Tag

, , ,


     Hal yang paling ditunggu dan dinanti-nanti khususnya oleh masyarakat Muslim Indonesia menjelang lebaran adalah penentuan 1 Syawal yang diputuskan melalui sidang itsbat. Malam itsbat itu yang menentukan malam tersebut akan menjadi malam takbiran atau makanan yang sudah siap untuk lebaran dijadikan santap sahur seperti yang pernah terjadi beberapa tahun lalu. Namun begitu, tidak hanya sidang itsbat yang membuat aku deg-degan, masih ada satu hal yang bikin jiwa dan pikiran ini tak tenang. Apakah gerangan kiranya. Yuk kawan kita ikuti ceritanya.


Cerita bermula dari pertemuan dua buah keluarga beberapa bulan yang lalu. Woiz, sudah bisa ketebak kan apa yang mereka bicarakan? Yupz, akan ada sesuatu hal penting yang akan direncanakan mereka untukku dan untuk seorang lainnya. Hari itu adalah hari Rabu tanggal 7 Agustus 2013. Meski aku sedang libur dari pekerjaan kantorku, aku masih sibuk dengan pekerjaan sampinganku. Project e-commerce yang aku ambil harus segera aku selesaikan hari itu juga mengingat deadline dari klien adalah tanggal 10. Hingga akhirnya pada siang hari project tersebut sudah selesai dan tinggal diserahkan ke klien pada waktunya. Woiz lelah juga pikiran ini, hingga akhirnya tanpa sadar aku pun terlelap. Namun belum saja kunikmati empuknya pulau kasur, suara ibu membangunkanku. Astagfirullahaladzim. Aku harus segera bersiap-siap menyambut sesuatu yang penting. Bukan lebaran karena sidang itsbat baru akan diputuskan pada malam harinya. Segera saja aku bergegas mandi, memakai pakaian terbaik dan menunaikan shalat Ashar terlebih dahulu. Waktu sudah menunjukkan pukul empat lebih lima menit. Rupanya ibu dan ayahku serta kedua saudaraku sudah lebih dulu bersiap. Greng..greng..greng. Seketika mobil yang kami tumpangi melaju dengan kecepatan sedang menuju suatu tempat. Jaraknya tidak lebih dari 4 kilometer. Hanya 20 menit, kami sudah tiba di lokasi. Waw… suasana disana sangat ramai. Pastinya kawan-kawan semua penasaran kan lokasi apa yang aku kunjungi. Simak terus lanjutan kisahnya.

    Adzan Magrib pun berkumandang menandai selesainya waktu berpuasa untuk hari itu. Semakin dekat saja kepada saat yang akan bikin aku deg-degan. Kulihat sekeliling sudah banyak berkumpul orang-orang yang wajahnya memang sudah tak asing lagi. Kuputar mataku hingga ke sudut-sudut terjauh, ah rupanya aku ada di rumah orang yang kucintai dan kusayangi. Rasa deg-degan itu semakin menjadi kala perwakilan dari keluarga besarku yang diwakili oleh ayahku menyampaikan niatannya bersilaturahim saat itu. Meski begitu, canda tawa masih menyelimuti suasana. Tibalah saatnya yang punya rumah pun menyampaikan sambutannya. Seakan kami pun sudah tak peduli lagi mengikuti jalannya sidang itsbat malam itu.

    Subhanallah, tak sengaja mataku terarah pada sesosok manusia di sudut kanan rumah. Diakah orang yang akan disandingkan denganku? Diakah orang yang akan menemani hidupku selamanya? Rasanya memang tak mungkin, namun seperti kata Afgan, Jodoh Pasti Bertemu. Malam itulah yang menjadi malam tunangan untukku dan untuknya. Dia adalah wanita idamanku yang Allah berikan untukku. Kukenal dia saat kami berdua sama-sama kuliah di salah satu kampus ternama di Bandung. Sikapnya yang lembut dan senyumnya yang menawan membuat aku jatuh cinta padanya. Anganku terus menerus menelisik kenanganku bersamanya. Tak dirasa kedua keluarga besar sudah selesai memberikan sambutannya. Acara akan diteruskan dengan pemasangan cincin tunangan sebagai tanda keseriusan kami berdua, meski kami sadar seperti kata Raffi Ahmad, Jodoh Ditangan Tuhan. Jantungku serasa berhenti berdetak, masih tak bisa kupercaya apa yang terjadi dihadapanku kala itu. Aku yang mematung tak bisa berbuat banyak. Ah, aku terlalu hanyut dalam pikiranku sendiri, sementara semua orang yang hadir mengalihkan fokusnya pada suara Suryadharma Ali yang mulai terdengar.

    1 Syawal 1434 H bertepatan dengan Hari Kamis tanggal 8 Agustus 2013. Tok Tok Tok. Akhirnya keputusan itu telah dibuat. Kaum muslim Indonesia tidak lagi didera rasa cemas dan deg-degan. Namun tidak denganku, petualanganku belum berakhir sampai disini. Kali ini giliranku untuk berbicara. Sulit ternyata. Kejuaraanku dalam lomba pidato tingkat kota dan provinsi, saat itu seperti tak ada artinya. Rupanya orangtuaku memahami kekakuanku. Ibukupun bersuara seakan-akan menyuarakan apa yang ada di dalam hatiku. Gema takbirpun mengiringi niatku yang Insya Allah suci karena Allah. Seiring dengan berlalunya adzan Isya, sepasang cincin berwarna perak pun telah melingkar di jari manis. Satu di jari manisku dan satu lagi di jari manisnya.

    Kami lanjutkan acaranya dengan Shalat Isya berjamaah yang kemudian ditutup dengan doa. Pintaku saat itu hanya satu, muliakan kami dan sampaikan kami pada pernikahan yang Engkau ridhai. Sebelum akhirnya aku, kedua orangtuaku dan kedua saudaraku pamit, kami mencicipi kue lebaran yang sudah dihidangkan oleh tuan rumah. Malam itu menjadi malam takbiran yang terindah dalam 23 tahun hidupku. Unforgottable Moment.

Tulisan ini diikutkan dalam TjeritaHari Raya yang diselenggarakan oleh @leutikaprio

Iklan