Tag

, , , , ,


15-12-08-11-18-47-678_deco

Berfoto bersama dalam bioskop (atas), setelah nonton (tengah) dan nongkrong diskusi singkat (bawah)

      Sudah beberapa tahun terakhir, Bulan Desember selalu menjadi summer bagi film Indonesia. Akan tetapi, penghujung tahun ini saya lihat Film Indonesia tidak terlalu bersaing. Rumah produksi MD Pictures mundur dari pertarungan akhir tahun dengan memundurkan jadwal tayang TALAK TIGA yang sebelumnya dijadwalkan tayang pada desember tahun ini. Tahun lalu MD menggebrak lewat Merry Riana. MNC Pictures yang selalu curi start dengan tayang pada akhir November, tahun lalu cukup sukses dengan 7/24, akan tetapi kejayaannya diuji lewat film Skakmat. Film yang menurut saya terbaik dari MNC Pictures ini justru yang paling sedikit penontonya, padahal kita sama – sama tahu 2 fim sebelumnya 3 Dara dan Dibalik 98, masih bertengger di posisi 10 besar film Indonesia terlaris tahun ini.

      Ada juga Soraya Intercine Films, yang tahun lalu menggebrak lewat Supernova, tahun ini bersama dinastinya Hits Maker Studio mencoba peruntungan dengan meluncurkan 2 film berdekatan yakni Single dan Sunshines Becomes You. Rumah produksi Maxima Pictures cukup konsisten, setelah pada tahun lalu sukses lewat Assalamualaikum Beijing, desember tahun ini akan mencoba kembali kesuksesannya lewat Bulan Terbelah Di Langit Amerika dengan arahan sutradara Rizal Mantovani. Jika tahun lalu ada Pendekar Tongkat Emas dari Miles Film yang meramaikan persaingan, kali ini film produksi Falcon Pictures, Negeri Van Orange, yang akan meramaikan.

Namun tentunya, bukan film-film di atas saja yang meramaikan persaingan bulan Desember. Awal minggu dibuka oleh 2 film yakni Miracle: Jatuh Dari Surga dan Villa 603. Dalam blogpost kali ini, saya akan membahas sedikit mengenai film Miracle: Jatuh Dari Surga yang disutradarai oleh Wisnu Adi. Saya bersama teman-teman berkesempatan menonton film ini pada hari Minggu, 6 Desember 2015 di XXI Empire BIP (Bandung Indah Plaza) pukul 12.00 WIB. Lalu seperti apa dan bagaimana film Miracle ini?


Dibuka dengan pengenalan karakter masing-masing, seorang ibu rumah tangga bernama Eli (Anneke Jodi), suaminya Andri (Darius Sinarthya) dan putrinya Krista (Naomi Ivo). Mengambil latar tempat di kota Solo dengan shoot-shoot yang cukup menarik dan memanjakan mata, Miracle: Jatuh Dari Surga seakan ingin berbicara bahwa tidak hanya di ibukota saja, drama antara orangtua dan anak bisa terjadi. Dari awal penonton sudah dibuat menebak-nebak siapakah Krista tersebut? Apakah dia bukan anak kandung dari Andri dan Eli? Sebetulnya sudah bisa ketebak memang karena perlakuan dari keduanya begitu berbeda terhadap Krista terlebih saat Eli tengah mengandung. Drama semakin meningkat ketika Krista diberikan mukjizat oleh Tuhan dapat mengobati orang sakit. Pertentangan pun terjadi lagi antara Andri dan Eli. Lalu bagaimana kisah Krista selanjutnya? Dan Siapakah sebenarnya dia?

Performa Naomi Ivo terbilang cukup cantik memerankan Krista. Dialog dan pembawaannya berkarakter dewasa karena bisa dibilang dia anak indigo. Naomi Ivo sukses mengubah peran dan ekspresinya baik ketika ia bersama Pak Sugeng, Ramadhan ataupun dengan orantuanya. Performa Krista yang cantik juga didukung oleh performa Ramadhan (Indra Birowo) dan Annisa. Setiap kali scene berada di adegan rumah Ramadhan, akting dan kolaborasi para pemainnya terasa berkelas.

Dari segi cerita, sebetulnya banyak lagi yang bisa dibedah dari film ini. Mulai isu toleransi yang secara tersirat digambarkan sebagai latar film ini. Persahabatan Ramadhan dan Andri yang berbeda agama menjadi contohnya. Meski tidak digambarkan secara gamblang, tapi skenario mampu membicarakannya. Adegan saat Ramadhan dan Andri ngobrol di rumah Ramadhan dengan backsound suara adzan, juga menjadi hal yang indah dari film ini sebagai bagian toleransi yang bisa dibedah lebih luas lagi. Tidak hanya toleransi, komunikasi antara anak dan orang tua pun bisa dibedah lebih luas lagi. Namun sayangnya, saya bukanlah pakar ataupun orang yang mumpuni menyelami komunikasi anak dan orang tuanya. Heheheh. Scene yang menggambarkan perlawanan Naomi ketika merasa dicuekin oleh orang tuanya, it’s good job. Anak yang melawan orang tuanya bisa jadi karena komunikasi yang kurang baik dan acuhnya perhatian orang tua, bukan semata-mata karena ingin melawan. Bagian ini menarik jika mendapat perhatian dan tanggapan dari bunda Elly Risman. “Bagi orang yang saling mencintai, sudah tak harus ada rahasia lagi

Film yang sepertinya tidak terlalu bagus dalam perolehan penonton ini, memang tidak tampil sempurna. Bagian terlemah dari film ini adalah pada pengeksekusian gagasan yang terkesan datar dan juga struktur dramatiknya kurang ditata secara baik. Klimaksnya baru terasa di beberapa menit paruh terakhir film saja. Seharusnya masih bisa dipadatkan ceritanya karena penokohan sudah cukup baik. Melihat track record PH Andalan Sinema yang berdasarkan data dari filmindonesia(dot)or(dot)id, PH ini baru memproduksi 2 film saja yakni film ini dan Jilbaber in Love. Menjadi cukup wajar jika memang tataan struktur dramatik standar kebutuhan penonton awam belum terlampau baik. Semoga ke depannya Andalan Sinema bisa terus berproduksi dengan jumlah dan kualitas film yang semakin meningkat. Namun demikian ada hal unik yang diceritakan teman saya yangorang Jawa, kata mereka atmosfer Solo dan kejawannya sangat “pas”. Beberapa kali saya dengar temen-temen saya ketawa, mereka serasa di kampungnya sendiri, meski saya hanya diem nggak ngerti. Heheheh.

Lalu bagaimana pendapat saya & teman-teman saya tentang Miracle: Jatuh dari Surga? Cekidot

“Miracle: Jatuh Dari Surga mengajarkan kita untuk senantiasa bersyukur atas apa anugerah Tuhan, benar kata pepatah terkadang bersyukur lebih berat daripada menerima” – Raja Lubis (Founder Komunitas Bee Film Indonesia, Blogger)

15-12-08-10-57-55-625_deco

Raja Lubis (Founder Film Indonesia, Blogger)


 “Film durasi 119 menit ini terlalu panjang, mungkin ingin dengan dalam menggali karakter setiap pemerannya tetapi nampaknya tidak berhasil. Porsi para pemeran sudah jelas masing-masing tugasnya hanya saja dijelaskan berulang-ulang yang sebenarnya tidak perlu. Pemeran utama dalam film ini adalah pemeran anak Krista (Naomi Ivo), adalah anak dari pasangan Andri (Darius Sinarthya) dan Eli (Aneke Jodi) tetapi bukan darah daging mereka. Si Krista mempunyai kemampuan ajaib untuk menyembuhkan penyakit tetapi bagi keluarga Andri & Eli tidak pernah puas dengan apa yang mereka miliki dan ingin mempunyai anak sendiri. Disini konflik dimulai. Dalam kehidupan ini banyak dari kita tidak pernah bersyukur dengan apa yang kita miliki dan selalu meminta dan memohon sesuatu yang lebih. Krista dalam film ini ditelantarkan oleh orangtuanya ingin punya akan sendiri. Tetapi akhrirnya mereka sadar tetapi dengan drama yang kurang greget.” – Ardityo Danoesoebroto (Pengamat Forum Film Bandung)

15-12-08-10-56-06-873_deco

Ardityo (Pengamat Forum Film Bandung)


 “Naomi Ivo (Krista) menjiwai peran dengan baik menurut selera saya, pun Darius Sinarthya (andri). Dalam film ini saya menebak-nebak siapa di antara keduanya yang menjadi tokoh sentral. Saya rasa karakterisasi tokoh-tokoh cukup kuat walau pengembangan karakternya justru terlampau datar ditambah penyampaian konflik yang kurang tajam, penciptaan suasana yang terlalu bertele-tele, saya kesulitan menyerap drama dna konflik yang mana yang sebenarnya menjadi ide utama film ini. Gagasan kisah bagi saya tidak baru (tentang problematika keluarga pengasuhan anak dalam balutan kisah penyembuhan yang sering sekali disebut-sebut dalam ajaran Kristen) namun dalam khasanah film Indonesia ini tidak mainstream dan tentu cukup menarik. Bicara tentang menarik, adegan yang paling “nah ini dia” dalam film ini justru datang dari penampilan khusus “The Overtunes” ketika Mika berucap “kayaknya lagu kita berhasil nih!” man, that’s out of the line in a good way” – Suci Zwastika (Admin Komunitas Bee Film Indonesia, Manajer Bank)


“Inti ceritanya menarik dan banyak pelajaran yang bisa diambil dari film ini di antaranya harus selalu ingat Tuhan dan selalu bersyukur atas segala apa yang telah Tuhan berikan sebelum menyesal di kemudian hari karena telah mengabaikan pemberianNya. Untuk penokohan di film ini hampir semuanya bagus dialek jawanya dapet dan mungkin salah satu yang menarik perhatian di film ini dengan adanya penampilan The Overtunes meskipun cuman sebentar tapi pas dengan ceritanya. Secara keseluruhan oke, cuman penyampaian ceritanya terlalu panjang. #BanggaFilmIndonesia” – Widada Syahputra (Member Komunitas Bee Film Indonesia, Pegawai)

15-12-08-10-54-19-712_deco

Widada (Penonton Aktif Film Indonesia, Member Film Indonesia)

Akhir kata, Miracle: Jatuh Dari Surga tetap bisa menjadi tontonan alternatif keluarga d tengah serbuan film film impor. #BanggaFilmIndonesia

Salam,
Komunitas Bee Film Indonesia

15-12-08-11-13-46-772_deco

Para member Film Indonesia yang berfoto selfie bersama Tiket Miracle: Jatuh Dari Surga

Iklan