Tag

, , , , ,


Ketika Mia Yakin akan Mimpinya, Yakinkah Ia terhadap Penyakitnya?

    Mia. Dia seorang perempuan yang hidup dengan ceritanya sendiri. Tinggal bersama ayah dan saudara perempuannya juga memiliki cita-cita besar ingin mengadakan sebuah pertunjukan teater. Namun ternyata untuk mewujudkannya tak sesederhana impiannya. Mia adalah gadis muda yang divonis dokter mengidap penyakit kanker. Penyakit inilah yang terus menghantui Mia yang mungkin akan mengakibatkan peristiwa kelam keluarganya beberapa tahun silam akan terulang kembali.

    Keluarga Mia adalah keluarga yang berkecukupan. Sayangnya, penyakit kanker ini juga yang merenggut nyawa sang ibunda terlebih dahulu. Mia takut ayahnya akan sedih kembali, ekonomi keluarga juga akan terpuruk kembali dan yang paling tragis, Mia takut kehilangan impiannya.

    Vonis kanker tidak menyurutkan usahanya untuk mewujudkan impiannya. Ia sangat bersyukur mendapat dukungan dari seorang wanita yang ia sebut Wanita Bernuansa Pelangi. Pelangi ini yang selalu menemani setiap langkah Mia menjadi berwarna dan tetap kuat menjalani hidup dan impiannya.

    Suatu hari Mia mengunjungi sebuah PH (Production House) untuk menemui seorang Produser terkenal dan mengirimkan naskah itu kepada sang produser. Setibanya ia di sana, Mia malah memperoleh kekecewaan. Mia tidak berhasil bertemu dengan sang produser. Dengan penuh kekesalan Mia berbalik pulang. Langkahnya gontai. Di sebuah lorong sempit yang ia lewati, Mia tertarik sebuah poster tentang pertunjukkan kecil yang sedang berlangsung. Mia pun masuk dan menyaksikan pertunjukan itu.

     Dalam keheningan pertunjukan, pandangan Mia terpaku pada sesosok aktor tampan yang membuat detak jantung Mia tidak seperti biasanya. Mia seperti merasakan adanya sebuah ikatan dengan pria tersebut. Selesai pertunjukan, Mia hendak bergegas pulang. Takdir mempertemukannya dengan pria tersebut, yang menjadi awal perkenalan mereka. Mia pun menjalin komunikasi lebih intensif dengan David. Ya, David nama pria itu. Dari komunikasi ini David mengetahui cita-cita Mia dan bersedia membantunya bertemu dengan seorang produser hebat, Rama Sastra. Bagai pelangi yang hadir di tengah hujan, upaya David dan Mia tersebut ternyata membuahkan hasil yang sangat baik. Mereka berhasil membuat Rama Sastra setuju untuk membaca naskah tersebut, bahkan Rama bersedia untuk mewujudkan pertunjukan teater tersebut.

    Mia pun kembali bersemangat seolah ia tidak sedang terkena penyakit kanker. Ia begitu yakin akan mimpinya. Dengan dukungan David dan Wanita Bernuansa Pelangi, Mia melakukan satu – persatu persiapan agar pertunjukan teater tersebut bisa terlaksana dengan baik. Sampai di titik akhir usaha Mia, di mana mental yang melampaui fisik tidaklah cukup lagi, Mia harus istirahat di atas tempat tidur rumah sakit. Mia cukup frustrasi harus menjalani operasi pengangkatan sel kankernya, namun ia tidak menyerah. Keteguhan semangat Wanita Bernuansa Pelangi menyelimuti hati Mia yang juga tidak pernah padam, mengajaknya untuk menyelesaikan apa yang telah mereka mulai.

Bagaimana Mia dan kanker selanjutnya?

    Mia harus dioperasi namun dokter juga menyarankan Mia untuk melakukan pengobatan kanker secara alternatif tradisional. Mia dan keluarganya pun mengikuti saran dokter tersebut untuk berobat secara tradisional. Dengan segala daya dan upanyanya, Mia bertemu dgn Mr. Pang, ahli obat herbal yang dirujuk oleh dokter rumah sakit tempat Mia berobat. Sesampainya di sana, rupanya Mr. Pang menyarankan untuk mengkombinasikan pengobatannya dengan terapi medis dari dokter. Mia dan ayahnya kebingungan dan hampir putus asa, karena dokter medis yang menanganinya pun telah menyerah mengobati penyakit Mia.

    Akhirnya terjadilah perdebatan sengit (yang lazim terdapat di masyarakat kita sehari-hari) mengenai pengobatan kanker antara Mr. Pang dan dokter. Sang dokter tetap bersikeras bahwa medis sudah tidak bisa membantunya sementara Mr. Pang pun tidak bisa bekerja sendiri. Dari perdebatan ini terungkap banyak hal mengenai kanker mulai dari penyebab, cara pencegahan dan cara mengobatinya. Hal ini menuntun Mia pada keputusan ia harus menerima dengan apa yang sudah Tuhan gariskan untuk hidupnya. Mia yang sangat yakin bisa mewujudkan mimpinya, apakah ia juga yakin akan penyakitnya???


    Itu adalah kisah Mia yang bisa anda saksikan dalam film terbaru produksi Alkimia Production berjudul “I am Hope”. Namun tentunya dua paragraf terakhir mengenai akhir cerita seorang Mia adalah hasil imajinasi saya sendiri. Kenapa endingnya harus ada perdebatan tentang kanker itu sendiri?

poster film i am hope

Poster Film I am Hope yang akan tayang mulai 18 Februari 2016

    Sebuah klise dalam perfilman nasional terlebih genre drama, selain kisah cinta yang lebay pasti salah satu tokoh utamanya dibumbui dengan “sakit parah”. Tentu anda familiar dengan judul-judul seperti Surat Kecil Untuk Tuhan, Sebuah Lagu Untuk Tuhan, Assalamualaikum Beijing, Heart, Love is Cinta dan berbagai judul lainnya. Mereka bercerita tentang kisah cinta dengan salah satu tokohnya menderita sakit parah, tetapi sangat jarang mengeksplorasi dan memberikan pencerahan kepada penonton mengenai penyakit itu sendiri.

    Tahun lalu, sebetulnya ada film yang sudah mulai mengarah ke arah sana yakni NADA UNTUK ASA yang mengisahkan bagaimana perjuangan bertahan hidup seorang penderita HIV/AIDS di tengah-tengah masyarakat yang masih awam dan stigma negatif terhadap penderitanya. Sayangnya, film yang juga turut dimainkan oleh Wulan Guritno ini pun masih kebingungan mengeksekusinya, hingga akhirnya penyakit hanya dijadikan bumbu dramatik sekedar memancing tangis penonton tanpa pernah ada edukasi mendalam tentang penyakit tersebut.

    I am Hope sesuai judulnya, dengan ending seperti itu, diharapkan akan menjadi harapan baru bagi perfilman nasional yang menjadikan penyakit sebagai latar dan kekuatan utama filmnya. Melalui I am Hope, penonton akan tersadar tentang penyakit kanker, cara pencegahan dan pengobatannya.

     I am Hope pun bisa menjadi harapan untuk Mia bagaimana ia menerima takdir yang sudah digariskan untuk hidupnya. Kenapa demikian? Karena harapan itu ada ketika pasrah pada ketentuan Tuhan dengan tetap melakukan yang terbaik bukan pada pemaksaan kehendak diri manusia.

    Pada dasarnya memang akhir sebuah film setidaknya ada dua yakni sedih atau bahagia. Jika saya sebagai penulis skenario bisa saja saya “menyembuhkan” Mia dan pertunjukan teaternya sukses atau saya “mematikan” Mia dan impiannya. Namun perlu diperhatikan, faktanya kanker adalah penyakit yang dekat dengan kematian meski tak sedikit pula yang sembuh. Selain itu saya bukanlah Tuhan, jadi sangat penting sekali menjaga kelogisan cerita (yang masih menjadi kelemahan utama skenario film Indonesia) dengan ending menggantung namun tetap memiliki pesan positif. Oleh karenanya saya memilih mengekplorasi penyakit kanker dan akhir Mia menerima garis hidupnya dengan tetap melalukan hal-hal yang bisa ia lakukan. Jika seperti itu, I am Hope akan selangkah lebih maju dari kebanyakan perfilman nasional yang hanya menjadikan penyakit sebagai latar yang tidak pernah dieksekusi secara mendalam.

    Film I am Hope mempercayakan tokoh Mia pada aktor pendatang baru Tatjana Saphira. Semoga I am Hope juga menjadi harapan bagi Tatjana untuk mengekplorasi kemampuan aktingnya dibandingkan film-film sebelumnya. Film yang terinspirasi dari gerakan gelang harapan ini akan ditayangkan secara reguler mulai tanggal 18 Februari 2016 di bioskop-bioskop tanah air. So, jangan lupa nonton catet tanggalnya ya guys.


    Kalian juga bisa lho, ikutan nebak-nebak akhir cerita seorang Mia dalam film I am Hope ini dan berpeluang mendapatkan hadiah total 30 juta dari Uplek.com. Sebelum nulis, pastikan tonton dulu teasernya dan dengerin dulu lagu temanya yang diramu manis oleh RAN

    Finally, I hope, I am Hope semoga bisa menjadi new hope bagi semarak perfilman nasional yang berilmu pengetahuan, mengedukasi tentang kekuatan mimpi, serta pasrah terhadap ketentuan Tuhan. #BanggaFilmIndonesia


“PRE SALE @IAmHopeTheMovie yang akan tayang di bioskop mulai 18 februari 2016. Dapatkan @GelangHarapan special edition #IAmHope hanya dengan membeli pre sale ini seharga Rp.150.000,- (untuk 1 gelang & 1 tiket menonton) di http://bit.ly/iamhoperk Dari #BraceletOfHope 100% & sebagian dari profit film akan disumbangkan untuk yayasan & penderita kanker sekaligus membantu kami membangun rumah singgah”


#GelangHarapan #IamHOPETheMovie #BraceletofHOPE #WarriorOfHOPE #OneMillionHOPE #SpreadHope #InfoUplek

Baca Juga : I am Hope, Dedikasi Nyata Wulan Guritno untuk Perfilman Nasional

Iklan