Tag

, ,


Ada yang spesial tahun ini terkait petualangan menonton saya di bioskop. Setelah berkeliling di beberapa teater cinema 21 dan atau cgvblitz di kota Bandung, tahun ini saya bisa menginjakkan kaki di Jakarta tepatnya di Cinemaxx Plaza Semanggi. Selain itu, biasanya berkutat di film-film Indonesia dan sedikit film luar (rata-rata Amerika), tahun ini berkesempatan nonton film Asia tepatnya dari Hongkong. Jika boleh dimasukkan ke dalam daftar, maka film ini menjadi film ke-53 yang saya tonton di bioskop. Film apakah yang membuat saya rela pulang pergi dari Bandung – Jakarta?

LITTLE BIG MASTER. Film ini bercerita tentang seorang pendidik, Lu Wai Hung, yang berupaya menyelamatkan sebuah Taman Kanak-Kanak (TK) yang hanya memiliki lima murid. Hung adalah seorang kepala sekolah sebuah TK ternama yang memilih untuk mengundurkan diri di usia muda. Bersama sang suami, Dong yang bekerja sebagai perancang di sebuah museum, Hung berencana untuk berkeliling dunia. Namun, rencananya berubah ketika Hung melihat iklan rekrutmen sekolah TK yang mencari kepala sekolah sekaligus menjadi pengawas sekolah dan jika TK tersebut gagal mendapatkan kepala sekolah baru, maka akan ditutup. Hung merasa terpanggil dan memutuskan untuk melamar meskipun gajinya rendah dan menunda perjalanannnya. Berjalan muluskan upaya Hung? Sebetulnya dapat ditebak jawabnya pasti TIDAK. Lalu bagaimana perjalanan Hung selanjutnya? Mari kita simak saja reviewnya.

Sebelum lebih jauh bercerita tentang perjuangan Bu Hung yang didukung oleh suaminya, mari kita kenalan dulu dengan 5 murid yang diperjuangkannya. Anak – anak ini terpilih dari ratusan anak yang casting secara terbuka dan tampil begitu mengagumkan dengan membawa cerita dan konflik internal masing-masing.

SIU SUET dan AYAHNYA

Kesusahan pertama nonton film ini adalah penyebutan nama tokohnya hehehhe, termasuk juga SIU SUET (Ho Yun-ying Winnie). Biar gampang selanjutnya SUET aja yach hehehe. SUET ini hidup bersama ayahnya yang sakit-sakitan. Suatu waktu ia tidak masuk sekolah dikarenakan harus menjaga ayahnya yang sakit sekaligus mengurus segala keperluan rumah tangga seperti makan untuk dirinya dan ayahnya. meski begitu semangat juang SUET untuk belajar sangat tinggi. “Belajarlah beberapa kata lagi, agar kau mampu menulis surat untuk ibumu”. Alah motivasi yang sederhana namun penuh makna, membuat butiran air mata ini keluar tanpa disengaja.

CHU CHU, BIBI HAN dan MONSTER GUNTUR

Saya tidak berpendidikan, saya tidak sekolah, lalu apa kata yang lebih baik untuk menjelaskan kepadanya”, kata Bibi Han kepada Bu Hung ketika ditanya siapa Monster Guntur. Sebelumnya Bu Hung bertanya pada muridnya termasuk CHU CHU (Keira Wang) hal apa yang membuat kalian bahagia dan hal apa yang membuat kalian takut. Rupanya CHU takut dengan “Monster Guntur”. Siapa sebenarnya “Monster Guntur”?

KITTY & JENNI FATHIMA

Kakak beradik ini kesulitan sekolah karena jarak rumahnya dengan sekolah yang jauh. Pada awalnya ibunya sanggup mengantarkan mereka sekolah dengan naik angkutan, namun semenjak ongkos angkutan tersebut naik (mungkin disebabkan karena kenaikan harga BBM), ibunya sudah tak sanggup lagi membayar. Di suatu ketika saat ibunya telat menjemput kedua putrinya KITTY (Zaha Fathima) & JENNY (Khan Nayab) disebabkan karena berjalan kaki. Wow amazing perjuangan ibunya ini. Akhirnya Bu Hung menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang, dan terungkap pula bagaimana keadaan keluarga mereka. “Ketty, Jenny. besok kalian tetap sekolah, ibu yang akan antar jemput kalian”. Melting lagi dong saya.

LU CHA CHA

Panggil saja KA KA (Fu Shun Ying). Anak ini yang paling menyedot (emangnya mocca float) perhatian saya. Akting anak ini yang paling berkesan, natural, dewasa dan apik. Paling berkesan saat ditanya alasan kenapa Ka Ka tidak mau masuk sekolah. Aslinya mendengar jawaban anak kecil ini saya nangis. Jujur dari semua scene di film ini, adegan ini yang paling menguras air mata. Ka Ka seakan menampar para penonton betapa pentingnya peranan kasih sayang orang tua untuk anaknya. Sayangnya panitia hanya menyediakan pop corn dan fanta, harusnya disertai tissue.

IMG20151017093537

Tiket Little Big Master di Cinemaxx Plaza Semanggi & Voucher Snack


Film ini sangat unggul dari departemen cerita dan skenario. Cerita yang sederhana namun memikat ini dilukiskan dengan baik oleh Hannah Ceung ditemani oleh Adrian Kwan juga juga bertugas sebagai sutradara film. Meski untuk typical film-film inspiratif seperti ini ceritanya mudah ditebak dan skenario yang diusung sedikit basi karena banyak film yang menggunakan formula ini, namun Little Big Master ditata dengan cukup apik dan tidak berlebihan.

IDEALIS dan POPULIS

Melalui tokoh Bu Hung, sepertinya penulis skenario ingin menunjukkan idealisme seorang pendidik. Hal ini digambarkan oleh bagian pembuka film, dimana Bu Hung tidak ingin berkompromi dengan salah satu orang tua murid yang menginginkan anaknya tetap berada di “kelas berbakat” meski hasilnya tidak menunjukkan demikian. Idealis ini semakin ditonjolkan dengan cerita Bu Hung mengundurkan diri dari jabatannya tersebut. Tekad Bu Hung yang betul-betul idealis sebagai pendidik dibuktikan dengan kemauannya mengajar di TK dengan bayaran rendah. Bukan semata-mata rendah tapi ingin membuktikan bahwa pendidikan layak dinikmati oleh semua orang. Tekad yang kuat tersebut bukan berjalan tanpa hambatan, tuduhan populis dialamatkan kepadanya. Warga sekitar menuduhnya “ah paling cuman ingin terkenal”. Tekadnya kembali diuji ketika kawannya ingin mengajak kerjasama dan menjadikannya ikon sebuah proyek. Terjebakkah Bu Hung pada aliran populis?

Tekadnya yang kuat membuat Bu Hung meminta izin suaminya untuk mengajar di TK tersebut, toh hanya 4 bulan sebelum semester berakhir, setelahnya mereka akan melanjutkan mimpinya keliling dunia bersama. Tekadnya yang kuat membuat suaminya luluh dan mengizinkannya namun tetap harus memperhatikan kesehatannya karena Bu Hung baru saja dioperasi. Hari-hari Bu Hung lalui bersama kelima muridnya dengan penuh semangat yang tak kalah semangatnya dengan warga yang menjadikan TK tersebut sebagai ajang bertaruh. Woiz ngeri, warga bertaruh dalam berapa lama TK tersebut ditutup. Agak sedikit gila juga, bukannya didukung terlebih tokoh penyapu jalan. “hari ini buka, besok pasti ditutup, saya sudah bertaruh besar untuk ini”. Siapa yang akan memenangkan taruhan?

Ditinjau dari segi alur, menurut saya LITLLE BIG MASTER sedikit keteteran. Untuk film-film yang terinspirasi dari kisah nyata atau biografi seorang tokoh biasanya memiliki frame time yang jelas. Namun tidak sedikit pula sutradara yang kesulitan membagi frame time tersebut dan menyambungkannya sebagai kesatuan utuh cerita. Salah satu solusinya adalah membagi frame time dengan keterangan waktu. Little Big Master menggunakan formula ini. “4 Bulan sebelum akhir semester”, “Seminggu sebelum akhir semester” dan keterangan lainnya. Frame time ini akan berpengaruh terhadap editing film. Seperti yang saya bilang di awal, film ini sedikit keteteran. Terlihat pada skenario saat Bu Hung meminta izin suaminya dan meminta waktu 4 bulan. Setelah itu adegan berkutat pada Bu Hung yang meninjau sekolah itu, proses melamar menjadi kepala sekolah dan lain sebagainya sebelum scene beranjak pada hari pertama Bu Hung mengajar. Ada alur waktu yang sedikit terlupakan disini. Secara logika beberapa proses tersebut pasti memakan waktu berhari-hari terlebih saat pertama kali Bu Hung ke TK tersebut mendapat penolakan terlebih dahulu. Sebagai solusinya untuk frame time yang singkat, tidak perlu menggunakan caption dalam film, cukup diselipkan dalam skenario.

Jika alur dan editing sedikit keteteran, namun sinematografi film ini layak apresiasi. Pencahayaan dan penataan gambar di film ini bagus dan enak dipandang mata. Penata kamera mampu mengambil angle-angle yang pas dan koheren dengan cerita. Beberapa pengambilan gambar yang bagus adalah saat Bu Hung mengajak kelima muridnya ke toilet umum desa dikarenakan toilet di sekolahnya kebanjiran. Dengan terhunyung-hunyung mereka berjalan ke luar di tengah hujan badai. Kamera mengambil sudut depan dengan jarak yang pas, terlebih saat salah seorang muridnya yang takut dengan “Monster Guntur”. Visualisasi Monster Guntur tersebut bagus, dan kamera kembali mengambil gambar yang pas. Terlebih ketika adegan Bu Hung mengajak muridnya tersebut menari dalam hujan dan bilang bahwa Monster Guntur itu tidak ada. Kamera dengan sangat pas, mengambil angle Bu Hung dan butiran hujan dengan hampir close up. Teknik tersebut menguatkan objek yang ingin disampaikan setiap scenenya. Nampaknya memang saya wajib memuji penata kamera yang berhasil menerjemahkan keinginan skenario dalam balutan gambar yang bagus dan cantik.

Tidak hanya departemen kamera, artistik pun bekerja dengan hati-hati dan baik. Artistik dalam film ini pas tidak terlihat berlebihan, sejalan dengan cerita filmnya yang sederhana. Meski ada beberapa cacat minor terutama dalam tata busana dan tata rias. Jika diperhatikan lebih detail ada sedikit ketidaksesuaian artistik saat adegan hari perekrutan murid baru, terutama pada tata rias Bu Hung. Di hari itu (pada hari yang sama) Bu Hung diceritakan menunggu para undangan datang ke TK, lalu bertemu dengan kawannya dan balik lagi ke TK (kemungkinan pada sore harinya). Namun make up sama saja padahal Bu Hung sempat sedih ketika bertemu kawannya. Namun tata rias Bu Hung saat kembali sama dengan saat pagi hari di TK. Kemungkinan karena proses shootingnya berlainan waktu, jadi penata busana dan rias agak sedikit abai. Namun hal ini dimaklumi, karena dari pengalaman saya menonton film hal ini lumrah terjadi, dikarenakan kadang urutan shooting tidak persis sama dengan urutan skenario. Disinilah pentingnya sutradara menjaga seluruh departemen bekerja sesuai dengan skenario dan cerita yang sudah disusun.

Namun begitu, teknis menjadi (sedikit) tidak penting jika cerita mampu mengimbangi, karena pada hakikatnya menurut saya film itu adalah media komunikasi massa, bagaimana film tersebut sampai di hati penontonnya. Dan perlu saya akui, LITTLE BIG MASTER berhasil dengan gemilang menyampaikan pesannya pada penonton khususnya pada saya pribadi. Menonton flm ini memang sedikit mengingatkan saya pada film Indonesia sejenis seperti LASKAR PELANGI dan SOKOLA RIMBA. Meski secara plot dan twisting berbeda, namun semangat juang yang dibawa film ini sama hebatnya. Plot dan twisting dalam Little Big Master dibuat sederhana saja, padahal ada satu plot yang bisa dijadikan twist (kejutan) yakni ketika dari 5 murid ini satu orang akan lulus, itu artinya semester depan sekolah ini akan tutup jika tidak mendapat murid baru. Sayangnya plot ini sudah dihadirkan oleh penulis skenario dari awal film yang membuat jalan cerita sudah pasti akan ketebak. Bu Hung semakin jatuh cinta pada sekolah ini dan ingin meneruskan mengajar dan dilakukan perekrutan murid baru. Saya pun bertanya-tanya apakah berhasil TK tersebut merekrut murid baru. Untungnya, penulis skenario pintar, menggantungkan ending film ini dengan adegan seorang murid yang lulus. “Kalau boleh saya meminta bu, saya tidak ingin lulus saja”. Ah emang anak ini keren aktingnya, saya dibuat nangis lagi. Hari terakhir sekaligus hari wisuda tersebut menjadi klimaks penulis skenario dalam menyusun kepingan cerita menjadi puzzle yang utuh. Rasanya saya patut mengucapkan rasa terimakasih saya pada penulis skenario.

IMG20151017130224

Dan juga mendapat relasi baru. Mas Azwar (Kiri), Mbak Miftah (Tengah) dan Saya (Kanan). Mereka dari Nexmedia, jadi bisa juga lho nontonnya di Celestial Movies NexMedia ya

Dari kupas tuntas di atas (meski masih banyak yang belum diceritakan), film ini banyak memberi kita pelajaran bahwa segala sesuatu harus dilakukan dengan tulus dan ikhlas. Semua akan berakhir baik jika diawali dengan niat baik pula. Jangan pernah berhenti berbuat baik, kebaikan tidak akan pernah merugi meski tidak ada seorangpun yang berterimakasih.

Overall, film ini layak tonton untuk siapapun. Sayang seribu kali sayang, film ini tidak bisa disaksikan secara reguler di bioskop bioskop Indonesia. Little Big Master hanya bisa disaksikan di TV berlangganan melalui channel Celestial Movies. Beberapa di antaranya bisa disaksikan di Indovision (CH. 20), K-Vision (CH.47), MatrixTV (CH.9), Nexmedia (CH.508), OkeVision (CH. 19), OrangeTV (CH. 162), Skynindo (CH.19), Transvision (CH.12), TopTV (CH. 20), Topass TV (CH. 61), UTV (CH. 691) dan YesTV (CH. 108). Penayangan perdananya pada hari Minggu, 25 Oktober 2015 pukul 20.00 WIB, tentunya sekali lagi hanya di channel Celestial Movies.

LITTLE BIG MASTER. Film drama inspiratif, menarik dengan struktur dramatik yang pas dan tidak berlebihan, serta penuh dengan inspirasi dan makna hidup yang sesungguhnya, yakni sebaik-baik manusia adalah ia yang bermanfaat untuk orang lain.


Rasanya LITTLE BIG MASTER membayar lunas usaha saya yang sengaja datang ke Jakarta, dan membuat saya jatuh cinta pada film Hongkong. I Love HK Movies.


Iklan