Tag

, , , , ,


Apa yang membuat sebuah pesantren ini begitu diimpikan para santrinya?

      Ada 4 hal yang menarik (yang bisa jadi modal awal) dari film Pesantren Impian yang menghipnotis saya untuk beli tiket dan duduk di kursi studio 4 XXI Empire BIP pada Jumat, 4 Maret 2016 show ke-2. Apa Saja?

  1. Film ini diadaptasi dari novel best seller (katanya) karya Asma Nadia. Seperti yang kita tahu, novel Asma Nadia menjadi yang paling laris di filmkan akhir-akhir ini, bahkan karyanya Surga Yang Tak Dirindukan menjadi film terlaris tahun 2015.
  2. Aktor utama film ini adalah Prisia Nasution. Ia adalah salah satu dari 3 aktor wanita favorit saya selain Acha Septriasa dan Revalina S. Temat. Demi apa saya hanya ingin nonton film ini karena memang ada Prisia Nasution. Apalagi film ini kembali mempertemukan Prisia dengan sutradara yang pernah mengantarkannya meraih piala citra Pemeran Utama Wanita Terbaik FFI lewat Sang Penari, Ifa Isfansyah yang kembali duduk di bangku sutradara.
  3. Pesantren Impian juga diperkuat oleh aktor senior Deddy Sutomo yang meraih 3 penghargaan sekaligus di tahun yang sama yakni Pemeran Utama Pria Terpuji FFB 2015, Pemeran Utama Pria Terbaik FFI 2015 dan Pemeran Utama Pria Terpilih Piala Maya 2015
  4. Film ini mengusung genre thriller yang diembel-embeli dengan religi. Ya, thriller religi.

Apakah kekuatan itu menjadikan Pesantren Impian menjadi suguhan yang apik atau malah justru sebaliknya?

      PESANTREN IMPIAN bercerita tentang 10 orang santriwati dengan masa lalunya masing-masing ada yang sebagai pecandu narkoba, pekerja seks komersial (PSK) dan hamil di luar nikah. Mereka sama-sama ingin memperbaiki diri dan bertaubat di Pesantren Impian. Namun dari sederet santriwati tersebut ada seorang polwan yang menangani kasus pembunuhan di salah satu hotel dan mendapat petunjuk bahwa tersangkanya ada di Pesantren Impian. Ia menyamar sebagai Eni (Prisia Nasution). Mampukah Eni mengungkap kasus ini?

       Pesantren Impian menawarkan genre yang bisa dibilang unik. Jika selama ini genre yang dibalut dengan religi ini adalah drama biasa, kini genre thriller yang dibingkai dengan religi. Sebagai film religi, dakwah dalam Pesantren Impian tidak menggebu-gebu, tidak lebay juga tepat masuk ke adegan film. Konsep religinya lebih banyak diwakilkan oleh tokoh Ustadzah Hanum (Sita Nursanti) yang tidak pernah bosen mengingatkan Eni untuk tetap dekat dengan Tuhannya.

Saya tidak pernah liat kamu sholat dan ngaji, semoga Tuhan tidak lupa sama kamu ya Eni

      Tujuan Eni mengungkap kasus pembunuhan yang mengarah pada salah satu santriwati, Inong (Dinda KanyaDevi), rupanya dikacaukan dengan kasus lain yakni pembunuhan santriwati satu persatu. Yach, ¾ film Pesantren Impian, diisi oleh teka-teki untuk menemukan siapa pelaku teror di Pesantren Impian. Dari alur yang tersedia, rasanya penulis skenario belum mampu membuat alur yang baik untuk sebuah film thriller. Eni dibiarkan asyik sendiri mengungkap kasus ini tanpa memberikan clue (petunjuk) yang progresif terhadap penonton. Akibatnya, empati penonton terhadap tokoh dan kasus tersebut tidak turut serta. Namun bukan MD Pictures namanya jika tidak cerdik, apalagi memasang nama Hanung Bramantyo di kursi produser. Menyianyati hal ini, Pesantren Impian menambah atmosfer suasana mencekam. Sayangnya, suasana ini pun lebih banyak ditimbulkan oleh scoring musik yang nggak penting, alangkah lebih baik jika suasana seram itu ditimbulkan dari suara-suara alami seperti suara buka pintu, suara air hujan, suara ombak, suara pohon yang diterpa angin. Musik dalam Pesantren Impian tak jauh beda dengan film horror kebanyakan, hanya bumbu menakutkan yang tak memiliki makna.

      Duet maut Prisia Nasution dengan sutradaranya Ifa Isfansyah pun tidak tergarap dengan baik. Prisia memang tidak tampil jelek namun tidak juga spektakuler, meski begitu usaha Prisia menghidupkan karakternya begitu terasa. Sayang performa Prisia ini ikut terbunuh bersama scriptnya yang buruk.Tidak hanya Prisia yang ikut terbunuh, kehadiran Deddy Sutomo, Fachri Albar dan tokoh lainnya pun sama-sama tidak menyelematkan Pesantren Impian dari kejaran pembunuhan, semuanya terbunuh oleh skenario.

poster pesanteen impian

      Emosi Eni mulai memuncak saat Ustadzah Hanum juga terbunuh. Siapa yang membunuh Ustadzah Hanum? Di sinilah letak kebobrokan skrip Pesantren Impian. Di saat suasana mencekam sudah dibuat dengan cukup apik, ¼ film menjatuhkannya dengan tiba-tiba. Nampaknya Pesantren Impian kebingungan dan terburu-buru mengakhiri akhir cerita ini dan pada akhirnya logika-logika terabaikan. Seakan berkata “Ya udah diginiin aja lah”.

Lalu siapakah pembunuhnya?

     Melihat alur yang asyik sendiri itu, nampaknya Pesantren Impian perlu belajar dari film Midnight Show bagaimana ia membangun teka-teki dan mengenalkan karakternya satu – persatu dengan cukup baik. May be maksud Pesantren Impian ingin mengecoh penonton dalam menebak siapa pembunuhnya, sayangnya penonton tidak digiring untuk itu dan malah diakhiri dengan tiba-tiba tanpa diperkenalkan. Lebih kesalnya lagi, 5 orang penonton berhijab di baris belakang saya, tidak berhenti ngoceh sepanjang film diputar, sudah masuk telat pula. Mengganggu!!! Tebakan saya mereka adalah fans alay Asma Nadia yang sudah membaca novelnya.

     Sebagai pecinta film horror/thriller, Pesantren Impian tampil mengecewakan. Dan sudah bisa disimpulkan yang jadi pembunuh sebenarnya adalah skenario film itu sendiri.

Yach, mungkin ini hanya project iseng MD Pictures dan Asma Nadia agar bisa bekerja sama kembali membuat sekuel Surga Yang Tak Dirindukan 2 yang pasti akan menuai sukses secara finansial.

Iklan