Tag

, , , ,


posterkmgp

    Lagi dan lagi, film-film religi terlebih diadaptasi dari novel masih menjadi wajah di perfilman nasional. Sukses besar yang diraih Ayat-ayat Cinta (2008) melahirkan genre serupa dengan berbagai polesannya. Ketika Cinta Bertasbih misalnya, masih dari penulis yang sama dengan Ayat-ayat Cinta, namun ditambah embel-embel bahwa pemainnya betul-betul yang “Islami”, tidak ada pegangan tangan, pelukan dan lain sebagainya, Ketika Cinta Bertasbih pun menuai sukses bahkan berlanjut hingga Ketika Cinta Bertasbih 2 yang juga meraih sukses.

     Formula Ketika Cinta Bertasbih lebih dari 5 tahun silam itu, di tahun 2016 ini dipakai kembali oleh Ketika Mas Gagah Pergi. Masih diadaptasi dari novel best seller (katanya) yang ditulis oleh penulis terkenal, Helvy Tiana Rossa, ditambah dengan pemain “Islami” yang dihasilkan dari audisi terbuka, Ketika Mas Gagah Pergi mencoba meramaikan perfilman religi nasional.

Akankah secara jumlah penonton Ketika Mas Gagah Pergi sesukses Ketika Cinta Bertasbih? Terlebih keduanya sama-sama menggunakan kata depan Ketika?

        Ketika Mas Gagah Pergi (selanjutnya KMGP) bercerita tentang seorang adik bernama Gita (Aquino Umar) yang bangga memiliki kakak bernama Gagah (Hamas Syahid). Gita, cewek SMA yang tomboy sementara Gagah adalah sosok laki-laki yang gaul, ganteng, asyik dan menyenangkan buat Gita. Nah, konflik dimulai ketika Gagah pergi ke Ternate, sekembalinya ia pulang semua berubah. Mulai gaul dengan anak-anak rohis secara ekslusif, memelihara jenggot, lebih sering pake baju koko dan lebih suka lagu-lagu nasyid. Gita pun kecewa.

     Lebih dari 70% film ini, sepertinya diisi oleh kegelisahan dan kekecewaan Gita terhadap abangnya yang menurut ia berubah. Sebelum cerita lebih lanjut tentang Mas Gagah, saya akan cerita sedikit juga tentang pengalaman teman saya yang mirip dengan Mas Gagah. Sebut saja Ihsan. Ihsan ini sewaktu SMA adalah anak band, model juga dan gaul. Takdir mengubahnya ketika ia masuk salah satu pesantren di suatu kota selama 3 tahun. Sepulangnya dari pesantren, ia pulang dengan style ala Mas Gagah di KMGP. Ihsan mulai sering nyanyiin lagu-lagu nasyid, bahkan saya pun ikut dibawanya. Dari Ihsan, saya bisa hafal lagu-lagu seperti Edcoustic, Tashiru, Seismic, Shaffix dan sesamanya. Terkejutkah saya? Ya cukup terkejut. Namun keterkejutan saya tidak sereaktif Gita.

    Sampai di sini, saya memang agak sedikit terganggu dengan penokohan Gagah, alih-alih ingin memberikan sesuatu yang positif untuk lingkungan sekitarnya sebagai “oleh-oleh” dari Ternate, justru Gagah terjebak seperti pada krisis identitas menurut saya. Namun salahkah? Tentu tidak! Di usia Gagah yang sepertinya berusia di antara 18-21 (karena ia masih mahasiswa), usia tersebut adalah usia di mana jiwa muda lagi bersemangat-semangatnya dalam mencari ilmu pengetahuan dan selalu mencoba mempraktekkan apa yang ia yakini benar. “Nampaknya Hamas Syahid akan menjadi idola baru para wanita terutama ABG labil pasca sold outnya Fedi Nuril”.

hamas

Hamas Syahid Izzudin pemeran Gagah dalam film Ketika Mas Gagah Pergi. (doc TribunNews)

    Bagi anda yang sudah baca bukunya mungkin bisa paham bagaimana Gagah bertransformasi, namun bagi saya yang hanya menonton filmnya, KMGP tidak memberikan ruang dan waktu kepada penonton untuk menyelami mengapa Mas Gagah berubah. Suntingan film hanya mengantarkan dari adegan ia pergi ke bandara, seketika ia pulang dengan style yang berbeda. Keheranan ini hanya ditunjukkan oleh ekspresi bengong Gita dan mamahnya (Wulan Guritno) melihat perubahan Gagah. Ini salah satu letak kegagalan KMGP. Kenapa? Karena hal ini membuat penonton sulit untuk berempati pada tokoh Mas Gagah. Wajar jika ada yang bilang sebaiknya judulnya diganti dengan Ketika Mas Gagah Pulang.

    Kita tinggalkan sosok Gagah dan Gita, satu lagi tokoh yang unik adalah Yudi (Masaji Wijayanto). Uniknya dimana? Ia adalah anak muda yang suka dakwah di bus-bus dan angkutan umum. Helvy menuliskan tokoh ini memang unik, meski agak sedikit mengganggu. Lucunya, Yudi selalu ceramah di angkutan yang dinaiki Gita. Gita yang sudah kesal dengan ulah Mas Gagah kini harus dipusingkan dengan hadirnya Yudi yang mirip-mirip abangnya itu. Untuk bagian ini, saya cukup merasakan bagaimana menjadi Gita. Kesal, marah, sebel.

    Secara garis besar, KMGP cukup mampu membawa saya masuk ke dalam ruh film dan mengikuti perkembangan para tokohnya. Sebagai pendatang baru, Gita tampil sangat baik dan cukup natural, sementara Yudi dan Mas Gagah ya cukuplah. Performa para pemeran pendukung dan para cameo mulai dari Mathias Muchus, Wulan Guritno, Epy Kusnandar, Irfan Hakim, Joshua Suherman hingga Elly Sugigi justru tampil lebih baik mengisi ruh film KMGP.

     Bicara hal teknis, memang film KMGP di luar ekspektasi saya. Awalnya saya pikir teknisnya akan biasa saja, namun ternyata film yang didanai secara patungan bahasa kerennya crowdfunding ini justru tampil sangat baik dari segi penataan kamera. Gambar-gambar yang dihasilkan cukup banyak bercerita dengan baik. Satu hal yang perlu saya apresiasi dari film ini adalah perjuangan Helvy Tiana Rossa untuk mewujudkan film ini. Hal ini pula yang menjadi alasan utama mengapa saya ingin nonton KMGP di hari pertama pemutaran, hanya ingin sekedar menyaksikan bagaimana seorang Helvy menjaga idealisme cerita ketika sudah dituangkan dalam bentuk audio visual di layar lebar.

    Sebagai film dakwah, KMGP memang bermaksud baik, ingin menyampaikan nilai-nilai kebaikan melalui tokoh-tokohnya. Sayang seribu kali sayang, nampaknya penulis skenario lupa kalau ia sedang menulis untuk film bukan buku. Film dan buku adalah medium yang berbeda dan memiliki treatment yang berbeda pula. KMGP terlampau ceramah berkepanjangan dan lebay melalui narasi yang kurang berisi. Bagi saya, sekali lagi bagi saya, film religi adalah perwujudan nilai-nilai yang ingin disampaikan melalui karakterisasi tokohnya. Ada satu adegan favorit saya yakni ketika Yudi menolong seorang ibu umat non muslim saat terjadi bencana kebakaran. Itu nilai toleransi antar umat beragama. Seperti adegan inilah seharusnya KMGP mewujudkan nilai-nilai dakwah tersebut. Meski ada detail yang terlupakan, Yudi lupa menanyakan gereja tempat suami ibu tersebut beribadah. Kecil namun menganggu logika film.

Ketika Mas Gagah Pergi

Foto selfie bersama potongan tiket Ketika Mas Gagah Pergi

     Sebetulnya banyak yang ingin saya kritisi dan tuliskan dalam blogpost kali ini terutama dari segi kelogisan cerita dan skenario, namun sangat disayangkan jalinan cerita yang sudah cukup apik ini harus dipotong dengan cuplikan-cuplikan yang ternyata itu adalah bagian dari potongan film Ketika Mas Gagah Pergi 2. Yach, kecewa saya sebetulnya. Untuk itu, postingan ini saya hentikan di sini saja dulu, rasanya tidak adil jika menilai film ini sebagian. Masih banyak yang menggantung dari film ini.

Apa yang dilakukan Gagah ketika di Ternate?
Apa kejutan Gagah untuk Gita di hari ulang tahunnya?
Bagaimana kelanjutan nasib Rumah Cinta yang Gagah dan teman-temannya dirikan?
Apakah mamahnya Gagah akan memutuskan untuk berhijab?
Apa hubungannya Yudi dan Gagah?
Bagaimana Gagah bisa jatuh ke laut?

     Pertanyaan-pertanyaan di atas mungkin akan dijawab dalam part 2. Mari kita saksikan trailer Ketika Mas Gagah Pergi 2 sebagai gambaran.

      Sebagai suatu film yang masih menyisakan banyak tanda tanya, KMGP memang tidak tampil spektakuler namun juga tidak jelek. KMGP cukup mampu membuat saya menunggu KMGP 2. Pula, KMGP berhasil membuat saya tertawa berkali-kali di bioskop.

Berarti benar kan, formula yang digunakan mirip dengan Ketika Cinta Bertasbih?

Iklan