Tag

, , , ,


Geliat perfilman Indonesia di bioskop tanah air pada bulan April ini, sepertinya meningkat dari bulan Maret, Filosopi Kopi adalah film ke-4 yang saya tonton di bulan ini setelah Ada Surga Di Rumahmu, Melancholy is a Movement dan Guru Bangsa: Tjokroaminoto. Dan Filosopi Kopi pun adalah film yang membuat saya kembali bergairah untuk ngeblog menuliskan review alias kesan saya selama menonton..

Setelah berkelana dengan beberapa sutradara papan atas yang memvisualkan ceritanya ke layar lebar, sebut saja Hanung Bramantyo (Perahu Kertas 1 & 2), Benni Setiawan (Madre) dan Rizal Mantovani (Supernova) bahkan hingga para artis yang keroyokan membuat Rectoverso, nampaknya kali ini Dee saya yakini akan tersenyum puas lewat oleh hasil kerja Angga Dwimas Sasongko atas Filosopi Kopi. Bagi saya, Filosopi Kopi adalah film terbaik yang diadaptasi dari novel Dewi Lestari.

Telat masuk beberapa menit ke studio 3 XXI Ciwalk, saya tetap bisa menikmati Filosopi Kopi dengan sangat terhibur. Awal pembuka film saya merasa penataan kamera begitu goyang hampir 15 menit awal, perlahan kemudian kamera semakin membaik seiring hanyutnya nurani dan hati saya mengikuti alur film. Filosopi Kopi menceritakan sebuah kedai kopi yang didirikan oleh dua orang sahabat Ben (Chicko Jericco) dan Jody (Rio Dewanto). Chemistry yang ditampilkan mereka berdua sangat natural dan keren, mereka nampak memang seperti sahabat yang sudah bersahabat sangat lama. Filosopi Kopi pun menjadi ajang pembuktian diri bagi seorang Chicko Jericco yang setelah tampil dengan gemilang dalam film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku (dari produser yang sama) yang berbuah piala citra Pemeran Utama Pria Terbaik FFI 2014, Chicko stabil di level bagus. Performa Rio Dewanto, tahun ini menemukan puncaknya. Bermain dalam film 2014 sebagai villain, lalu ia bertransformasi menjadi seorang direksi bank yang dipenuhi rasa gelisah dan depresi dalam Love & Faith, lalu ia mengimbangi Chicko dalam Filosopi Kopi dengan karakter yang penuh perhitungan, Rio Dewanto sukses menjadi bunglon di setiap perannya. Rasanya tahun ini Rio Dewanto patut diperhitungkan di jajaran aktor papan atas Indonesia. Di tengah konflik Ben dan Jody, hadir seorang cewek cantik, El (Julie Estelle) yang diduga menyebabkan kehancuran pada Filosopi Kopi justru sebetulnya ia lah yang menjadi penghubung Filosopi Kopi antara Kopi Obsesi ala Ben dan Kopi Cinta ala Pak Seno (Slamet Rahardjo). Saya tidak bisa berkomentar banyak atas pemeranan Julie Estelle, subjektifitas saya mengatakan ia tetap cantik, sejak Kuntilanak ia tak pernah berubah kecantikannya.

Awalnya saya khawatir, bahwa film ini akan terjebak pada konflik melodrama antar para tokohnya sehingga melupakan esensi filosopi dari kopi itu sendiri. Nyatanya Angga Dwimas Sasongko cermat sekali menggarap Filosopi Kopi. Saya sangat terbuai dengan kenikmatan kopi meski saya bukanlah penikmat kopi. Joke placement juga sangat tepat dan menghibur. Konflik drama masing-masing tokoh pun dibalut dengan alur yang pas, meski ada beberapa yang belum jelas seperti kuburan yang didatangi oleh Ben, saya masih menerka-nerka kuburan siapa yang didatangi oleh Ben.

Durasi yang hampir satu dua jam ini, sangat tidak terasa. Terlepas dari cacat minor seperti kamera yang goyang, ada beberapa teknik colouring yang kurang konsisten plus tata rambut dan busana yang juga sedikit kurang diperhatikan, satu kata buat Filosopi Kopi: Perfecto. Film ini pun mengajarkan bahwa dalam melakukan sesuatu (membuat kopi) harus didasari oleh cinta bukan hanya obsesi semata, sehingga kopi yang dihasilkan dalam film ini pun menjadi kopi perfecto perpaduan antara obsesi dan cinta.

Jika diprediksikan unsur-unsur yang bagus dalam film ini, yakni :

Film Terbaik
Sutradara Terbaik : Angga Dwimas Sasongko
Pemeran Utama Pria Terbaik : Chicko Jericco, Rio Dewanto
Penulis Skenario Adaptasi Terbaik 

Penata Musik Terbaik
Penata Artistik Terbaik
Penata Suara Terbaik
Penyunting Gambar Terbaik


Review lebih lengkap akan saya update terus di halaman ini, dikarenakan masih ngantuk dan capek, ehhehh

Iklan