Tag

, , , , , , , , , ,


     Dian Sastrowardoyo is back. Aktris yang berperan sebagai Cinta dalam film Ada Apa Dengan Cinta ini kembali ke dunia layar lebar. Kali ini bukan dipasangkan dengan Rangga (Nicholas Saputra) melainkan dengan aktor watak berbakat Lukman Sardi. Lalu apa yang akan terjadi jika Dian Sastro berduet dengan Lukman Sardi? Jawabannya ada pada film yang baru saja saya dan teman saya tonton, yakni 7/24 (7 Hari 24 Jam) karya sutradara Fajar Nugros.

Film dibuka oleh akting Fandy Christian dan Dahlia Poland, yang sedang bermain film dalam film di bawah sutradara kondang Tyo (Lukman Sardi). Dari awal peran Lukman Sardi cukup mencuri perhatian. Selama 25 menit awal, film menceritakan kronologis yang dilakukan Tyo setelah ia pingsan. Di awal saya rasa banyak gambar/scene yang goyang, terutama saat scene Tania (Dian Sastrowardoyo) dengan bosnya Haris (Ari Wibowo) di tempat kerjanya. Sebetulnya cerita dan latar film ini sangat sederhana, yakni apa yang terjadi pada dua orang ini di sebuah ruangan di rumah sakit ketika mereka sama-sama sakit akibat aktivitas super sibuk yang mereka lakukan, hingga pada akhirnya Tyo divonis menderita penyakit Hepatitis A, dan Tania divonis gejala typus. Lalu apa yang terjadi pada mereka berdua selama 7 hari di rumah sakit? Kawan tentu wajib menontonnya.

Film ini sangat kuat dari departemen skenario dan akting para pemain. Vacuumnya Dian Sastro cukup lama, –terakhir saya tonton akting beliau dalam 3 Doa 3 Cinta yang dipasangkan dengan Nicholas Saputra-, tidak membuat kualitas akting Dian menurun. Aktingnya cukup natural dan yang paling penting kecantikannya tidak pernah memudar, SPEECHLESS SAYA!. Begitu juga dengan Lukman Sardi, aktor serba bisa ini memang paling jago bermain peran. Ia bisa berubah dengan total, menjadi seorang tokoh pemuka agama dalam Sang Pencerah, lalu menjadi pemuda yang gagap dalam Rectoverso bahkan seorang proklamator Bung Hatta dalam Soekarno. Di 7/24 ia berperan sebagai sutradara kondang, dan sukses. Departemen akting diperkuat juga dengan hadirnya Verdi Soelaeman & Hengky Soelaeman sebagai dokter yang menangani mereka. SPEECHLESS SAYA!. Duet maut ayah & anak ini cukup natural dengan balutan skenario yang apik. Lalu hadir Minati Atmanegara, sebagai ibu Tania. Di awal pemain senior ini sudah cukup sukses menampilkan akting ciamik, dimana ekspresi yang begitu natural beliau tampilkan saat beradegan meditasi, namun suara di sekelilingnya menganggu aktivitasnya. Kehadiran Ari Wibowo sebagai bos Tania yang bekerja sebagai pegawai bank juga menunjukkan akting yang natural. Tampilnya tokoh pendukung lain seperti Indra Birowo, Aline Adita, Tiffany Orrie dan Husein Alatas, cukup baik mengimbangi akting Dian Sastrowardoyo dan Lukman Sardi.

poster

Jika film ini mengklaim diri sebagai film komedi romantis, maka di beberapa bagian, film ini bisa dibilang cukup sukses membuat penonton di studio 5 XXI Bandung Trade Center, ketawa-ketiwi. Bagian tersebut diantaranya saat Tyo pub (buang air besar-red) di kasur, dan saat Tyo mengucap skenario Ada Apa Dengan Cinta, “Salah Gue, Salah Temen – Temen Gue”, SPEECHLESS SAYA!. Beberapa adegan visual dibalut dengan editing gambar yang pas, film ini memang berhasil memancing tawa penonton yang memecah kesunyian studio.

Keunggulan lain dari film ini adalah detail skenario yang ditata cukup baik. Meski ada beberapa yang terasa cukup hambar, seperti jokes pertama ketika Tyo divonis hepatitis A, dan Tyo seakan mau ngejokes dengan bilang bahwa dia berarti lulus karena mendapat nilai A. Kenapa dibilang hambar, karena saya lihat penonton belum siap untuk jokes, mengingat skenario sebelumnya dilafalkan cukup serius. Selain itu juga skenario dibuat senatural mungkin salah satunya dengan menghadirkan istilah senior CRM yang mana memang seorang sutradara tentu tidak terlalu paham akan pekerjaan bankir. Dan penulis skenario cukup sukses membuat film ini natural.

Perjalanan Tyo dan Tania dari hari ke hari di rumah sakit, hingga pada hari ketujuh komedi romantis ini berubah menjadi melodrama. Konflik terjadi antara Tyo dan Tania, dengan skenario menyangkutpautkan orangtuanya, 5 tahun menikah, hanya dengan 7 hari 24 jam kamu menyakiti aku, begitu ucap Tania. Skenario seperti ini persis sama ditemukan dalam film Satu Jam Saja, Revalina S. Temat dan Vino G. Bastian yang ternyata Reva awalnya tidak bisa mencintai Vino meski satu jam saja. Sepertinya ini dilakukan agar para penonton lebih mudah menangkap maksud dari judul film dengan isi film. Sah-sah saja, kalau dihitung berarti 7 hari 24 jam sama dengan 8 hari, hehehehe. Konflik melodrama ini bertahan hingga akhir film, Waw, lompatan jauh emosi yang asalnya tertawa menjadi terharu dan menangis. Entah apa yang membuat Fajar Nugros menjadikan melodrama sebagai ending film ini, yang jadinya tidak jauh beda dengan Ada Apa Dengan Cinta atau Heart. Meski ya, itu hak pembuat film, namun saya rasa terlalu dipaksakan dengan ending melodrama, karena justru dengan mengklaim film komedi romantis, seharusnya kenangan yang tersisa adalah keseruannya. Meskipun begitu di penghujung film detail skenario digambarkan dengan cukup baik melalui adegan Tyo memaku dinding untuk memasangkan figura foto dan juga mengenai kunci duplikat, itu menandakan skenario mendapat supervisi yang baik. Saya yakin setidaknya film ini akan masuk di Festival Film Indonesia 2015 kategori Penulis Cerita Asli Terbaik.

Kembali pada cerita, saya sangat suka. Kenapa karena ini pun menyangkut pribadi saya sendiri, dimana Tyo menikahi Tania karena bersama Tania , Tyo merasa nyaman. Tyo yang seorang sutradara dengan Tania yang seorang pegawai bank menjadi pasangan yang saling support. Saya pun bercita-cita menjadi seorang sutradara, dan pacar saya pun (belum istri) berprofesi sebagai pegawai bank, dia (pacar saya) itu pun orang yang percaya akan mimpi saya dan yakin saya mampu mewujudkannya. Menonton film ini seperti berkaca pada kehidupan saya sendiri, inilah yang paling saya acungi jempol, NATURAL. SPEECHLESS SAYA. Dan kalau saya melihat ke kehidupan nyata, banyak kok pasangan seperti Dian Sastrowardoyo dan Lukman Sardi ini.

tiketnonton

Namun meski begitu, entah kenapa saya rasa film ini masih kurang kerasa gregetnya sebagai film komedi romantis, tak ubahnya laiknya seperti menonton sinetron yang tayang di stasiun tv anggota MNC Grup (maklum produksi MNC Pictures juga), untungnya paras cantik Dian Sastro yang menghiasi hampir sepanjang film, membuat saya tidak ingin melewatkannya. Rasanya saya juga perlu bertermakasih pada Affan sang produser dan juga MNC Pictures, karena telah mengembalikan salah satu aktris terbaik Indonesia. SPEECHLESS SAYA!

.
Overall, film ini tetap layak dan recommended untuk ditonton sebagai alternatif dimana sudah empat pekan terakhir film indonesia dipenuhi genre horror, dan bagi anda yang merindukan akting Dian Sastrowardoyo tentunya segera serbu bioskop terdekat di kota anda, sebelum akhirnya turun layar. Finally, film ini sangat NATURAL, senatural cantiknya Dian Sastro, SPEECHLESS SAYA!

Iklan