Tag

, , ,


     Setelah The Raid 2 : Berandal dan Comic 8 pada tahun lalu (2014), rasanya belum ada lagi film Indonesia tahun ini yang menyedot jumlah penonton yang begitu tinggi dari hari pertama pemutaran terlebih jam pertama. Namun ternyata hal ini tidak berlaku bagi film Indonesia NADA UNTUK ASA.

     Selidik punya selidik, banyak anak sekolah yang menonton bersama guru mereka, tak ayal jika pada hari Kamis, tanggal 5 Februari 2015 lalu, jam pertama, studio 2 XXI Bandung Trade Center dipenuhi penonton dan akibatnya saya pun dapat tempat duduk yang sangat tidak saya sukai, di pojok kiri jajaran B, tepatnya B16. Lalu seperti apa film ini yang ternyata pada hari berikutnya jumlah penonton untuk film ini tidak seperti hari pertama dan harus turun layar pada waktu yang relatif tidak lama.

     NADA UNTUK ASA. Menceritakan dua orang perempuan bernama Nada dan Asa yang mengidap penyakit HIV/AIDS dalam menyikapi penyakit tersebut dan menjalani hidupnya. Dilihat dari judulnya maka Nada dan Asa, harusnya memiliki kaitan, diartikan Nada untuk Asa, maka apa yang diberikan oleh Nada untuk Asa, kita lihat saja nanti.

     Film dibuka dengan menceritakan sosok Nada (Marsha Timoty) yang kehilangan suaminya, namun disisi lain adik iparnya, Nadilla Ernesta, masih bersikeras ingin mengetahui penyebab kematian kakaknya. Singkat cerita, Suami Nada (Irgi A. Fahrezi) meninggal dengan membawa penyakit HIV/AIDS yang ternyata menular pada Nada dan bayi kecilnya.

     Di sisi lain, suntingan gambar membawa kita pada sosok Asa (Acha Septriasa) yang ternyata harus diberhentikan dari pekerjaannya karena ketahuan bosnya mengidap HIV/AIDS, setelah itu Asa tetap menjalani hari-hari dengan lebih tegar, – owh maaf dari awal Asa memang sudah tegar. Lalu bagaimana Nada & Asa menjalani kehidupannya dengan membawa penyakit di dalam tubuhnya.

     Plot film ini dibagi menjadi 2 bagian, yakni Plot Nada dan Plot Asa. Penyuntingan menunjukkan plot ini berdiri sendiri dengan porsi Nada yang lebih banyak dibandingkan Asa. Penyuntingan ini membuat saya berpikir apa benang merah antara Nada dan Asa. Penyuntingan ini sangat tidak nyaman buat saya, terlalu kasar dari scene satu ke satu scene yang lainnya hingga akhirnya saya dikagetkan oleh telepon yang digunakan oleh Nada, kok jadul banget. Akhirnya saya berpikir jangan-jangan ini dua latar waktu yang berbeda. Lalu saya simak, dengan seksama kelanjutan ceritanya, Nada menyebut bayi kecilnya Asa, yang membuat saya yakin bahwa Asa adalah putri dari Nada. Apakah betul mereka adalah ibu dan anak?

3 SCENE

     Setidaknya, ada 3 scene dari film ini yang patut saya apresiasi, 3 scene ini memiliki roh dan menghipnotis penonton. Scene pertama adalah saat Asa nongkrong di cafe bersama Pongky Barata sekaligus awal pertemuannya dengan Darius Sinartyha. Asa yang berduet dengan Pongky sukses menyanyikan dengan suara aslinya lagu “Seluas Itu”. Efek dari scene ini adalah saya langsung terhipnotis dengan lagu ini dan mencoba bergumam di bioskop mengikuti alunan nadanya. Ternyata tidak hanya saya, Darius pun yang digambarkan pergi ke toilet mengikuti alunan lagu tersebut. Atas scene ini patut saya apresiasi akting Acha Septriasa kembali pada performa puncak sebagai aktris papan atas Indonesia.

Scene kedua adalah adegan Acha Septriasa dan Darius Sinarthya di kolam renang. Adegan yang mempertanyakan kenapa Acha ingin buka toko kue, dijawab unik oleh penulis skenario dan sutradara dengan gaya khas dan lucu kedua pemainnya. Sebetulnya bisa langsung dijawab saja pertanyaan Darius tersebut, namun scene berubah seperti kembali pada permainan anak-anak dulu, menggunakan dus bekas minuman lalu bermain telp-telponan. Ini unik dan menarik. Oleh karenanya, kembali saya apresiasi Acha Septriasa di scene ini.

Scene ketiga adalah adegan Marsha Timoty dan Wulan Guritno di kuburan. Meski skenarionya buat saya sedikit membosankan, lebay dan bertele-tele, namun sekali lagi dimainkan apik oleh Marsha dan Wulan. Disini Marsha menunjukkan bahwa kemampuan aktingnya layak untuk “naik kelas” dibanding film-film sebelumnya. Begitu juga Wulan Guritno, meski tampil sangat singkat, ia memberikan emosi yang pas dalam film ini. Buat saya akting Wulan Guritno cukup mencuri perhatian. Scene ini pula menjadi lebih apik dengan kehadiran 2 bocah cilik jagoan Nada, yang akhirnya melemparkan batu pada Wulan Guritno sehingga scene adu mulut antara Marsha & Wulan berakhir, untung saja nggak ada adegan jambak-jambakan rambut yang merupakan ciri khas dari berantemnya perempuan, ehehhe.

Kehadiran cast utama yang sangat baik dari Acha Septriasa, Marsha Timoty, Darius Sinartyha , Wulan Guritno dan didukung oleh cast lain yang juga bermain baik seperti Mathias Muchus, Nadilla Ernesta, kedua mertua Nada, kakak Nada, 2 jagoan kecil Nada, temen-temen kost Asa, tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh sang sutradara. Secara teknis, film ini sama sekali tidak memiliki keunggulan apapun, sinematografi, editing dan artistik adalah hal yang lemah dan luput dari perhatian sang sutradara.

Jika film ini diniatkan untuk memberitahu bagaimana caranya berani hidup di tengah-tengah stigma negatif masyarakat terhadap penderita penyakit HIV/AIDS, film ini belum sepenuhnya berhasil menyampaikan pesan tersebut. Plot Nada yang ternyata memang betul merupakan ibu kandung Asa, masih terlihat lebih dominan dibanding plot Asa sendiri yang menurut saya justru Acha Septriasa lah sentral dari film ini jika skenario dibuat demikian. Nada hanyalah faktor penyebab mengapa Asa juga mengidap penyakit tersebut, terkecuali jika Nada & Asa adalah dua tokoh yang berbeda namun mengalami hal yang sama dan menjalani hidup di waktu yang sama, maka bolehlah suntingan menunjukkan demikian. Oleh karenanya, seharusnya plot Asa diperbanyak, dengan sesekali kembali ke masa lalu Asa saat kecil, sehingga jelas gambarannya mengapa Asa bisa bertahan hidup sampai remaja hingga menemukan sosok laki-laki yang mencintainya setulus hati. Tidak ada penjelasan yang cukup mengapa Asa demikian tegarnya, karena sosok ibunya Nada di film ini murni diceritakan bagaimana Nada menyikapi hidupnya dan bagaimana ia menjalani hidupnya bersama Asa tidak diceritakan. Itu kenapa saya bilang, porsi Nada terlalu berlebihan namun tidak tepat, seharusnya skenario bisa menggambarkan kehidupan Asa bersama ibunya dari sejak Asa bayi, kecil, remaja hingga dewasa, sehingga karakter Asa jelas mendapat penjelasan, bukannya malah eksplorasi karakter Nada, sekali lagi karena Nada dan Asa di film ini tokoh yang berlainan waktu namun memiliki hubungan yang dekat. Mungkin saya tangkap, sepertinya produser ingin menunjukkan bagaimana penyikapan berbeda Nada dan Asa dalam memandang hidupnya, sayangnya mereka harus terikat oleh hubungan ibu dan anak.

Penggambaran suasana dan artistik film pun tidak menggambarkan bahwa Nada dan Asa hidup di dua waktu yang berbeda. Tidak ada perbedaan cahaya gelap terang ataupun artistik yang menunjukkan perbedaan waktu, minimal jika belum mampu menghidupkan visualisasi waktu yang berbeda dengan teknis sinematografi yang baik, maka lebih baik alur tidak dibuat dengan editing seperti sekarang yang seakan-akan menggambarkan dua sosok yang berbeda namun di waktu yang sama. Mungkin niatnya pingin ada kejutan, tapi jadinya saya malah tidak terkejut kalau Asa itu adalah anaknya Nada, semuanya jadi biasa aja.

Menonton film ini jadinya serba nanggung, bagaimana seharusnya masyarakat menyikapi penderita HIV/AIDS di lingkungan sekitar, tidak tersampaikan dengan baik, seharusnya kan dengan menonton film ini banyak orang sadar bahwa penderita HIV/AIDS tidak untuk dijauhi, tapi film ini ini menggambarkanya hanya dengan adegan tersirat melalui skenario dengan lambat dan tidak fokus. Emosinya pun jadinya nanggung juga, sehingga arah film ini menjadi kabur. Hal ini sekali lagi disebabkan karena storytelling yang buruk dan editing yang memperkeruh semuanya.

nadauntukasa

Jika diprediksikan unsur-unsur yang bagus dalam film ini, hanya menang di unsur pemeranan saja yakni :

Pemeran Utama Wanita Terbaik : Acha Septriasa, Marsha Timoty
Pemeran Pendukung Wanita Terbaik : Wulan Guritno

Sekali lagi, film ini hanya menjadi ajang pamer kemampuan akting jajaran pemainnya, andaikan bukan mereka yang main, film ini hanya akan menjadi tontonan hiburan FTV di waktu senggang dengan emosi yang meledak-ledak dan tidak bisa dinikmati. Lalu Nada untuk Asa? Apa yang diberikan Nada untuk Asa? Jawabannya tidak ada, selain penyakit HIV/AIDS yang oleh seorang ibu diturunkan pada anaknya, tanpa dijelaskan lebih lanjut bagaimana mereka menghadapi keadaan tersebut di hari-hari berikutnya.

Iklan