Tag

, , , , , , ,


Kenapa Hatiku cenat-cenut tiap ada kamu, u know me so well

Cinta sejati dan sempurna itu ada, tak perlu fisik sempurna untuk kisah cinta sempurna.

Wow, surprisingly, Morgan Oey yang tadinya romantis dengan joged-joged ala korea bersama SM*SH (yang mana saya sangat tidak suka) bisa berubah drastis, romantis dengan kata-kata indah nan puitis. Wah, kalau kalian para cewek, kira-kira lebih suka dinyanyiin cenat-cenut atau digombalin dengan kata-kata indah itu oleh Morgan? Pastinya kalian milih digombalin kan? Jangankan kalian, aktris cantik sekaliber Revalina S. Temat pun bisa tersipu dan terpesona oleh Morgan. Namun itu semua tak nyaata, semua itu hanya ada di film penutup akhir tahun 2014. ASSALAMUALAIKUM BEIJING.

Waalaikumsalam Bandung. Pada awalnya saya tidak tertarik dengan film drama cinta yang judulnya nyerempet-nyerempet Islam, karena pada faktanya judul tersebut hanya dijadikan teknik marketing agar filmnya laku. Bukan tanpa alasan, La Tahzan, adalah film yang paling mengecewakan buat saya, bukan karena filmnya tidak bagus, tapi judul dengan isi kurang muatannya, ya isinya jadi tidak jauh beda dengan drama cinta biasa laiknya Heart atau Ada Apa Dengan Cinta.

Film drama Indonesia sebetulnya klise, pasti ceritanya tentang cinta segitiga, perselingkuhan ditambah dengan salah satu tokohnya menderita sakit parah. Begitu pula Assalamualaikum Beijing. Film ini bercerita tentang sosok Asmara (Revalina S. Temat) yang gagal menikah dengan Dewa (Ibnu Jamil) karena Dewa telah selingkuh dengan Anita (Cynthia Ramlan). Mungkin untuk melupakan rasa sakit hatinya Asmara yang kebetulan diterima kerja di Beijing memutuskan untuk hijrah kesana. Dengan bantuan dan ditemani Sekar (Laudya Cintyha Bella) sahabatnya, ia menjalani hari-hari di Beijing. Hingga takdir menuntunnya bertemu seorang pemuda lokal nan ganteng Zhong Wen (Morgan Oey) dan keduanya saling jatuh cinta. Suatu hari Asmara diketahui menderita penyakit parah, dan ia ingin dirawat di Indonesia, pulanglah Asmara ke Indonesia. Lalu bagaimana dengan Beijing? Bagaimana dengan Zhong Wen? Ikuti kisahnya di bioskop terdekat ya?

TAK TERJEBAK DRAMA RELIGI YANG SUDAH-SUDAH

Drama religi sebelum ini apalagi diangkat dari novel sudah banyak, sebut saja Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Cinta Suci Zahrana dan yang paling mirip dan masih tayang juga adalah Ku Kejar Cinta Ke Negeri Cina. Rupanya Guntur Soeharjanto lebih cermat kali ini, drama klise pada Assalamualaikum Beijing ditatar dengan sangat pas, tidak lebay alias tidak berlebihan. Hampir saja saya membayangkan, porsi Ibnu Jamil yang rela memperjuangkan cintanya untuk Asmara hingga ia menyusulnya ke Beijing, akan mendapat porsi yang berlebih, hingga pikiran saya akan terbang pada film serupa KuKejar Cinta Ke Negeri Cina. Namun, ternyata, porsinya sangat pas, sebagai penguat skenario bahwa Asmara memang betul-betul ingin melupakan Dewa.

Begitu pula saat Zhong Wen meminta restu ibu Asmara (Jajang C. Noer) untuk menikahi Asmara padahal saat itu Asmara sedang terbaring di kamar tidur tanpa sepatah kata. Seketika pikiran saya melayang pada Ayat-ayat Cinta saat Fachri (Fedi Nuril) menikahi Maria (Carissa Puteri) dalam keadaan sakit parah dan terbaring. Disinilah porsi semuanya ditakar dengan sangat pas oleh Guntur Soeharjanto.

ISLAM DALAM FILM

Keenggaan saya menonton film drama religi seperti ini seperti yang saya sebutkan di atas adalah karena Islam biasanya hanya menjadi tempelan dalam film. Namun tidak dengan Assalamualaikum Beijing. Nafas Islam cukup masuk dan mengisi ruh skenario film ini. Salut buat Alim Sudio. Ini memang bukan film 99 Cahaya di Langit Eropa yang lebih menekankan Islam dibanding dramanya, Assalamualaikum Beijing tetap film drama yang berlatarkan Islam. Beberapa skenario yang cukup kental adalah seperti bagaimana Reva menjelaskan bagaimana hukumnya bersentuhan antara laki-laki dan perempuan baligh yang belum mahram, tidak menggurui dan tidak cerewet namun betul-betul inspiratif. Sejarah Islam di China juga dilukiskan Assalamualaikum Beijing dengan cukup tepat, tepat porsi dan penempatannya, melalui narasi-narasi Asmara dan beberapa tempat yang dikunjungi para tokoh utama. Untuk hal ini, saya tidak kecewa, film Assalamualaikum Beijing sangat tepat menaruh porsi Islam dalam filmnya.

Ditinjau dari departemen akting, Revalina kembali mempersembahkan penampilan terbaiknya. Rasanya Reva sangat pas untuk memerankan peran wanita muslimah yang kerudungan. Dua film sebelumnya pun Perempuan Berkalung Sorban (2008) dan Hijrah Cinta (2014) sukses membawa Revalina ke panggung nominasi Pemeran Utama Wanita Terbaik FFI 2009 dan 2014. Semoga lewat Assalamualaikum Beijing, Reva kembali mendapat nominasi serupa bahkan bisa menggondol piala citra. Meski begitu, Reva bukan tampil tanpa cela, ada sedikit yang kurang sreg dalam hati saya ketika Reva beradegan sakit. Ekspresinya kurang konsisten, mungkin bisa juga pengaruh make up dan kostum yang membuat Reva terlalu cantik untuk sakit, tapi terlepas itu semua, Reva, I LOVE U.

Yang paling mencuri perhatian adalah akting Laudya Cintya Bella sebagai Sekar. Nggak nyangka Bella bisa berakting ciamikk dan lucu. Bagi anda yang menyaksikan film Bella, Tak Kemal Maka Tak Sayang (Oktober 2014), mungkin tidak akan terlalu kaget Bella, bisa ngelucu. Namun meski begitu, di Assalamualaikum Beijing, Bella menunjukkan performa meningkat yang luar biasa. Saya sangat suka karakter dan akting Sekar sebagai penggila drama korea, ditambah dengan skenario apik dari Alim Sudio, sekali lagi good job buat Alim Sudio.

CERITA HEBAT ASMA NADIA

Rasanya saya juga jatuh cinta pada Asma Nadia. Setelah dua ceritanya yang diangkat ke layar lebar Emak Ingin Naik Haji dan Rumah Tanpa Jendela, memberikan suguhan yang apik dan inspiratif, kali ini Asma Nadia kembali membuat saya jatuh cinta dengan Assalamualaikum Beijing. Jujur kalau baca novelnya saya belum pernah, saya hanya menyimpulkan nya dari filmnya saja. Film Assalamualaikum Beijing mengangkat Putri Ashima, Legenda Lokal China di Negeri Yunan, sebagai latar novel. Diceritakan bahwa bahwa ada seorang pria mencintai Ashima, …… bla bla bla bla ….., hingga akhirnya terjadi musibah dan singkatnya Ashima menjadi patung batu. Pria tersebut selalu mendatangi patung batu tersebut dan hanya dengan gemanya ia bisa merasakan getarnya cinta putri Ashima. Zhong Wen pun pernah mengajak Asmara untuk mengungjungi patung batu Ashima tesebut bersamanya namun gagal karena Asmara sakit, hingga akhirnya saat mereka sudah menikah kembali ke Beijing keduanya bisa mengunjungi patung batu tersebut. Namun keadaan telah berubah. Dengan di shoot oleh Enggar Budiono, Asmara dan Zhong Wen berbicara dengan latar belakang patung batu Ashima. Saat itu keadaan Asmara tidak bisa berbicara, Zhong Wen hanya bisa merasakan cinta Asmara dari bahasa tubuhnya serupa dengan pria yang mencintai Ashima, karena patung sudah tidak bisa berbicara. Disinilah letak salutnya Asma Nadia, mampu merangkai cerita dengan tidak ada yang mubadzir. Anda penulis wanita hebat, Asma Nadia.

Anda yang menonton film ini pastinya akan berurai air mata. Tadinya saya sendiri gak mau mewek, bahkan tengok kanan kiri pun, temen-temen saya juga pada mewek, tapi apa daya, tata musik Joseph S Djafar melengkapi suasana haru nan romantis di beberapa scene film. Bagaimana film ini melukiskan kisah cinta setia, meski ada tapi jarang ditemukan. Ah, pokoknya banyak quote yang bikin meleleh, nggak akan dijelasin lebih lanjut, nonton aja ya.

Hanyut dalam cerita yang ditawarkan, film ini hadir bukan tanpa kekurangan. Logat Zhong Wen masih Indonesia banget, mungkin biar penonton juga mengerti maksud film. Namun, Guntur Soeharjanto lagi-lagi lebih cermat, kata temen saya yang baca novel, bahwa Zhong When tidak bisa berbicara bahasa Indonesia, namun di film Zhong Wen lancar berbahasa Indonesia, cermatnya dimana? Guntur membuat logika bahwa Zhong Wen adalah seorang tour guide yang tentunya paham bahasa asing lain termasuk Indonesia. Rasanya sang sutradara juga belajar banyak dari film 99 Cahaya di Langit Eropa, yang tanpa dasar yang jelas, Fatma Pasha (Raline Shah) wanita asal Turki mampu berbicara bahasa Indonesia dengan jelas, jadi masih bisa dimaklumilah. Selain itu perpindahan Morgan menjadi seorang mualaf pun terlalu singkat. Namun cukup masuk logika dengan narasi bahwa ia ketemu dengan imam mesjid, mungkin dari sana ia belajar banyak Islam hingga akhirnya menjadi seorang mualaf.

Finally, film produksi Maxima Pictures yang diadaptasi dari novel Asma Nadia berjudul sama ini, murni tentang kesetiaan cinta, hal ini didukung pula oleh narasi ending yang memperlihatkan kebahagiaan Ibnu Jamil bersama anak istrinya. Cinta memang anugerah terindah dari Sang Pencipta terhadap ummatnya, semuanya butuh cinta. Ah pokoknya saya jatuh cinta pada Assalamualaium Beijing. Jatuh cinta pada Revalina, apalagi pada Bella. Keren aktingnya. Intinya hampir seluruh potongan scenenya memiliki ruh dan hadir tanpa sia-sia.

Nah, klo dibuat prediksi sich, sepertinya film ini setidaknya akan masuk di FFI 2015:

Film Terbaik
Sutradara Terbaik – Guntur Soeharjanto
Pemeran Utama Wanita Terbaik – Revalina S. Temat
Pemeran Pendukung Wanita Terbaik – Laudya Cintya Bella
Penulis Skenario Adaptasi Terbaik – Alim Sudio
Pengarah Sinematografi Terbaik – Enggar Budiono
Penyunting Gambar Terbaik – Ryan Purwoko
Penata Musik Terbaik – Joseph S. Djafar
Penata Suara Terbaik – Adityawan Susanto

Akhirnya, selesai sudah review, pesan saya satu, carilah pasangan hidup yang setia, bukan setia karena romantis tapi cari yang seiman dulu, romantis bisa belakangan, ah untungnya ada Sekar dan Suaminya (Deddy Mahendra Desta) yang membuat air mata ini mampu berkolaborasi dengan tawa. Semoga saya juga segera mendapat jodoh wanita yang cantik seperti Revalina S. Temat, menghibur seperti Laudya Cintya Bella dan cerdas seperti penulis Asma Nadia dan tentunya seiman, pastinya Cenat-cenut Romantis. Amin…

Tiket Nonton Assalamualaikum Beijing di BTC pada perdana tayang jam pertama

Tiket Nonton Assalamualaikum Beijing di BTC pada perdana tayang jam pertama

Bangga Film Indonesia.

Iklan