Anda seorang pelajar atau mahasiswa, guru atau dosen, civitas akademika, atau praktisi pendidikan ? Jika, jawaban anda iya, tentu anda sudah tak asing lagi dengan istilah e-learning. Begitu juga anda yang berkecimpung di dunia teknologi informasi, anda tentu sudah sangat akrab dengan istilah itu, karena bisa jadi andalah pembuatnya. 
     Dilihat dari asal-usul kata e-learning terdiri dari dua kata electronic dan learning. Secara harfiah bisa diartikan pembelajaran elektronik. Lalu seperti apa penjelasan lebih jauh tentang e-learning? Sebelum itu, mari kita kilas balik bagaimana metode pembelajaran dari waktu ke waktu. Tak perlu jauh mengenang ke masa lampau, cukup di awal tahun 2000-an. Pada saat itu metode pembelajaran yang diterapkan bisa dibilang klasik. Guru berdiri di depan kelas dan siswa mendengarkan. Sistem ini hanya berpedoman pada buku cetak yang harus dibeli siswa. Metode pembelajaran seperti inipun membosankan bagi kebanyakan pelajar. Akibatnya, ketika guru menerangkan, para siswa mengerjakan pekerjaan lain seperti mengobrol, sms-an, atau bahkan tidur. Dengan sistem seperti ini tentu sangat kecil kemungkinannya untuk menjadikan pelajar sebagai generasi penerus perjuangan bangsa yang berkualitas. 
     Ada juga metode yang lebih menarik yaitu yang kita kenal dengan istilah Team Teaching. Apa itu? Secara sederhana bisa diartikan satu subjek pelajaran, tidak diajar oleh satu pengajar akan tetapi lebih. Biasanya metode ini diterapkan pada subjek yang dominan di jurusannya. Misal subjek Biologi, Fisika dan Kimia untuk jurusan Ilmu Alam, atau Ekonomi, Akuntansi dan Sejarah untuk jurusan Ilmu Sosial. Metode ini cukup menarik dan menjadi alternatif bagi siswa untuk melawan kejenuhan yang ada setiap mengikuti proses pembelajaran. Dengan adanya metode ini, jika siswa tidak menyukai cara mengajar salah satu pengajarnya, ia masih bisa mencintai pengajar yang lain. Dengan demikian, rasa malas pelajar bisa dikurangi dengan adanya metode ini.
     Lalu, di zaman teknologi yang semakin berkembang, apakah metode-metode klasik itu masih digunakan. Tentu saja iya. Hanya saja, akhir-akhir ini berkembang sebuah inovasi baru dalam bidang pendidikan untuk memudahkan pembelajaran. Kenapa saya sebut itu sebagai inovasi? Yuk, kita kenalan dulu, siapa sich inovasi itu. Rogers dalam bukunya Diffussion of Innovation mengartikan inovasi sebagai ide-ide baru, praktik-praktik baru, atau objek-objek yang dapat dirasakan sebagai sesuatu yang baru oleh individu atau masyarakat sasaran. Pengertian baru disini, mengandung makna bukan sekedar baru diketahui oleh pikiran (cognitive), melainkan juga baru karena belum dapat diterima secara luas oleh seluruh warga masyarakat dalam arti sikap (attitude) dan juga baru dalam pengertian belum diterima dan diterapkan oleh seluruh warga masyarakat setempat. Pengertian inovasi tidak hanya terbatas pada benda atau barang hasil produksi, tetapi juga mencakup sikap hidup, perilaku, atau gerakan-gerakan menuju proses perubahan di dalam segala bentuk tata kehidupan masyarakat. Jadi, secara umum, inovasi berarti suatu ide, produk, informasi teknologi, kelembagaan, perilaku, nilai-nilai, dan praktik-praktik baru yang belum banyak diketahui, diterima, dan digunakan/diterapkan oleh sebagian besar warga masyarakat dalam suatu lokalitas tertentu, yang dapat digunakan atau mendorong terjadinya perubahan-perubahan di segala aspek kehidupan masyarakat demi terwujudnya perbaikan mutu setiap individu dan seluruh warga masyarakat yang bersangkutan.
     Nah, segitu dulu perkenalannya, sekarang sudah kenal kan siapa dan apa itu inovasi. Oleh karenanya, e-learning merupakan inovasi baru karena ia merupakan ide, produk atau bahkan bisa dikatakan teknologi baru dalam dunia pendidikan. Sekarang kita saatnya membahas lebih jauh tentang e-learning.
     Apa yang bisa e-learning lakukan?
Screenshoot salah satu fitur e-learning yaitu, fitur belajar online. Siswa bisa belajar mandiri dengan menggunakan media yang lebih interaktif. (sumber : http://www.simdik.com)

    Sesuai namanya, e-learning bisa diartikan sistem belajar mandiri. Siswa tak perlu lagi dipandu oleh guru dalam hal kegiatan belajar mengajar. Secara umum, banyak fitur-fitur yang ditawarkan e-learning. Fitur pertama adalah kotak surat. Siswa maupun guru, selanjutnya disebut warga sekolah dapat mengirim pesan secara mudah dan cepat layaknya penyedia layanan e-mail gratisan. Ada juga fitur media kolaborasi sekolah. Warga sekolah bisa bekerja sama membangun sinergi demi pembelajaran yang baik. Dalam e-learning sudah tersedia media belajar yang interaktif dikemas dalam CD animasi, BSE (buku sekolah elektronik) atau video. Siswa tidak akan merasa bosan dengan media interaktif seperti ini, dibandingkan dengan hanya membaca buku cetak. Sesama warga sekolah pun bisa saling berkonsultasi secara pribadi dengan menggunakan layanan konsultasi online. Kapan saja, siswa membutuhkan saran dari guru BK, mereka dengan mudah mengirim curhatannya secara pribadi kepada guru BK, dan tunggu balasan dari orang yang bersangkutan. Mudah bukan? Daripada kita harus tiap hari datang ke ruang BK, nanti malu karena diejek teman-teman, hm, kok tiap hari curhat sich. Ada juga layanan kamus online. Kita, warga sekolah, tak perlu susah cari-cari kamus hanya untuk menerjemahkan tulisan, apalagi harus membeli kamus tebal yang harganya cukup menguras uang saku. Dengan adanya e-learning semua itu dipermudah. Tak ketinggalan layanan perpustakaan digital yang menjadi nilai plus dari e-learning ini. Proses transaksi seperti peminjaman buku, pengembalian buku, penghitungan denda dan aktivitas lainnya yang berhubungan dengan kegiatan pustakawan akan lebih mudah, cepat dan praktis untuk dikelola, dibandingkan dengan proses manual yang saat ini masih banyak digunakan bahkan oleh sekolah yang sudah RSBI sekalipun.
     Gimana menarik bukan? Hm,. tapi tentunya setiap inovasi yang muncul selain ada nilai plusnya, pasti ada juga nilai minusnya. Dampak utama, inovasi e-learning ini adalah kurangnya komunikasi antara warga sekolah, baik itu antar siswa, guru, maupun sesama warga sekolah lainnya, karena semua tidak dilakukan secara tatap mata akan tetapi melalui jaringan online. Secara psikologis hal ini memang akan mengurangi tingkat daya aktif siswa ataupun tingkat percaya dirinya. Kekurangannya lagi, aplikasi ini tentu harus dibeli, akan tetapi dibanding dengan kita membeli buku setiap tahun, e-learning cocok menjadi alternatif karena bisa dimanfaatkan hingga beberapa tahun. 
     Siapa dibalik kesuksesan e-learning? Kenal dengan istilah programmer? Ya, merekalah yang akan membuat dan terus memperbaharui sistem e-learning, tentunya dengan menerima masukan dari segala pihak. Sekarang ini sudah banyak anak bangsa, yang menguasai teknologi. Apapun kebutuhan manusia yang tadinya sulit untuk diwujudkan dengan teknologi menjadi sangat lebih mudah dan praktis. 
     Semakin hari, zaman semakin berkembang, teknologi semakin maju, dan manusia semakin pintar. Akan banyak lagi inovasi-inovasi yang dikembangkan oleh anak bangsa, tidak hanya dalam bidang pendidikan, akan tetapi meliputi seluruh aspek seperti, sosial budaya, ekonomi, pertahanan, perdagangan, politik dan lain sebagainya demi tercapainya bangsa yang mandiri secara menyeluruh. Mengakhiri tulisan ini, mudah-mudahan banyak anak bangsa yang terus berkreasi dan berinovasi dengan memanfaatkan teknologi yang ada, dan pada akhirnya bangsa kita akan hidup dari hasil peradaban sendiri, tidak tergantung orang atau bangsa lain.

Referensi :
Rogers, Everett M. 1983. Diffussion of Innovation. Canada: The Free Press of Macmillan Publishing Co.

Tulisan ini didedikasikan khusus untuk anak bangsa yang berinovasi demi pembaharuan bangsa. Kalian pun bisa menjadi bagian dari mereka, salah satu caranya dengan mengikuti event blogging compfest 2011. Segera tuangkan ide kalian. Tunggu apalagi, jadilah bagian dari pembaharu bangsa.
Iklan