat yang lebih di hati saya. JINGGA yang berhasil memotret kehidupan normal para tunanetra tanpa bumbu kasihan yang dramatik dan sangat detail dalam pengeksekusian gagasannya, ISENG yang berhasil mengolah para pendatang baru bermain cantik dan pas merajut pada satu kesatuan cerita yang utuh, BLUSUKAN JAKARTA yang mampu menampar jurnalistik yang akhir-akhir ini sering dibayang-bayangi oleh penguasa medianya, MIDNIGHT SHOW yang memberikan sensasi tegang dengan pengenalan tokoh yang teratur, WAALAIKUMUSSALAM PARIS yang mampu menyajikan luar negeri dengan sudut pandang berbeda juga mampu ceramah dengan bijak, dan tentunya AACH AKU JATUH CINTA yang bikin saya jatuh cinta pada semua aspeknya dan makin jatuh cinta sama Film Indonesia.

     Jadi, selama triwulan pertama 2016, Film Indonesia apa saja yang kamu tonton di bioskop?

Iklan