Tag

, , , , , , ,


Percaya dalam gelap, sinarkan menyala harapan kan ada, berhentilah berputus asa, ku pasti bisa

        Penggalan lirik lagu di atas yang membangunkan saya setiap pagi, meski bukan lagu religi tapi setidaknya RAN bisa membantu saya untuk bangkit dan berdiri dari tempat tidur menuju toilet. Seperti biasa, ambil air wudhu dan kemudian shalat subuh. Ah, rupanya ini hari libur. Ingin rasanya kembali ke pulau kasur, namun cermin di depan kamar menarik saya untuk memperhatikannya lebih dekat. Rupanya sosok laki-laki ganteng dan penuh percaya diri yang saya lihat di cermin itu.

      Saya pun berbalik dari cermin itu dan mengambil secarik kertas di bawah meja. Itu adalah hasil medical test seminggu lalu. Yupz, saya sehat, tak ada penyakit apa pun yang mungkin akan bikin saya putus harapan. Cermin dan kertas itu mengingatkan saya untuk tetap bersyukur atas karunia yang telah Tuhan berikan. Alhamdulilah. Tapi kemudian saya bertanya, kenapa Tuhan tidak adil. Dua manusia, Mia dan Jingga tidak diberikan seperti apa yang Tuhan berikan pada saya. Mia divonis kanker paru-paru, sementara Jingga harus merasakan buta permanen dan menutup indahnya cermin itu. Mengapa?

      Mia. Seorang perempuan berusia 24 tahun yang divonis kanker paru-paru oleh dokter. Penyakit serupa yang juga merenggut nyawa ibunya dahulu. Mia tentu khawatir akan penyakit itu terlebih ia memiliki cita-cita untuk membuat sebuah pertunjukan teater. Berhasilkan Mia dengan mimpinya?

    Jingga. Seorang lelaki, masih SMA namun ia harus merasakan buta permanen. Awalnya, ia hanya menderita low vision, namun karena pemukulan yang dilakukan oleh teman sekolahnya, membuat matanya menjadi buta permanen. Kondisi ini diperparah oleh penolakan ayahnya yang membuat Jingga frustasi. Lalu, bagaimana ia menghadapi hari-harinya?

      Kisah Mia dan Jingga di atas coba diangkat ke layar lebar dalam dua film yang berbeda yang tayang pada bulan Februari 2016 lalu. Mia dan penyakit kankernya dirangkai dalam film besutan Adilla Dimitri lewat I AM HOPE, sementara Jingga dengan kebutaannya diangkat oleh Lola Amaria dalam film berjudul sama, JINGGA.

jingga poster

Bagaimana eksekusi I am Hope dan Jingga?

     I am Hope tayang pada tanggal 18 Februari 2016 dan Jingga seminggu setelahnya. Film yang mencoba membangkitkan harapan dari para penderita kanker ini tampil baik dari segi alur penceritaan. Penulis skenario I am Hope mencoba menggambarkan kisah Mia, kanker dan teaternya secara linear dengan menggunakan formula timestamp. Mulai dari bulan ke-1, ke-2 hingga bulan ke-8. Penonton akan disuguhkan bagaimana Mia menjalani sisa usianya yang diprediksi hanya 8 bulan saja dengan penuh mimpi dan harapan. Sayangnya alur yang kuat ini justru diperlemah oleh penampilan Mia itu sendiri. Tatjana Saphira yang dipercaya memerankan Mia belum sepenuhnya mampu mengikat emosi saya untuk masuk ke dalam kehidupannya. Jika dibandingkan dengan film sebelumnya, Negeri van Oranje, memang performa Tatjana sedikit meningkat.

       Berbeda dengan I am Hope, Jingga memilih para pemeran baru untuk memperkuat cerita dari departemen akting. Terpilihlah Hizfane Bob sebagai Jingga dan temannya Hany Valerie sebagai Nila. Jingga dan Nila adalah dua cast terdepan film ini yang bermain sangat apik. Bagaimana mereka menjadi tunanetra, betul-betul dilakukan riset dengan mendalam. Performa mereka juga didukung apik oleh skript Jingga yang betul-betul detail. Jadinya skenario dan akting melengkapi JINGGA melenggang mulus sebagai calon film Indonesia paling keren tahun ini.

MIMPI dan HARAPAN di tengah KETERBATASAN

      Akhir cerita I am Hope amat sangat mudah ditebak. Sebagai oase bagi para penderita kanker, film ini memang diniatkan untuk tetap menjaga semangat mereka dalam bermimpi. Pada akhirnya, Mia berhasil membuat pertunjukan teater yang ia sutradarai sendiri. Bahkan, pertunjukan tersebut berhasil mendatangkan sejumlah artis mulai dari Kelly Tandiono, Hamish Daud, Sophia Latjuba hingga Prisia Nasution. Sayangnya mereka hanya berfoto di red carpet pertunjukkan, lalu tidak terlihat lagi di antara barisan penonton di dalam gedung. Kemanakah mereka?

i am hope poster

      Sedikit berbeda dengan I am Hope, Jingga tidak diniatkan untuk mimpi yang menggebu-gebu untuk berhasil. Jingga bersama ketiga kawannya yang beruntung mendapat kontrak rekaman justru berakhir tragis. Mereka harus kehilangan salah satu sahabatnya.

     Klise?? Ya keduanya memang klise. Yang satu berakhir dengan bahagia yang satu lagi berakhir dengan kesedihan. Namun ada perbedaan mencolok dari eksekusi keduanya. Kanker dalam I am Hope hanya dijadikan latar tokoh utama saja, tidak ada eksplorasi lebih jauh. Bagaimana Mia bisa terkena kanker? Apakah karena ibunya dahulu terkena penyakit kanker? Apakah kanker penyakit keturunan? Dan yang terpenting kenapa harus kanker? Karena tidak hanya orang penderita kanker yang bisa mewujudkan impiannya, bahkan orang tunanetra sekalipun.

     Beralih layar pada Jingga, saya disuguhkan bagaimana awal mereka menjadi tunanetra. Ada yang tunet karena limbah air pabrik, ada pula yang sejak dalam kandungan. Jingga memperlihatkan bagaimana tunet juga hidup sebagaimana manusia awas lainnya. Bagaimana mereka menyebrang jalan, naik angkot, nonton film, main musik juga main futsal. Tidak perlu menggebu-gebu namun emosi saya dibawa perlahan masuk ke permainan mereka.

        Penyusunan alur progresif yang disusun Jingga, memang tidak ditemukan dalam I am Hope. Bahkan di saat I am Hope didukung oleh tata kamera, tata musik juga para pemain pendukung yang handal, I am Hope tidak berhasil membuat saya larut ke dalam permainan ceritanya. Terkesan dangkal di banyak sisi, dan semuanya hanya menjadi tempelan saja. Untungnya, I am Hope ini diselamatkan oleh emosi Tio Pakusadewo yang bermain maksimal. Scene terbaik di film ini adalah saat ayahnya Mia mendapati bahwa putrinya, juga terkena penyakit kanker. Emosinal. Good Job!! Sementara Jingga, ia berhasil membawa saya masuk ke dalam lika liku perjalanan hidupnya terutama saat scene menabuh drum ketika ia divonis buta permanen. Depresi!!!

      Yeah, pada akhirnya film-film bertema human interest (penyakit atau disabilitas) memang tidak akan terlalu menarik penonton untuk berbondong-bondong ke bioskop. Jingga ataupun I am Hope sama-sama film yang kurang beruntung dalam hal peraihan penonton, meski I am Hope bisa sedikit bernafas lega karena berhasil mengumpulkan sekitar 30rb penonton dibanding Jingga yang untuk mencapai angka 10rb pun masih belum mampu.

       Angka yang dikumpulkan memang tidak selamanya sejalan dengan kualitas filmnya, Jingga memang tampil jauh lebih baik dari I am Hope. Namun, saya tetap mengapresiasi seluruh produser, sutradara dan kru yang pastinya telah susah payah membuat film tersebut hingga bisa disaksikan di bioskop oleh masyarakat luas. Tetap semangat berkarya untuk film Indonesia, jangan pernah menyerah, tetap bermimpi seperti Mia, tetap semangat seperti Jingga, karena percayalah saya masih setia menjadi satu dari ribuan tiket yang disobek penjaga pintu bioskop.

Dari Mia dan Jingga saya belajar bagaimana hidup sempurna itu, ialah hidup yang berserah diri pada Tuhan

Iklan