Tag

, , ,


Setelah Garasi (Garasi), Noah (Awal Semula) dan juga Slank (Slank Nggak Ada Matinya), kini giliran KOTAK, salah satu band papan atas Indonesia saat ini, menguji kemampuannya di layar lebar. Band yang beranggotakan Tantri, Chua dan Cella ini harus beradu akting dengan aktor hebat seperti Vino G. Bastian dan Deny Sumargo. Semuanya terangkum dalam film Indonesia terbaru ROCK N LOVE yang mulai tayang pada tanggal 29 Januari 2015 dan sudah berhenti tayang di Cinema 21 Bandung pada 4 Februari 2015 (hanya 6 hari).

Film ROCK N LOVE, bercerita tentang persaingan KOTAK menuju salah satu acara festival di Jakarta. Saingan terberat datang dari REBEL YOUTH yang berusaha dengan segala cara menghalangi KOTAK untuk bisa masuk final dan tampil di ajang festival bergengsi tersebut. Film ini dibuka dengan adegan perkelahian antara 3 band yang berhasil lolos, KOTAK, REBEL YOUTH, dan satu lagi (tak perlu diceritakan lebih lanjut karena memang film ini tidak mengeksplorenya lebih jauh), karena memang ini tentang KOTAK VS REBEL YOUTH.

ROCK N LOVE

Penempatan judul ROCK N LOVE sangat tepat. Porsi ROCK dan LOVE dalam film ini memang fifty-fifty. ROCK diwakili dengan persaingan antara KOTAK VS REBEL YOUTH, dan LOVE diwakili oleh drama cinta masing-masing personilnya, namun bukan sekedar itu, ini tentang persahabatan KOTAK, Manager, Kru dan juga Kerabat Kotak (sebutan untuk fans kotak). Tentunya ini tentang keluarga besar KOTAK. Meski begitu, ROCK N LOVE tidak hadir dengan tumpah tindih melainkan saling melengkapi cerita. Di awal cerita, kita sudah diberi tahu mengenai karakter Tantri yang moody-an. Cukup masuk akal, hal tersebut dikarenakan hubungan komunikasi Tantri dengan calon suaminya, Robin (Vino G. Bastian) selalu buntu. Melihat pengembangan karakter yang ada, komunikasi lebih disebabkan pada cara mereka masing-masing menunjukkan cintanya. Natural. Tantri & Robin, seperti saya dan pacar saya, sering berantem, susah komunikasi, selalu salah. Hingga pada akhirnya scene menuntun kita pada perkelahian antara Tantri & Robin. “Cewek memang suka cowok cuek, tapi secuek-cueknya, cewek masih ingin ditanya lagi apa, dimana”. Perkelahian ini menjadi scene pertama yang mencuri perhatian saya, Tantri yang notabene masih pendatang baru di dunia layar lebar, dengan sangat sempurna mengimbangi akting Vino G. Bastian yang hampir tak pernah cacat di setiap filmnya. Bagaimana kelanjutan Tantri & Robin? Putus? Kawin? Tunggu sampai review ini selesai.

Beralih kepada cinta Cella (gitaris yang cowok ya, soalnya yang cantik namanya Chua, dulu juga saya pikir kebalik, heheheh) yang cintanya pada Nadira Alfie tidak direstui oleh orang tuanya Nadira. “Saya kerja, saya punya tabungan, saya punya penghasilan, oia, satu lagi saya bukan penjahat”. Scene ini dilukiskan dengan adegan kilas balik. Memang tidak semua wanita (terutama orangtuanya) bisa menerima keadaan lelaki seperti Cella, yang dandan urakan, namun percayalah akan ada orang lain yang pasti menerima keadaan kita apa adanya. Jujur dari hati yang terdalam. Scene ini menjadi scene kedua, yang juga berhasil mencuri perhatian saya. Memiliki ruh dan bermakna. Lalu bagaimana Cella setelah putus dengan Nadira Alfie? Adakah seseorang yang mau menerima Cella dengan segala kelebihan dan kekurangannya?

Satu lagi Chua. Chua masih jomblo, namun kehadiran Mas Bagus (Dicky Otoy) fans fanatik Chua sedikit membuat Chua “terganggu”. Mas Bagus –meski tidak setampan Robin, tunangan Tantri, bahkan mungkin tidak bisa dibandingkan, heheeh– tapi perhatian dan romantis. Scene ketiga yang mencuri perhatian saya adalah saat KOTAK dan kru bermain basket. Tak disangka, Mas Bagus yang memang sering mengikuti kegiatan Kotak, ikut datang dan berpakaian layaknya pemain basket nasional Denny Sumargo. Anda boleh percaya ini scene komedi yang natural, tidak dibuat-buat, mengalir dan bermakna. Rasanya saya wajib memuji akting Dicky Otoy. Anda yang menonton film Rock N Love, rasanya juga akan sepakat kehadiran Dicky Otoy sebagai fans, membuat film ini lebih berwarna dan ceria. Sesaat kemudian scene diarahkan pada puisi yang dibuat Mas Bagus untuk Chua. Asli lucu, ngalir banget. Chuuuuuaaaaaaaaaa…. Apakah Chua tertarik pada Mas Bagus? Apalagi Mas Baguslah yang mengucapkan selamat ulang tahun pada Chua sehingga semua tersadar kalau hari itu hari ulang tahunnya Chua? Bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka?

Baru saja keceriaan yang mewarnai latihan basket mereka, seketika dikejutkan dengan kedatangan band pesaing mereka REBEL YOUTH yang dimotori oleh Rotor (Ganindra Bimo). Bagi Rotor, Kotak yang bervokaliskan cewek apalagi wajahnya mirip jongos (keterlaluan nih skenario, padahal Tantri cantik loh), tidak cocok menjadi band pesaing mereka. Musikalitas Kotak masih jauh di bawah standar dibanding Rebel Youth. Perkelahian pun tak terhindarkan, kali ini kamera dan efek visual bekerja lebih baik. Kamera lebih fokus menangkap shoot dengan pas ditambah beberapa efek slow motion. Kenapa demikian? Karena adegan perkelahian di awal pembuka film, menurut saya masih goyang, tidak fokus, terkecuali tata musik dan suara yang sedari awal bekerja dengan sangat baik.


Dari 3 band terpilihlah Kotak dan Rebel Youth yang berhasil tampil di sesi berikutnya. Saat Kotak manggung, Rebel Youth menyulut amarah, Aldi (Deny Sumargo) -manajer kotak- dan juga kru kotak. Perkelahian pun tak terhindarkan. Di scene ini penyunting gambar bekerja dengan sangat sempurna. Suntingan bolak-balik menggambarkan adegan kotak beraksi di panggung, lalu ke adegan perkelahian, begitu seterusnya. Sempurna. Saya suka, ini berarti scene ke berapa ya? Oia, scene keempat yang saya suka. Apakah perkelahian selesai? ——– dan Kotak pun selesai manggung, dan menemukan Aldi dan kawan-kawannya bajunya kotor. Aldi yang dari awal perannya memang lebih ke arah mendamaikan konflik baik internal ataupun eksternal band Kotak berusaha tidak memberitahu kejadian yang sebenarny. Dari film ini juga saya bisa belajar bahwa tugas seorang manajer bukan hanya mencarikan job dan atur jadwal bagi artisnya, namun jauh lebih dari sekedar itu. Untuk hal ini pun jempol perlu saya sematkan pada Deny Sumargo, yang menurut saya, dari beberapa filmnya ini akting dia yang paling baik.

Aldi mampu meredam emosi Kotak, namun salah satu kru keceplosan dan bilang kalau mereka digebugin. Tiba-tiba datang seorang gadis berjilbab Anisa (DJ UNA), “saya lihat, band yang sebelum mas tampil gebukin mereka”. (Ah DJ UNA, cari perhatian Cella nih, hehehe) REBEL YOUTH. Wow…ROCK nya dapet. Cella yang merupakan personil laki-laki satu-satunya tak mampu lagi menahan amarahnya. Perkelahian pun tak dapat terhindarkan. Ini scene kelima. Waduh kok banyak ya, bener hampir semua scene ROCK N LOVE saya nikmati. Ditengah perkelahian film dikejutkan kedatangan Robin yang membantu Kotak melawan Rebel Youth, namun apa, adegan ini malah membawa Tantri dan Robin bertengkar lagi. Ahiiy. Chemistry Tantri & Robin dapet. Semoga Arda Naff atau Marsha Timoty nggak cemburu. Makanya pas kan judulnya ROCK N LOVE? “Kalau kalian nggak mau dengerin saya lagi, silakan cari manager lain

KARYA & ATTITUDE

Buat saya seorang artis siapapun itu musisi, aktor atau apapun, akan bertahan karena dua hal, yakni Karya & Attitude. Film Rock N Love pun menghadirkan dua hal ini dengan sangat lugas. Dari segi karya Kotak dan Rebel Youth mungkin sama-sama bagus, namun attitude, Rebel Youth tidak menunjukkan sikap yang baik. Mulai dari penghinaan terhadap sesama musisi rock, aksi meludah di panggung dan menendang penonton. Musik rock tidak dibangun dengan kekuatan otot, melainkan apa yang ada di dalam hati. Sebaliknya Kotak menunjukkan sikap rasa hormat terhadap area pribadi masing-masing, persahabatan dan yang paling penting terhadap musik mereka. Di paruh terakhir film, Cella mengalami cedera tangan (dilakukan oleh Rotor) yang mengakibatkan permainan gitarnya tentu tidak akan sebagus biasanya. Kotak memilih mundur, namun Cella bersikeras tetap main. Disini saya ikut-ikutan menebak gimana ya akhir film ini. Namun ternyata Kotak tetap beraksi, dan gitaris Rebel Youth secara mengejutkan masuk panggung dan ikut bermain bersama Kotak. Dari awal gitaris Rebel Youth ini memang memiliki karakter yang berbeda dengan Rotor, dan juga dia bersahabat baik dengan Cella. Scene yang paling haru (saya beneran nangis tanpa dipaksa) saat Cella berpidato. Gila Rock N Love. Lalu siapa yang memenangkan festival pada akhirnya? Sudah pasti KOTAK, secara ini film mereka. Film kan biasanya harus happy ending. Namun ternyata, pemenang jatuh pada REBEL YOUTH dan tak lama setelah itu film berakhir. Yach, kecewa? Tentu tidak. Dari sini Kotak melalui ROCK N LOVE memberitahu bahwa sejatinya musik bukan hanya sebuah karya yang pantas menjadi nomor satu di panggung festival, tapi juga berbicara tentang attitude.

Film (yang sangat disayangkan sepi peminat ini) adalah film yang bagus dan inspiratif. ROCK N LOVE sangat tepat menaruh porsi ROCK dan LOVE dengan editing yang tidak tumpang tindih tapi saling melengkapi. Mungkin kinerja kamera dan artistik yang sepertinya perlu ditingkatkan lagi. Artistik yang sangat kurang diperhatikan, tercermin pada scene saat Tantri secara tiba-tiba mendatangi kantor Robin membawakan makanan. Saya pikir bukan kantor, tapi rumah Robin. Tidak nampak sama sekali artistik yang menggambarkan itu sebuah kantor. Hanya ada sofa seperti di ruang tamu sebuah rumah. Mungkin dari sini artistik perlu ditambah dengan setting kantor pada umumnya, dan juga tata kamera yang lebih luas shooting keadaan kantor, apakah dimulai dari Tantri mulai memasuki pintu masuk kantor, atau shoot orang-orang yang sedang bekerja. Kehadiran bos Robin (Shae) memang sedikit membantu bahwa scene tersebut sedang berada di kantor. Namun sebagai orang-orang yang berpengalaman di bidang video klip, rasanya penggambaran tidak perlu terus menerus dengan narasi melainkan bisa dengan visualisasi.

Menonton film ini, membuat saya puas dan tidak menyesal keluar dari bioskop. Bagus. Jika diprediksikan beberapa unsur berhasil akan mendapat nominasi penghargaan sebagai berikut:

Film Terbaik
Pemeran Utama Wanita Terbaik : Tantri
Pemeran Pendukung Pria Terbaik : Ganindra Bimo, Deny Sumargo, Dicky Otoy, Vino G. Bastian
Penulis Skenario Asli Terbaik : Syamsul Hadi
Penata Efek Visual Terbaik
Penyunting Gambar Terbaik : Lucky Rais
Penata Suara Terbaik : Crossfade
Penata Musik Terbaik : Tommy
Penata Busana Terbaik : Ome

Oia, masih penasaran bagaimana kisah asmara Tantri, Cella dan Chua. Ternyata Chua tidak menerima mas Bagus sebagai pasangannya, kasian juga ya mas Bagus, Chua malah bertemu dengan Arman (Spencer Jeremiah) di sebuah supermarket akibat trolly belanjaan yang ketuker dengan tidak sengaja, atau entah disengaja. Cella menemukan obat galaunya dari Anisa, sementara Tantri dikejutkan oleh kedatangan Robin yang membawa orangtuanya ke konser terakhirnya padahal sebelumnya Robin harus pergi ke Singapore untuk urusan pekerjan. Kehadiran para tokoh pendukung tiga orang yang jadi kru kotak (kemungkinan sich Erick Estrada, Moron dkk) membuat tawa dalam Rock N Love menjadi segar dan apa adanya. Baik ROCK ataupun LOVE dalam ROCK N LOVE dilukiskan dengan baik. Perjuangan, persahabatan, cinta, sikap, kebersamaan, keluarga, tawa, haru semua lengkap hadir dalam film yang disutradarai oleh Hedy Suryawan ini dengan balutan yang natural dan sederhana namun sangat bisa dinikmati.

Finally, thanks buat Apollo Pictures, kru dan seluruh pemain yang telah menyuguhkan film inspiratif dengan nuansa yang rock alias tidak cengeng, namun pesannya kena dan sampai pada penonton dengan ringan dan bijaksana. Untuk musisi tetap berkarya, bahwa musik bukan sekedar karya tapi juga attitude. Bangga Film Indonesia

Tiket Nonton Rock N Love

Tiket Nonton Rock N Love


Mereka hanya ingin lihat apa yang mereka lihat, mereka hanya ingin dengar apa yang mereka dengar, itu tidak berarti mereka tahu siapa diri kita.

Iklan