Tag

, , , ,


     Akhir – akhir ini berita miring seputar video games terutama games online begitu merebak di media. Pengaruh negatif yang disebarkan secara halus dari video games tersebut sudah merambah generasi muda bangsa kita. Namun adakah yang peduli? Seberapa besar ancaman video games terhadap mental anak muda? Apa saja dampak negatif video games tersebut?


     Siapa yang tidak senang bermain? Video games hadir sebagai bentuk konsekuensi logis dari perkembangan teknologi. Nah, bicara saya sendiri saya memang senang dengan games. Dari games ecek-ecek Bomb, Ular Tangga, Tetris atau Zuma hingga games perang-perangan seperti Mortal Kombat dan Vcop (baca: Virtual Cop). Dari sekian games tersebut saya memang paling senang bermain Vcop. Pertama kali main games kalau nggak salah SMP. Dulu (serasa tua banget), sekitar awal tahun 2000an warnet tuh menjamur banget, isinya rental PS atau rental games. Masih banyak juga orang yang punya PC di rumahnya apalagi laptop masih menjadi barang langka dan bukan kebutuhan utama.

     Apa sih yang bikin seneng dari games? Kalau saya memang asyik aja. Bahkan sering non-stop 24 jam kalau lagi libur sekolah, break cuman pas sholat doang (insya allah masih inget), meski pas sujud yang kebayang tokoh games sambil berpikir keras gimana dapetin nyawa tambahan. Hahhaahha. Kecanduan? Saya gak tahu apa saya adiksi games apa engga. Baiknya sih kita tinjau dulu pengertian kecanduan itu sendiri.

Kecanduan: penyakit kronis yang ditandai dengan rusaknya kontrol terhadap penggunaan materi psychoactive atau perilaku (baik secara biologis, psikologis, sosiologis dan juga terhadap dimensi spiritual

    Lha, ternyata definisinya malah bikin saya bingung. Tapi tenang ada beberapa ciri kalau seseorang itu kecanduan games. Nanti kita cocokkan dengan keadaan saya sendiri yach.

IMG20160114124057

Ciri-ciri Kecanduan Games (doc. pribadi)

     Pertama adalah tidak bisa berhenti bermain berjam-jam. Nah betul banget. Rekor saya sih 24 jam nonstop maen Vcop dan memang susah dihentikan kalau udah ketagihan maen games, seakan telinga kanan dan kiri udah ketutup nggak denger apa-apa kecuali adzan (agak religius dikit ah)

     Terus, ciri kecanduan games adalah lebih peduli pada gamesnya daripada kehidupan lain semisal keluarga dan teman-teman. Hm..yang ini gimana ya? Di rumah sih enak-enak aja, kumpul ma temen juga asyik-asyik aja kan saya habisin waktu games cuman pas libur aja dan harus sewa warnet karena di rumah memang nggak disediain cuman dvd aja dengan kaset – kaset dangdut punya si mamah. Jadinya kalau di rumah mau nggak mau Elvy Sukaesih, Rhoma Irama, Rita Sugiarto terus aja itu sarapan pagi, sesekali Mansyur S sih sama Meggy Z.

     Nah ada ciri lainnya, kalau orang mulai terlihat kucel perlu dicurigai. Ini sih saya patut ngaku. Main games emang lupa pada kebersihan diri. Nah pernah pas minggu maen games seharian besoknya masuk kelas nggak mandi hahaha, malah mandi pas istirahat pertama di toilet sekolah. Uhuuy yang jadi teman SMP saya pasti tahu nih kisah ini.

     Video games juga bisa bikin kita berbohong pada keluarga terdekat. Ah kalau yang ini saya skip aja. Kali ini mau ngomongin pengakuan dosa Kang Mumu founder Kakatu yang juga adiksi games. Kata beliau di acara launching Gerakan Gadget Sehat pada tanggal 14 Januari 2016 kemarin, beliau sempat nilep uang SPP buat main games. Lho kok bisa?

     Video games juga mengganggu siklus tidur. Ini amat sangat bener dan betul sekali. Iya, tidur saya keganggu, dan seringnya saya online di malam hari dan tertidur saat di kelas. Kebiasaan ini terbawa hingga kuliah bahkan hingga bekerja di Jakarta sebagai programmer. Jadi malam saya kerja sebagai programmer, siangnya saya ikut casting sana sini, datangi production house satu persatu, yach sering dapet peran extras yang cuman modal mangap tanpa liat kamera dan dibayar 50rb, lumayan lah nambah-nambah uang jajan. Yang paling kesel, gantiin peran utama untuk adegan jatuh ke sungai. Nah ini anjritt, yang dibayar siapa yang celaka siapa.

     Dari kebiasaan tersebut pastinya mengganggu pola makan dan imbasnya ke berat badan. Dulu tuh ada warnet yang suka nyediain paket games dengan makanan, ya persis kalau kita nonton di bioskop ada popcorn. Tapi makanannya yach klo nggak nasi goreng pasti mie instant. Gitu aja tiap hari. Nasi goreng, mie instant. Gimana nggak sakit coba? Udah menunya aneh makannya nggak teratur pula lagi.

     Terus katanya prestasi akademik sekolah menurun. Nah kalau yang dimaksud prestasi akademik ini dalam hal ranking, nampaknya saya tidak termasuk. Dari SD hingga SMP sering kok ranking satu. Bahkan di SMP sering banget juara, juara cerdas cermat lah, lomba debat lah, lomba gerak jalan, olimpiade dan lain-lain. Horee…berarti saya tidak kecanduan games. Xixixixi

     Nah kalo melihat pemaparan di atas, nampaknya kecanduan games tidak terlalu berpengaruh ya. Tapi kenapa ada orang, seorang wanita juga seorang ibu, yang “rese” banget sama masalah beginian. Eng ing eng. Yang saya ceritain itu games di awal tahun 2000an dan saya udah tobat main games sejak 2007, sejak saya kuliah di jurusan Informatika saya lebih seneng bikin aplikasi, ngutak ngatik web dan koding mengkoding.

IMG20160114122017

Ibu Elly Risman sedang memberikan materinya (doc pribadi)

Elly Risman. Beliaulah ibu yang ‘rese” itu. Kenapa beliau sebegitu resenya?

    Video games saat ini sudah dirasuki konten-konten negatif yang mengarah pada kekerasan dan pornografi. Tidak perlu dijelaskan panjang lebar, cari di google, akan banyak berita yang berisi tentang pengaruh video games terhadap perilaku gamers. Kebanyakan adalah games online. Disadari atau tidak konten-konten tersebut akan mempengaruhi sisi psikologis para gamers terutama yang usia remaja di bawah 17 tahun. Bermula dari pandangan mata, nantinya akan direkam ke otak.

     Sebagai contoh, seorang anak bermain games yang pada akhir permainannya diberi hadiah “ngesek” gratis. Dari mulai coba-coba, rasa ingin tahu hingga akhirnya melakukan. Bencana dan bahaya. Dari hal sederhana ini peran orang tua sangat penting dalam kontrol terhadap aktivitas anak-anaknya. Masih menurut Elly Risman dan Yayasan Kita & Buah Hati dalam risetnya, sebagian besar kecanduan games memang berasal dari keadaan rumah yang tidak kondusif. Sang anak merasa kesepian hingga ia menjadikan games online sebagai pelarian. Sang anak mencari pengakuan, penghargaan dan seringkali justru didapatkan di dunia maya.

     Para orang tua wajib khawatir akan keadaan anaknya seperti ini. Namun apakah semua video games itu buruk? Oh tentu tidak!!! Bermain video games juga banyak manfaatnya, asalkan orang tua tahu dan mau mengikuti perkembangan zaman dengan melek teknologi.

     Bicara saya kembali, sejak taubat tahun 2007 dari video games, nyaris tidak pernah saya bermain game online meski beberapa saya masih mengikuti perkembangannya seperti PB, COC dan GTA. Buat para orangtua, jika sudah terlihat ciri-ciri sang anak kecanduan games, sebaiknya segera lakukan komunikasi yang baik dan arahkan pada kegiatan positif. Salah satunya bisa ikutin kursus tentang programming. Anak bisa diarahkan untuk membuat games online yang mendidik dan merangsang daya kreatifnya.

     Melihat fenomena ini, akan amat disayangkan memang jika generasi penerus bangsa kita hancur oleh video games yang negatif. Konten-konten pornografi ini bermula dari mata yang direkam oleh otak dengan sangat sistematis. Jika sudah begini, kemaluan tak bisa dikendalikan. Jadi sangat wajar kita semua berperan penting dalam hal mencegah generasi bangsa terjerumus ke jurang yang lebih jauh. Saya bangga bisa menjadi bagian dari launching Gerakan Gadget Sehat bersama Kakatu. Semoga inspirasi ini menyebar hingga ke pelosok negeri. Sekali lagi, jaga pandangan mata kita agar kemaluan kita nggak lari kemana-mana.

Iklan